Sebab Rapuhnya Keyakinan

oleh

jamhuri

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

MPU Bener Meriah Syahadatkan Empat orang warga, itulah tema Serambi Indonesia pada hari Sabtu (15/06/2013).  Empat orang yang disyahadatkan tersebut tinggal di Kampung Tunyang Kecamatan Timang Gajah dan jelas juga informasi melalui berita tersebut bahwa yang menyebarkan dan memasukkan keempat orang tersebut kedalam agama selalin Islam adalah seorang yang biasa menjai muazzin di Kampung tersebut.

HBS (nama samaran penyebar agama non Islam) tersebut adalah orang yang tekun beribadah dan ia telah pindah ke agama lain sejak dua tahun lalu (2012), selama ini ia sering bolak-balik ke Medan, sehingga besar keyakinan kita bahwa HBS menjadi murtad atau pindah agama atau keyakinan adalah di Medan.

Setelah MPU dan Pemerintah Daerah yang berwenang mensyahadatkan kembali keempat warga Tunyang tersebut, tentu belumlah selesai tugas lembaga-lembaga keagamaan tersebut. Kita tidak berani pastikan bahwa keempat warga tersebut sebelum pindah agama merupakan orang yang taat beragama dalam Islam atau mereka hanya sebagai orang Islam keturunan dan orang Islam yang tinggal di wilayah Islam saja, kalau hal yang kedua ini yang terjadi tentu tugas lembaga MPU, Kemenag Kabupaten Bener Meriah ditambah dengan Dinas Syari’at Islam Kabupaten Bener Meriah dan Lembaga Adat tidaklah cukup dengan mensyahadatkan mereka.

Ketika kita melihat berbagai aspek yang dapat kita duga mereka berpindah agama, kita bisa melihat makna bahwa orang yang menyebarkan agama tersebut adalah orang yang taat beribadah karena ia adalah seorang muazzin, masalahnya apakah kita bisa katakan bahwa mereka yang menjadi muazzin adalah orang yang taat beribadah. Boleh jadi dia adalah betul orang yang rajin beribadah (shalat dan Azan), tapi bagaimana pengetahuannya tentang agama Islam, tentu kalau pengetahuannya bagus ia tidak mudah berpindah agama dan juga kalau pengetahuan agamanya bagus pasti ketika ia pindah agama tidak semudah itu ia kembali lagi kepada agama asanya yaitu Islam. Karena itu penulis berkeyakinan muazzin yang dikatakan taat beribadah sebagaimana yang diberitakan belum mempunyai pengetahuan keislaman yang memadai, untuk itu perlu pendampingan dari tokoh agama atau lembaga keagamaan yang ada di Bener Meriah.

Dimikian juga dengan warga yang disyahadatkan tentu pemahaman agama mereka sangat rendah sehingga bujukan perpindahan keyakinan dapat diterima dengan mudah, untuk itu juga pemerintah sangat berperan dalam pendampingan untuk menambah pengetahuan mereka tentang agama Islam. Kita bisa katakan bahwa masyarakat juga secara umum bertanggungjawab tapi pada kenyataannya masyarakat kita kecolongan terhadap kejadian ini, kita juga bisa katakan bahwa kontrol dan prinsip saling menjaga dalam  masyarakat telah pupus tergantikan oleh prinsip individual zaman modern.

Disamping pengetahuan keagamaan yang dangkal sebagai sebab perpindahan keyakinan juga dapat disebabkan oleh rendahnya pengetahuan selain pengetahuan agama (pada era integrasi dan interkoneksi saat ini kedua ilmu ini tidak lagi dibedakan), sehingga bagi masyarakat sulit membedakan apa yang menjadi landasan keyakinan dan apa juga yang menjadi landasan kemajuan dunia, akibatnya masyarakat sering terpengaruh oleh kemajuan dunia dan terseret kepada rusaknya aqidah. Peluang kurangnya ilmu ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang berbeda agama untuk menarik orang berbeda agama masuk kedalam agama mereka dengan mengatakan bahwa agama Islam adalah  agama yang terbelakang, tidak menerima kemajuan dan Agama Islam bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Faktor lain yang dapat membuat orang berpindah agama adalah persoalan ekonomi, masalah ini sudah menjadi kekhawatiran sejak lama bahkan sejak masa rasul, sebagaimana diisyaratkan dalam hadisnya “fakir itu mendekati kepada kufur”. Arti yang bisa kita pahami bahwa masalah ekonomi sangat berpengaruh teradap goyahnya iman atau aqidah seseorang, ditambah lagi dengan semakin sedikitnya lapangan kerja, ladang untuk pertanian dan perkebunan semakin semakin sempit dan kebutuhan sehari-hari semakin meningkat dengan harga kebutuhan semakin hari juga semakin tinggi. Permasalahan ekonomi ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang kehidupannya selalu mencari uang dengan tidak mempertimbangkan keadaan orang lain, ia selalu berbikir bagaimana caranya biar untung kendati orang lain rugi, dalam bahasa umum itu kita kenal dengan nama membungakan uangm renternir. Bahasa yang sering juga kita dengar adalah “rela menukar aqidah walau hanya dengan satu bungkus Indomie”, artinya ketika kemiskinan menjerat masyarakat maka akan semakin mudan masyarakat berpindah keyakinan. Karena itu harus ada sebuah langkah setrategis yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan untuk menandingi para rentenir yang bergrilya di masyarakat.

 



[*] Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments