Jurnalis Warga Opini Terbaru

Ali bin Abi Thalib; Pelopor Filsuf Islam


Oleh : Husaini Muzakir Algayoni*

Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis (Hasyimsah Nasution, 2002: 2), lahirnya para filsuf berawal dari penerjemahan naskah-naskah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa dinasti Abbasiyah, tepatnya era pemerintahan al-Makmun (198-218 H).

Sebelum ada filsuf-filsuf Islam yang dipelajari dalam filsafat Islam, seperti: al-Kindi (filsuf Arab, murni berdarah Arab), al-Farabi (guru kedua, filsuf terkemuka dalam bidang logika setelah Aristoteles), dan Ibnu Sina (asy-Syaikh ar-Rais), para filsuf ini lahir di dunia Islam belahan timur (Baghdad) maupun para filsuf muslim yang lahir di belahan barat (Cordoba, Spanyol), seperti: Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd, sudah ada terlebih dahulu filsuf Islam, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib dikenal dengan kecerdasannya dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw “Aku gudang ilmu pengetahuan sedang Ali pintu gerbangnya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, maka hendaklah mendatangi pintunya.” Dari sabda Rasulullah Saw tersebut, tidak heran; ucapan dan nasihat berasal dari Ali memiliki nilai-nilai filosofis yang mendalam.

Kefasihan dalam berkhutbah dan ucapan hikmah filosofisnya dihimpun oleh Sayyid Syarif ar-Rhadi seorang yang setia terhadap ucapan-ucapan Ali, seorang ulama, penyair, dan terpelajar yang menamainya dengan Nahjul Balaghah. Nahj yang berarti cara terbuka jalan, metode atau pola. Sementara Balaghah berarti kefasihan, seni, gaya, dan karangan yang bagus.

Tokoh yang pertama kali memfokuskan perhatiannya (memiliki akses) kepada pemikiran dalam ranah filsafat Islam adalah Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid ar-Rhadi (dalam Mukhtar Latif, 2014: 19) menyebutkan bahwa guru dari semua filsuf Islam adalah Ali bin Abi Thalib, ini tercermin dalam bukunya yang berjudul Nahjul Balaghah. al-Rhadi menyebutkan bahwa kumpulan khutbah ini syarat dengan muatan filsafat ketuhanan, filsafat metafisika, filsafat etika, filsafat estetika, dan filsafat ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial maupun ilmu politik.

Sayid Ali Khamenei dalam bukunya Essence of Tawhid and Lessons from the Nahjul Balaghah, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Fira Adimulya dengan judul “Mendaras Tauhid dan Mengeja Kenabian” menyebutkan bahwa Nahjul Balaghah adalah kumpulan khutbah, surat, dan aforisme Imam Ali bin Abi Thalib yang dihimpun oleh Sayyid Syarif al-Radhi (970 M). Di dalamnya, ada 239 khutbah, 79 surat dan 489 aforisme pilihan yang merangkum tema beragam.

Sementara Murtadha Muthahhari seorang pemikir dan ilmuwan cemerlang yang memiliki karya-karya yang bermutu, dalam bukunya Glimpses of The Nahj al-Balaghah, yang diterjemahkan oleh Arif Mulyadi di bawah judul “Tema-tema Pokok Nahj al-Balaghah ” tema-tema yang terdapat dalam Nahjul Balaghah, setidaknya meliputi: teologi dan metafisika, suluk (jalan mistik) dan ibadah, pemerintahan dan keadilan sosial, ahlulbait dan isu kekhalifahan, hikmah dan nasihat, dunia dan keduniaan, heroisme dan kegagahan, kenabian dan eskatologi, doa dan munajat, kritik masyarakat kontemporer, filsafat sosial, Islam dan Alquran, moralitas, disiplin diri dan kepribadian.

Selain materi yang berkenaan dengan filsafat, Muthahhari juga membedah aforisme Ali dalam kacamata sastra, dengan kata lain bahwa unsur sastra dalam Nahjul Balaghah, menguatkan indikasi bahwa filsafat dan sastra memiliki kedekatan dan keterkaitan sehingga tidak heran karya filsuf seperti Ibn Thufail dengan Hayy bin Yaqdzannya dan Friedrich Nietzsche dengan pemikiran filosofisnya dalam Sabda Zarathustra (Also Sprach Zarathustra) erat kaitannya dengan sastra.

Dalam discourse filsafat Islam para filsuf membahas masalah nabi sangat bervariasi bahkan ada yang mengingkari kenabian. Maka dari itu, manakala membahas konsep kenabian harus membutuhkan nalar yang jernih dan menguasai epistemologi setiap para filsuf sehingga mendapat pemahaman dan penjelasan yang komprehensif.

Kenabian termasuk sekian tema yang telah dibahas dalam Nahjul Balaghah dan suatu diskusi yang bisa membantu memahami salah satu prinsip fundamental Islam, satu prinsip terpenting dan paling asasi ideologi Islam karena untuk menganalisis dan memahami berbagai persoalan pemikiran dan ideologi Islam, prinsip kenabian adalah poros (Sayid Ali Khamenei, 2011: 61).

Dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bahwa Nahjul Balaghah yang dihimpun Sayyid al-Rhadi dengan tema-tema yang beragam hasil dari pemikiran Ali bin Abi Thalib menunjukkan bahwa sebelum para filsuf Islam seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina dan seterusnya membicarakan tema-tema filsafat Islam, ternyata sudah ada terlebih dahulu yang membicarakan tema tersebut, yaitu Ali bin Abi Thalib sehingga menurut hemat penulis menantu dari Rasulullah Saw tersebut merupakan pelopor filsuf Islam dan guru dari semua filsuf Islam sebagaimana yang dikatakan Sayyid al-Rhadi.

Dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya dalam bidang apapun, perlu ditelusuri dan mengenal tokoh secara mendalam sehingga bisa memperoleh informasi atau pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah didengar.

Misalnya saja, filsuf Auguste Comte dikenal sebagai bapak sosiologi, padahal jauh sebelum itu; sudah ada Ibn Khaldun dengan karyanya yang fenomenal yaitu Muqaddimah. Semakin jauh menyelami ilmu pengetahuan, maka kedalaman pengetahuan semakin manis didapatkan. Nah!

*Penulis, KolumnisLintasGAYO.co. Mahasiswa Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam) Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry.

Comments

comments