Andalusia sebagai Jembatan Ilmu Pengetahuan ke Dunia Barat

oleh

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Butir-butir ilmu pengetahuan (sains) berkembang pada abad modern di dunia Barat telah dimulai pada abad pertengahan (the dark age), pada abad ini dunia Barat sedang mengalami krisis dan kemunduran dalam bidang intelektual karena pengaruh otoritas Gereja yang mempasung dunia pengetahuan dan alam pikiran.

Selain kemunduran dalam bidang intelektual, juga lemah dan terpecah-pecah dalam bidang politik, dari sisi sosial dan ekonomi lebih primitif bila dibandingkan dengan dunia Islam. Keadaan ini membentuk pandangan imajinatif Barat dan Kristen mengenai Islam, pada abad ke-12 keadaan mulai berubah, penyebaran pemikiran Yunani ke Barat melalui dunia Islam, tempat penyebaran pengetahuan Islam ke dunia Barat berada di Andalusia. (Hugh Goddard, 2013: 193-196).

Andalusia dikenal sejak dikuasai Yunani, kemudian oleh kekaisaran Romawi. Pada zaman Romawi agama Kristen meluas di Andalusia dan setelah itu dikuasai kerajaanVisigoth, yang menjadi pusat kekuasaanya berada di Toledo. Penyaluran ilmu pengetahuan dimulai ketika Toledo jatuh ke tangan Kristen, di Toledo terdapat pusat sekolah tinggi dan pengetahuan Islam pada masa itu.

Ketika Toledo jatuh tahun 1085, orang-orang raja Alfonso VII dari Castilia belum mengenal bahasa Arab dan tidak mampu mempergunakan peninggalan umat Islam. Maka penduduk asli Andalus, yang dikenal dengan muzarabes telah menjadi intelektual, guru, dokter, ahli kimia, ahli filsafat, dan lain-lain yang pernah bekerja sama dengan umat Islam sebelumnya.

Para muzarabes ini kemudian menjalankan tugas dalam mengalirkan ilmu pengetahuan Islam ke Eropa, namun harus mengganti agamanya (menampakkan kekristenan tetapi secara sembunyi tetap melakukan keislamannya, dalam artian bahwa secara rohani Islam tetapi dipaksa masuk Kristen).

Dengan terciptanya istilah muzarabes, ilmu-ilmu Islam sangat mudah masuk ke Eropa, untuk mempermudah penyerapan ilmu di Toledo didirikan Sekolah Tinggi Terjemah.

Pekerjaan ini dipimpin oleh Raymond. Buku-buku yang disalin adalah buku-buku bahasa Arab yang masih tersisa dari pembakaran. Perguruan tinggi di Toledo memakai bahasa selain bahasa Arab, dengan jalan ini berbagai murid negeri Latin tumpah ruah belajar ke Toledo.

Penerjemah-penerjemah Baghdad banyak pindah ke Toledo, terutama berasal dari bangsa Yahudi. Para penerjemah menguasai bahasa Arab, Yahudi, Spanyol, dan Latin. Di antara penerjemah yang terkenal adalah Avendeath (Ibn Daud, bangsa Yahudi) yang menyalin buku astronomi dan astrologi dalam bahasa Latin.

Setelah berakhirnya Bani Umayyah (1031), Andalusia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, Muluk al-Tawa’if (raja-raja kelompok/golongan). Dinasti-dinasti kecil tersebut, antara lain: Bani Abbad di Sevilla, Bani Hud di Zaragoza, Bani Zun Nun di Toledo, Bani Ziri di Granada, dan Bani Hammud di Cordoba dan Malaga.

Sesudah Muluk al-Tawa’if, muncul dinasti Murabitun yang berkuasa pada tahun 1090-1147, kemudian dinasti al-Muwahhidun pada tahun 1147-1232, dan dinasti Bani Nasir pada tahun 1232-1492. Ketiga dinasti tersebut mencapai kemajuan di berbagai bidang dan mengalami zaman keemasan ilmu pengetahuan dengan berhasil memunculkan lembaga-lembaga pendidikan terkenal yang kemudian melahirkan para ilmuwan ternama.

Ilmu pengetahuan berkembang dengan perantaraan bahasa Arab. Orang-orang Andalusia, baik muslim maupun non-muslim mempelajari bahasa Arab sehingga lahir ahli bahasa, di antaranya Ibnu Khuruf, Ibnu al-Hajj, Abu Hasan, Ibnu Asfur, Ibnu Hayyan al-Garnati, dan Ibnu Malik.

Di samping itu juga lahir para filsuf-filsuf besar lahir dalam periode ini, seperti Ibnu Bajjah (Abu Bakar Muhammad bin Yahya) di dunia Barat dikenal dengan nama Avenpace, lahir pada tahun 1802 M di Zaragoza. Ibnu Bajjah adalah filosof muslim dari Spanyol dan yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan Andalusia) wafat pada tahun 1138 M di Fez, Maroko.

Ibnu Thufail (Abu Bakar Muhammad ibnu Abd Malik ibnu Muhammad ibnu Thufail) lahir di Cadix, Granada, Spanyol pada tahun 506 H/1110 M dan wafat pada tahun 581 H/1185 M di Maroko, dan Ibnu Rusyd (Averros). Di bidang kedokteran Andalusia mencapai kejayaannya, Cordoba sebagai salah satu pusat aktivitas medis telah melahirkan ilmuwan terkemuka.

Di antara ilmuwan yang banyak jasanya adalah Ibn Rusyd dengan karyanya Kitab al-Kulliyyat fi al-Thibb, suatu kitab referensi yang dipakai berabad-abad di Eropa.

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa Andalusia laksana jembatan dalam penyeberan ilmu pengetahuan ke dunia Barat hingga mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat. Namun, dunia Barat melupakan dan memutuskan jembatan tersebut dalam hal ini dunia Islam, terlebih khususnya peran Andalusia sebagai jembatan penyebaran ilmu pengetahuan.

Pada abad pertengahan terjadi Perang Salib. Namun, disaat bersamaan sedang terjadi pertukaran intelektual antara kaum muslim dengan umat Kristiani dalam bidang ilmu pengetahuan dengan kegiatan-kegiatan penerjemahan buku, disinilah orang-orang Barat mengetahui pemikiran para filsuf Yunani Kuno maupun para filsuf dunia Islam lainnya seperti al-Kindi, al-Farabi, dan lain-lain.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi Islam saat ini yang sedang duduk di lembaga-lembaga pendidikan jangan sampai melupakan sejarah peradaban Islam yang telah membawa sinar pengetahuan, baik di dunia Islam maupun di dunia Barat. Dalam hal ini, Andalusia mempunyai peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahun ke dunia Barat.

Perkembangan ilmu pengetahuan masa itu berangkat dari pemikiran-pemikiran (falsafah) para filosof yang menghidupkan semangat dan kegairahan jiwa dalam mengkaji, mempelajari, menelaah, dan mencintai segala yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Dewasa ini ribuan orang berbondong-bondong masuk ke perguruan tinggi dengan gelar mahasiswa dan ribuan orang juga keluar dari perguruan tinggi dengan memakai gelar sarjana, pertanyaannya adalah berapa banyak yang benar-benar mencintai ilmu pengetahuan?. Nah!

Bahan Bacaan:
– Hugh Goddard. Sejarah Perjumpaan Islam Kristen: Titik Temu dan Titik Seteru Dua Komunitas Agama Terbesar di Dunia, Terjemahan Zaimuddin dan Zaimul Am. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013.
– Kafwari Ridwam. Dkk. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997.
– Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Kencana, 2011.

*Penulis, Kolumnis LintasGAYO.co. Mahasiswa Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam) Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments