Inilah Gayo Keber Ari Gayo Sara Sagi Terbaru

Jatuhnya Benteng Pëparik (Bagian 2)


Oleh : Win Wan Nur*

Di bawah rimbunnya pohon Jamblang di tepi telaga Berawang Tasik yang berair jenih laksana kristal, terlindung dari sengatan teriknya matahari. Seorang laki-laki berkulit putih tapi memiliki paras bercirikan raut muka pribumi, bertubuh tambun dengan kumis melintang yang kedua ujungnya lancip mengarah ke atas, duduk bersender dengan menekuk sebelah kaki, meneguk air dari botol standar militernya. Topi bundar militernya dia letakkan di samping. Punggungnya disenderkan ke pohon Jamblang yang tak seberapa besar ini.

Di sekelilingnya, ratusan orang berseragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan garis merah leher yang memegang karaben dan kelewang terselip di pinggang juga melepas lelah. Kumpulan orang-orang dengan ciri fisik sangat beragam ini ada yang duduk di rerumputan dan ada yang berdiri. Beberapa lainnya, sibuk mengisi air dari telaga jernih itu ke dalam botol air masing-masing. Orang-orang berseragam ini, semuanya terlihat begitu hormat bahkan terkesan takut pada laki-laki yang duduk di bawah pohon jamblang ini.

Wajah laki-laki di bawah pohon jamblang itu menyunggingkan senyum. Bau amis darah dan pemandangan tubuh-tubuh manusia-manusia Gayo di kampung Pasir yang baru saja dia luluh lantakkan masih lekat dalam benaknya. Bau darah bercampur bau mesiu dan pemandangan tubuh-tubuh orang-orang Gayo yang tak lagi bernyawa itu adalah bau paling harum dan pemandangan terindah yang pernah dia rasakan.

Ini adalah hari ke-40 dirinya berada di tanah Gayo, memimpin Marsose, pasukan elit Belanda yang anggotanya benar-benar dipilih dari yang terbaik di antara yang terbaik dari berbagai bangsa, ada orang Belanda, Perancis, Swiss, Belgia, Afrika, Ambon, Ambon, Manado, Jawa, juga beberapa orang Nias dan Timor. 40 hari yang dia lewati ini adalah 40 hari tersukses dalam karir kemiliterannya. Sejauh ini hanya kemenangan besar demi kemenangan besar yang dia dapatkan.

“Ide dibentuknya pasukan ini boleh saja datang dari si pribumi Mohammad Syarif itu, tapi kini akulah yang menjadi pemimpinnya dan akulah yang akan mendapat kejayaan dari keberadaannya,” gumamnya.

Laki-laki ini tak pernah lupa, bagaimana menyakitkannya hinaan yang dia terima dari rekan-rekannya sesama perwira militer Belanda, sepulangnya dia bersama pasukannya ke Kuta Raja sehabis melakukan ekspedisi militer pertama ke Tanah Gayo dalam misinya mengejar Sultan Aceh yang baru diangkat yang dikabarkan bersembunyi di Pamar.

Sebenarnya dari awal dia sudah tahu dan merasakan dengan sangat kentara kalau koleganya, para perwira militer eropa totok itu tak pernah rela seorang berdarah campuran seperti dirinya mendapat posisi tinggi, lebih tinggi dari mereka bahkan mendapat penghargaan tinggi dari Negara. Dia sudah merasakan sikap sinis dan ketidak sukaan para perwira eropa totok itu sejak dia masih berada di sekolah kemiliteran.

Mereka merasa dirinya tidak layak mendapatkan posisi lebih tinggi disbanding para perwira eropa totok, karena meski dia punya darah dan nama Belanda tapi darahnya tercemar darah pribumi. Manusia yang belum terlalu lama berevolusi dari orang utan.

Rasa tidak suka para perwira eropa totok itu pada dirinya, dia rasakan semakin menjadi-jadi ketika pemerintah Belanda memeberinya anugerahi Militaire Willems-Orde kelas IV sebagai penghargaan atas keberanian dirinya dalam pertempuran Kuta Tuanku. Para pecundang itu menghembuskan isu kalau dia mendapatkan penghargaan itu bukan karena keberanian ataupun kecakapannya, melainkan karena lobi keluarganya yang turun-temurun memang berkarir di kemiliteran.

Karena itulah dia sama sekali tidak heran ketika para perwira eropa totok tak berguna itu mengetahui kegagalannya dalam ekspedisi pertamanya ke tanah Gayo. Mereka benar-benar merayakannya, mereka seolah seperti baru menemukan gudang amunisi dan menghujaninya dengan sindiran dari berbagai sisi. Jadi kalau hanya ini masalahnya, sebenarnya dia bisa menerima dan tidak akan repot-repot membawanya ke dalam hati.

Tapi yang membuatnya sangat sakit hati adalah kelakuan para totok itu yang mengait-ngaitkan kegagalannya di Gayo dengan isu kegagalan ekspedisi militer paman dari ayahnya di awal-awal perang Aceh dulu.

“ Yah namanya juga Van Daalen, nama keluarga pecundang. Kakeknya jadi pecundang di Kuta Raja, cucunya jadi pecundang di Gayo,” begitulah bisik-bisik yang dia dengar pasca kegagalan misinya di tanah Gayo tiga tahun yang lalu.
Sebagai seorang van Daalen yang sejak dirinya mulai mengenal dunia sudah dicekoki dengan kisah itu. Dia tentu paham belaka, yang dipergunjingkan para perwira totok sok kelas tapi nirprestasi itu tak lain mengacu pada informasi karangan Conrad Busken Huet, si tukang gosip yang mengarang cerita bombastis yang dia jadikan artikel dengan judul Moessonkolonels untuk menyindir kegagalan Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen menaklukkan Kuta Raja pasca gugurnya Jenderal Kohler akibat turunnya hujan.

Alasan kegagalan ini karena turunnya hujan yang menyulitkan komunikasi antar pasukan karena jalan penghubung menuju pantai telah diblokir oleh pejuang Aceh, sebenarnya sangat bisa diterima oleh kalangan militer. Bahkan Koopman, komandan Angkatan Laut yang telah berhasil mendaratkan pasukan pun waktu itu juga menyarankan pasukan untuk kembali berhubung musim penghujan tiba.

Tapi gara-gara tulisan tak berdasar fakta, karangan si bangsat Huet itu, Loudon, si gubernur jendral penjilat yang tak jelas apa prestasinya selama memimpin itu. Jadilah kegagalan ekspedisi militer itu ditimpakan pada paman kakeknya.

Sakit hati dengan perlakuan Loudon pada Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen, pada bulan Mei 1874 ketika ayahnya sendiri berkesempatan bertemu si penjilat itu, ayahnya menolak berjabat tangan. Akibat dari sikapnya mempertahankan kehormatan keluarga itu, ayahnya yang bernama persis sama seperti dirinya Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yang saat itu menjabat kapten, tidak jadi mendapatkan Militaire Willems-Orde yang sebelumnya dijanjikan oleh Loudon. Karena itulah ayahnya begitu bangga dan bahagia, ketika dirinya, anak yang bernama persis sama dengan dirinya, yang sama-sama menapaki karir kemiliteranakhirnya mendapatkan Militaire Willems-Orde yang seharusnya dulu sudah dia dapatkan.

Tapi segala kehormatan itu hancur akibat kegagalannya di Gayo. Kegagalannya menemukan sultan membuat orang-orang kembali mengungkit kisah kegagalan keluarganya dalam karir kemiliteran.

Letnan Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen tak pernah bisa melupakan kisah kegagalannya di ekspedisi militer pertamanya di tanah Gayo itu.

Kisah itu berawal pada tiga tahun yang lalu, seturut jatuhnya keraton Aceh Darussalam di Kuta Raja. Tersiar kabar kalau sisa-sisa ekstrimis Aceh mengangkat sultan yang baru. Waktu itu tersiar kabar kalau, sultan yang baru diangkat ini dibawa oleh pasukannya mengungsi ke Pamar. Sebuah kampung yang dihuni orang-orang berbahasa Aceh, tapi letaknya tidak begitu jauh dari Danau Lut Tawar.

Untuk menuntaskan perlawan Aceh, pemerintah Belanda yang sangat mengetahui kecakapannya, memerintahkan dirinya untuk memimpin pasukan buat menangkap sultan hidup atau mati. Untuk mencapai Pamar, dirinya yang waktu itu masih berpangkat Mayor memilih untuk melintasi wilayah Gayo bagian Lut.

Mengingat posisinya yang berada di pedalaman yang jauh dari pusat kerajaan Aceh. Van Daalen sangat tahu kalau Gayo tak punya pasukan militer yang terorganisir. Berdasarkan pengalamannya di kemiliteran, van Daalen mengetahui dengan persis kalau perlawanan di Gayo sejauh ini tak lebih dari serangan-serangan ngawur bersifat sporadis tanpa dukungan taktik militer yang jelas. Karena itulah ketika pertama kali masuk ke Gayo, terus terang dirinya menganggap remeh kekuatan Gayo.

Pendeknya, di matanya pada saat itu, Gayo hanyalah suku pegunungan, setengah primitif, berkebudayaan rendah dan hanya memiliki senjata apa adanya. Bahkan imajinasinya yang paling liarpun tak bisa membayangkan kalau kelompok ekstrimis dari suku pegunungan ini akan bisa menyulitkan pasukannya, pasukan yang dipimpinnya. Pasukan marsose yang merupakan unit paling elit, gabungan dari seluruh anggota militer terbaik yang diambil dari seluruh wilayah di negeri jajahan ini.

Tapi tanpa dia duga sama sekali, dalam perjalanannya menuju Gayo Lut, pasukan yang dia pimpin mendapat hadangan dari pasukan Gayo di daerah Tengë Besi, tidak jauh dari Bireun, salah satu kota terbesar di pesisir utara Aceh. Sial, dia dan anak buahnya benar-benar dibuat kerepotan oleh bangsat-bangsat pegunungan ini. Pasukannya kocar-kacir. Kejadian yang sama sekali tak pernah bisa dia bayangkan bahkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun.

Alih-alih bergerak maju untuk mengejar sultan. Dia dan pasukannya malah sibuk mempertahankan diri. Untuk mundur dari medan pertempuran saja mereka sudah kerepotan. Manusia-manusia berbudaya rendah ini sering tiba-tiba muncul pada waktu dan dari arah yang sama sekali tidak mereka duga. Hanya berkat pengalaman dan keahlian tempur yang mereka miliki, pasukan yang dia pimpin berhasil lolos dari hadangan pasukan Gayo.

Tapi, meski berhasil lolos, para pejuang Gayo terus mengejar dan menyerbu dengan serangan-serangan kejutan. Alhasil, Marsose, pasukan khusus yang dia pimpin. Pasukan yang paling ditakuti di se antero Hindia karena dikenal kejam dan tanpa ampun inipun gagal menemukan Sultan.

Ketika kesempatan kedua datang, saat Jenderal van Heutz atasannya memerintahnya kembali melakukan ekspedisi militer ke Gayo. Tanpa berpikir dua kali dia langsung mengiyakan, karena ini adalah kesempatan emas buat dirinya mengembalikan reputasinya yang hancur. Kesempatan yang tidak mungkin akan datang dua kali.

Dia semakin bersuka cita menerima tawaran ini karena situasi yang dia hadapi sudah jauh berbeda dibandingkan ekspedisi sebelumnya. Kalau pada ekspedisinya yang pertama, dia benar-benar gelap tentang kekuatan pasukan Gayo. Kali ini berkat Het Gajoland en Zijne Bewoners karya Snock Hurgronje, dia jadi hafal kekuatan dan kelemahan orang-orang Gayo musuhnya sampai ke urusan yang paling detail.

Bahkan dia jauh lebih mengetahui kekuatan dan kelemahan orang Gayo yang akan menjadi lawannya dibandingkan isi perutnya sendiri. Dan inilah buktinya, 40 hari ini, dia menghabisi seluruh perlawanan Gayo sebagaimana mudahnya dia menghabisi semut-semut dalam barisan.

Van Daalen tersadar dari lamunannya dan bangkit dari duduknya. Dia menyapu sekelilingnya dengan sorot matanya yang tajam. Saat ini dia harus segera menyiapkan pasukan dan membuat strategi untuk menghadapi pertempuran berikutnya. Maka dia pun memanggil perwiranya.

“Letnan Scheepens, ” teriaknya dalam bahasa Belanda. Suasana riuh di tempat itu mendadak hening.

Seorang pemuda eropa totok dengan seragam marsose terlihat buru-buru berlari ke arahnya. Tak butuh waktu lama, si eropa totok itu sudah berdiri tegap dan memberi hormat padanya dengan wajah serius.

Melihat itu, van Daalen dalam hati tertawa penuh rasa kemenangan.

“Bawa pasukanmu untuk mensterilkan bukit itu,” perintahnya dengan tegas. Tangannya menunjuk ke sebuah bukit kecil yang ditumbuhi satu pohon pinus besar, tak jauh dari tempatnya duduk.

“Siap komandan,” sahut si letnan muda itu dan segera berbalik menyiapkan anggotanya untuk melaksanakan perintah komandannya.

Baca Juga : Jatuhnya Benteng Pëparik (Bagian 1)

Comments

comments