Menyambut Ramadhan

oleh

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA[*]

 

INSYA ALLAH kita kembali menghadapi bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah, dimana semua orang mendapat rahmat, mendapat ampunan dan pada akhirnya semua orang terbebas dari api neraka. Bulan ramadhan juga diyakini sebagai bulan pembakar dosa, semua dosa yang telah lalu diampuni Allah, yang pada akhirnya manusia menyambut fitrahnya.

Semua orang berupaya agar ibadahnya menjadi lebih baik dari 11 bulan selain bulan ramadhan, karena pada bulan ini semua ibadah wajib dilipat gandakan pahalanya dan ibadah sunat dinilai sama dengan nilai wajib karena itu tidak ada waktu yang kosong dari beribadah pada bulan ramadhan, sampai kepada tidur orang berpuasa juga dinilai sebagai ibadah. Mereka yang sedang menjalankan puasa tidak berani berbuat tidak baik walau sekecil apapun karena mereka tau bahwa diri mereka sedang beribadah.

Disamping shalat wajib dan shalat sunat yang biasa dikerjakan di luar bulan ramadhan, pada bulan ramadhan ditambah lagi dengan ibadah yang lain yaitu berpuasa, tidak makan dan minum serta menahan diri dari perbuatan yang tidak baik lainnya. Orang-orang juga menambah dengan shalat sunat  tarawih yang hanya dilakukan pada bulan ramadhan. Tidak cukup dengan itu sudah menjadi teradisi dikalanan masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat dimana kita tingggal pada khsusnya, menambah amal dengan mengadakan taushiah (ceramah) pada waktu selesai shalat Isya atau shalat tarawih, bahkan tidak jarang yang menambahnya dengan kultum (kuliah tujuh menit) setelah shalat subuh.

Bulan ramadhan merupakan tempat berlatih bagi generasi muda, di sekolah-sekolah mereka mengikuti pesantren kilat dengan materi pembelajaran pendidikan aqidah untuk menguatkan iman para siswa, materi fiqih untuk memperdalam pengetahuan tentang ibadah sehari-hari dan juga pendidikan akhlak untuk membentuk budi pekerti dan sikap para anak didik. Untuk mereka yang sedang duduk di Perguruan Tinggi menjadikan bulan ramadhan sebagai bulan untuk melatih diri, memperkuat mental dan menumbuhkan kepercayaan diri sebagai intelektual muda, upaya ini dilakukan dengan cara berceramah dari menasah (mersah) kemenasan dan dari mesjid ke mesjid.

Kebanggaan orang tua tidak pernah habis apabila anak mereka tampil di depan para jamaah (publik), karena itulah sebenarnya cita-cita dan harapan orang tua ketika anak mereka berada di tengah masyarakat, mereka mampu merubah masyarakat dari sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti, mengajari masyarakat untuk bisa hidup lebih baik dalam zamah yang selalu berubah, mereka juga mampu memberi informasi kepada masyarakat bagaimana menatap kehidupan masa depan yang lebih baik.

Itulah diantara hikmah bulan ramadhan bagi semua orang yang percaya bahwa hanya Tuhan yang berhak disembah, karena kita harus menyerahkan seluruh aktivitas kita kepada-Nya.



[*] Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.

Comments

comments