Ketimpangan Pendidikan dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh

oleh

Oleh : Herza Alwanny*

Merebaknya wabah viros corona atau dikenal sebagai covid-19 yang telah terjadi dibeberapa negara termasuk salah satunya adalah negara indonesia dan telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan beberapa sistem ketatanegaraan berubah dengan drastis terutama pada tatanan keperintahan, perekonomian, industri, sosial, hingga pendidikan.

Sistem pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar berganti dari sistem tatap muka yang membutuhkan ruang kelas sebagai media berinteraksi atara guru dan siswa beralih menjadi sistem tatap muka berbasis daring (online).

Pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran berbasis daring merupakan sistem pembelajaran atau metode pembelajaran yang melibatkan tenaga pendidik dan peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar mengajar yang dieksekusi secara terpisah yang harus difasilitasi oleh adanya alat (cetak/elektronik) mekanik atau lainnya.

Data hingga 23 Maret 2020 telah terjadi 579 orang kasus positif, 49 orang meninggal dunia dan 30 orang sembuh mencuatkan pernyataan oleh Presiden Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo untuk “bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah.”

Beberapa kementerian telah mengeluarkan surat edaran untuk memindahkan aktivitas kegiatan belajar mengajar ke dalam rumah dan menciptakan tenaga pendidik untuk lebih proaktif dalam menciptakan sistem pembelajaran jarak jauh.

Berbagai aplikasi telah tersedia seperti zoom, google classroom, media sosial atau media-media lainnya yang mampu mengaktifkan sistem pembelajaran jarak jauh. Namun, ketimpangan terjadi pada sistem pendidikan jarak jauh yang terjadi di negara berkembang seperti halnya Indonesia. sistem pembelajaran jarak jauh yang membutuhkan media sebagai alat penyampaian materi atau pemberian tugas seminimal mungkin adalah handphone.

Selain itu sistem pembelajaran jarak jauh juga membutuhkan pengawasan ketat dari orang tua untuk kelancaran sistem pembelajaran tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan E-Learning (Pembelajaran Jarak Jauh):

  • Untuk peserta didik: siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal
  • Untuk pendidik: berbubahnya para pendidik dari yang smeula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT; kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki kemampuan internet.
  • Proses pembelajaran: kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bajkan antar siswa itu sendiri bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;
  • Kecenderungan mengabaikana aspek bisnis/komersial; proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan,
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet,
  • Kurangnya tenaga yang mengetahu dan memiliki keterampilan internet
  • Kurangnya penguasaan bahasa komputer

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan sosial di bidang pendidikan antara lain:

  • Kualitas Lingkungan Sekolah. Faktor ini meliputi masyarakat dan lingkungan sekitar yang mendukung seorang anak untuk mendapat pendidikan yang baik.
  • Kesempatan Memperoleh Pendidikan yang Berkualitas. Keterbatasan dari segi kualitas pengajar, budaya masyarakat, hingga kemudahan akses ke sekolah juga berpengaruh terhadap mudah atau tidaknya kesempatan seseorang untuk mendapat pendidikan yang berkualitas.
  • Kualitas Lulusan. Semakin baik kualitas lulusan di wilayah tersebut, makin besar pula kesempatan wilayah itu untuk menjadi lebih berkembang dan sejahtera.
  • Fasilitas Pendidikan. Hal ini juga mencakup ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio guru-siswa, dan kualitas guru.

Ketimpangan ini terjadi pada daerah-daerah yang tak mempuni baik dari segi ekonomi ataupun sistem komunikasi yang tak terjaungkau untuk menerapkan sistem pembelajaran e-learning.

Guru atau tendik berhak menentukan sistem pembelajaran yang terbaik bagi peserta didiknya apakah pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran berbasis tugas untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dengan pengawasan serta kerjasama orang tua sambil menunggu penanganan pemerintah terhadap wabah penyakit yang terhadi di negeri ini.

*Herza Alwanny yang akrab disapa eza. Pria 28 tahun ini berasal dari kota Medan dan mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik di Kampung Jeget Ayu, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah. Alumni universitas negeri medan berprinsip “menulislah maka engkau akan mendobrak sejarah.”

Comments

comments