(Bag 3) Badai yang tak Berkesudahan : Kisah yang Diceritakan

oleh

Oleh : Putra Gara*

Aku selalu meyakini kemungkinan yang tak pernah aku rencanakan. Karena hidup memang ada yang mengaturnya. Begitu pun perjumpaan aku selanjutnya dengan lelaki itu. Pikirku, tak ada yang kebetulan dalam setiap jejak langkah kita, selain takdir memang sudah turut serta, ketentuan Pemilik Hidup juga ada di sana.

“Assalamualaikum…” suara itu pernah aku kenal, dan begitu aku menoleh, aku lihat lelaki itu tengah tersenyum ke arahku.

“Walaikumussalam…” aku pun membalas salamnya sambil meraih tangannya untuk bersalaman.

Pertemuan itu tidak direncanakan sebelumnya, tetapi itulah takdir yang sudah ada. Sejak pagi saat aku keladang bersama beberapa orang, aku ingin melintasi jalan lain untuk pulang.

Tetapi tak disangka malah akhirnya bertemu dengan lelaki misterius yang pernah menjamuku di pondoknya saat hujan lebat beberapa hari lalu.

“Ama dari manakah?” aku memberanikan diri bertanya.

“Dari atas bukit, melihat beberapa tanaman yang pernah kami tanam. Coba ini, lihat – satu tandan pisang sudah masak dan tentu rasanya begitu nikmat bila kita makan bersama. Kebetulan aku masih ada juga air untuk kita minum bila haus. Alangkah baiknya bila kita menikmati pisang ini di tepi Danau Laut tawar… ada gubuk kecil yang pernah aku buat di sana, bila matahari sore bersinar, bongkahan bukit yang memerah terkena sinar matahari memberikan keindahan tersendiri saat kita nikmati…”

Aku terdiam. Bahkan nyaris kaku mendengar kata-katanya yang begitu panjang dengan keakraban yang tidak aku duga sebelumnya.
“Bisakah kita kesana?” lelaki itu bertanya, saat melihatku sepertinya tak percaya pada apa yang ia katakan.

“Bisa Ama… bi-bisa…” jawabku spontan dicampur gugup. “Biar sini kami bawakan pisangnya…”

Lelaki itu tidak menolak. Ia menyerahkan setandan pisang dengan warna masak yang begitu menggoda untuk aku bawa. Lalu aku pun mengikuti langkah kakinya sambil menenteng pisang tersebut. Apakah gerangan yang akan dibicarakannya? Pertanyaan itu melintas dalam diamku, kemisterian tentang sosok lelaki itu memang masih ada dalam benakku.

Tetapi sejak obrolan saat hujan lalu, dan keakraban yang saat ini diperlihatkan, aku yakin bahwa kini lelaki itu telah menemukan kawan bicara yang mungkin bisa membuka semua rahasia yang selama ini ingin aku tahu.

“Nah, disinilah tempat kita. Coba kau tengok, gugusan bukit-bukit itu sangat indah memantul di permukaan danau. Inilah keindahan di negeri kita yang harus kita jaga,” kata lelaki itu, sambil duduk di bangku dekat gubuk kecil yang nampaknya terawat rapih.

Aku ikut duduk di bangku satunya. Meletakkan pisang di meja kayu yang juga tersedia. Ada baling-baling bambu kecil di pojok area yang nampaknya sengaja dibuat sebagai pembatas halaman dari gubuk kecil ini. Bunga-bunga tumbuh di pelatarannya.

Meski sekeliling gubuk ini dilingkari hutan cemara, tetapi muka gubuk tersebut menghadap ke arah Danau Laut Tawar. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa seni tinggi yang dapat menempatkan posisi antara gubuk, halaman, dan juga keindahan Danau Laut Tawar dari ketinggian bukit ini.

“Bisakah aku minta tolong untuk mengambilkan cangkir di dalam gubug?” pertanyaan itu keluar sambil lelaki itu meletakkan bekal minumnya di atas meja.

“Baik Ama…” aku pun melangkah ke dalam. Cangkir yang dimaksud adalah sebuah cangkir bambu yang dibuat dari keterampilan tangan. Ada ukiran khas Gayo di badan cangkir, yang jejak bakarannya menyisakan keindahan seni tersendiri.

Lagi-lagi aku mencurigai lelaki itu. Ia mantan kombatan, memiliki saripati kehidupan dari setiap kata-katanya, juga memiliki pola seni yang mungkin sekaligus ia pelaku seni itu sendiri. Ini semakin menarik buatku, karena semakin aku mengenalnya, justru semakin aku tak tahu siapa dirinya.

“Sebelumnya aku minta maaf kepada kamu, kalau tindakanku selama ini nampak kurang bersahabat. Tetapi sesungguhnya tidak seperti itu…”

“Aku tahu Ama…” potongku. “Justru aku yang minta maaf. Karena sebelumnya aku ingin menyelidiki Ama… siapakah Ama ini sebenarnya… ketidak sopananku itu tentulah tidak baik. Akulah yang salah…”

Dia tertawa… “Apa yang hendak kau selidiki tentang aku? Sebegitu misteriusnyakah diriku?”
Pertanyaannya membutuhkan jawaban. “Tidak juga, Ama… “ kataku, sambil menuangkan air kedalam cangkir bambu, untuk mencairkan keadaan.

“Aku orang lama di Gayo… tetapi juga orang baru…”

Dia mengkernyitkan keningnya. “Maksudnya?” sebuah ketertarikan dari pertanyaannya.

Aku tidak langsung menjawab, sengaja mengatur jeda bicara sekaligus untuk mengetahui, sejauhmana ketertarikan dirinya kepada ceritaku. Dengan begitu, pikirku kami akan bisa saling bercerita dan juga tukar informasi.

“Kamu bukan asal negeri ini?” pertanyaan kedua penuh curiga.

Aku tersenyum. “Aku orang Gayo Ama… Orang Aceh… generasi penerus negeri ini… Hanya saja aku besar dan tumbuh di rantau.”

Lelaki itu meminum airnya. Ia seperti tertarik dengan ceritaku, dan berusaha mencari posisi yang enak mendengar ceritaku. Satu buah pisang aku lihat ia kupas dan dimakannya.

Nampaknya, inilah kesempatanku untuk banyak bicara dan bercerita kepada lelaki misterius itu, yang saat ini justru aku lihat dari raut wajahnya sangat memiliki ketertarikan akan ceritaku.

“Makanlah… lalu ceritalah bila kau ingin bercerita,” ada keegoaan dalam kalimat laki-laki itu. Ia begitu penuh minat untuk mendengar ceritaku, tetapi juga gengsi untuk memintanya langsung.

Namun untuk membuat kami lebih akrab, akhirnya aku pun bercerita; “Sejak kecil aku dirawat oleh Amaku… entah dari usia berapa… karena saat usiaku satu tahun, Ineku telah tiada. Aku tak tahu penyebabnya. Saat aku usia SD, aku baru tahu bahwa aku tidak memiliki Ibu, namun cinta dan kasih sayang Kakek dan Neneklah yang membuatku tumbuh menjadi anak-anak seperti anak yang lainnya, tanpa kekurangan apa pun. Tetapi, siapakah yang bisa menghilangkan rasa rindu akan kedua orang tua. Saat mengetahui aku tak punya Ibu, begitu pun Ayah yang entah dimana, aku sering menyendiri. Tiap hari bila ikut nenek ke ladang kopi, aku serig naik dahan pohon kopi sambil berteriak sekencang-kecangnya memanggil nama Ibu dan Ayahku… dan aku sering juga melihat Nenekku meneteskan butiran bening dari kelopak matanya tiap kali aku memintanya untuk bercerita tentang Ayah dan Ibuku…” aku terdiam sesaat, ada sesak dalam dadaku saat aku mulai bercerita.

Aku lihat lelaki itu memandangku dengan sorot mata dalam. Seperti ingin terus mendengar kisahku.

“Minumlah dulu, agar kau tenang…” kata lelaki itu sambil menyodorkan cangkir bambu kepadaku, seakan ia tahu, kisah yang aku ceritakan membuat hatiku masgul.

Aku menerimanya, meminum sejenak, lalu mengatur nafasku yang sedikit longgar oleh sesak yang tiba-tiba datang.

“Aku sering marah pada keadaan. Sering marah kepada diriku sendiri,” lanjutku… tanpa memperdulikannya lagi apakah lelaki itu memintaku untuk terus bercerita, atau harus diam. Tetapi aku menoleh dan melihat lelaki itu tak berkedip menatapku.

“Teruskan…” katanya, pelan.

Aku sedikit kaget… entah mengapa tiba-tiba aku merasa ia begitu sangat menginginkan ceritaku lebih jauh. Padahal sebelumnya akulah yang sangat ingin tahu siapakah orang yang menjadi perbincangan di kampung-kampung ini. Tetapi saat ini aku hanya melihat dirinya menanti kelanjutan dari kisah cerita masa kecilku. Ini aneh menurutku, tetapi itulah hidup – kita seringkali melihat sesuatu dari luar, dan ternyata keadaan di dalam lebih penuh kejutan.* (Bersambung)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *