Selamatkan Hutan Pantan Terong

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Manusia hidup dalam satu sistem yang saling berhubungan pada rumah besar yang dinamakan bumi. Seperti bersaudara, bumi dan manusia tidak terpisahkan. Bahkan dalam keluarga besar “alam semesta” bumi dalam silsilahnya adalah “kakak tertua” bagi manusia. Sehingga dalam hidup manusia yang harus menyesuaikan diri dengan bumi.

Hubungan yang baik antara manusia dan bumi adalah saling menguntungkan. Manusia bisa tumbuh berkembang, kaya, makmur, bahagia dan terhormat, tetapi bumi tidak bersedih dengan hutannya yang tetap lestari. Alangkah indahnya hidup berdampingan dengan bumi yang tidak dijamah tangan-tangan nakal yang serakah.

Kecuali Tuhan, manusia tidak hidup berdiri sendiri. Manusia dengan bumi seperti satu tubuh. Satu bagian dari tubuh sakit, maka seluruh tubuh terasa sakit. Persoalan lingkungan hidup di bumi ini merupakan universalitas yang tidak memandang suku, adat istiadat, ras dan agama. Sehingga perjuangan melestarikan bumi adalah kewajiban setiap manusia di kolong langit ini.

Akhir-akhir ini di Aceh, di tengah pandemi Covid-19, banjir di mana-mana. Tidak ada daerah di Aceh yang aman dari banjir. Baik banjir genangan maupun banjir bandang. Beberapa faktornya adalah curah hujan yang tinggi, tutupan hutan yang semakin berkurang, drainase yang tidak memadai pada pemukiman yang padat, tata kota yang berantakan dan prilaku tidak terpuji membuang sampah pada saluran air.

Di Aceh Tengah, kawasan Pantan Terong merupakan kawasan strategis yang harus dilestarikan. Bukan saja ketinggiannya 1350 meter, dibandingkan dengan kota Takengon 1200 meter dari permukaan laut, tetapi kawasan tersebut juga curam dan sebagian tebing. Sangat rawan erosi, terutama pada saat musim hujan.

Kondisi terkini, hutan di kawasan wisata itu hanya tinggal yang tidak terjangkau manusia. Hutan-hutan ditebang untuk menanam palawija. Penggunaan pupuk dan pestisida meresap ke dalam tanah dan menjadi sumber air bagi masyarakat Kota Takengon. Akibatnya Pantan Terong hari ini tidak saja mengirim air bah, tetapi juga menjadi sumber penyakit.

Kawasan Pantan Terong yang dulu merupakan “Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” kini menjadi “Penderitaan apalagi yang akan kamu terima?”

“Siapa yang disalahkan?”

“Adalah kita semua”

“Tapi, banyak pejabat punya kebun di sana”

“Lakukan pencegahan menurut kemampuanmu; dengan kekuasaanmu, dengan lisan dan tulisan atau diam sebagai manusia lemah iman”

Besar harapan kita, pejabat dan pengusaha yang memiliki kebun di Pantan Terong menyerahkan lahan yang diusahakannya kepada pemerintah untuk direboisasi. Sikap dan tindakan menghutankan kembali Pantan Terong adalah sungguh perbuatan mulia.

(Mendale, 14 Mei 2020)

Comments

comments