Kopi Gayo, Kemana Premium Fee dari Koperasi Disalurkan?

oleh
Mahlizar Safdi

Oleh : Mahlizar Safdi*

Akhir-akhir ini viral sekali berita tentang penolakan kopi Gayo oleh beberapa pembeli di Eropa. Pembeli tersebut berasal dari Jerman, Perancis, dan Inggris.

Berita ini pertama kali diterbitkan oleh aceh.tribunnews.com dengan Ibu Rahmah direktur Koperasi Ketiara sebagai narasumber. Kemudian berita ini juga terbit di media lintasgayo.co yang akhirnya viral sebab dibagikan ke berbagai WAG. Dibawah ini Saya mengutip pernyataan Rahmah dalam pemberitaan Serambi Indonesia.

“Pasalnya, hasil penelitian laboratorium internasional, ada temuan kopi arabika Gayo telah terkontaminasi dan mengandung zat kimia jenis glyphosate yang berasal dari obat semprot racun rumput. “Sudah tiga kali kami kirim sample (contoh) kopi konvensional tanpa sertifikat ke beberapa buyer di Eropa. Semuanya ditolak, karena mengandung zat glyphosate,” kata Ketua Koperasi Ketiara, Rahmah, kepada Serambi, Kamis (10/10).”

Perlu dipahami Koperasi Ketiara baru mengirim sample kopinya ke beberapa buyer di Eropa. Jadi belum terjadi trading di antara penjual dan pembeli, namun kak Rahmah memutuskan untuk membatalkan kontrak atas kesepakatan bersama sebagaimana disebutkan dalam kutipan saya berikut ini.

“Akhir-akhir buyer minta kopi bersertifikat glifosat. Daripada kopi dikembalikan, nama baik kita jelek, ya sudah, gagal saja kontraknya,” tutur Rahmah kepada Liputan6.com, Sabtu malam (12/10/2019).

Syarat kopi impor yang steril dari glifosat berlaku ketat di tiga negara tersebut. Namun, pengiriman untuk negara, seperti, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, disebutnya masih belum ada hambatan hingga saat ini.

Dan lagipula kopi yang dikirimkan sebagai sampel adalah kopi yang non-sertifikat, sampel dipilih dari petani secara acak, dan sangat disayangkan dari tiga kali Koperasi Ketiara mengirim sample semuanya mengandung glyphosate diambang batas minimal yang telah ditentukan.

Menurut opini saya, sebenarnya maksud dari pemberitaan ini adalah ingin mengingatkan kita para petani untuk tidak lagi menggunakan Herbisida berbahan kimia berbahaya. Karena, selain tidak bisa masuk pasar eropa sehingga mengakibatkan anjloknya harga kopi gayo karena tidak lagi organik, zat kimia berbahaya juga tidak baik untuk kesehatan keluarga para petani. Tapi disinilah dilema muncul.

Disini saya berbicara sebagai pedagang kecil kopi Gayo dan juga sebagai anak seorang petani Kopi Gayo. Kopi yang diproses secara Organik dihargai sama dengan kopi yang non organik.

Padahal dalam pengerjaanya kopi yang diperlakukan budidayanya secara organik jauh lebih berat pengerjaannya dibandingkan dengan menggunakan herbisida yang hanya menghabiskan sedikit tenaga dengan hasil yang lebih efektif juga efisien.

Sertifikasi organik yang dilakukan terkesan gagal disini. Ini belum lagi timbulnya kecurigaan para petani bahwa koperasi maupun perusahaan pembeli kopi juga sudah kongkalikong dan main mata dengan pengawas agar koperasi dan perusahaan tidak kehilangan premium fee.

Dalam hal ini petani juga dilibatkan ikut berdrama ketika dilakukan audit oleh perusahaan sertifikasi. Namun, tetap saja petani yang disalahkan.

Belum lagi pemerintah, yang lucunya bukan melarang penggunaan herbisida dan pestisida. Well, untuk yang satu ini saya tidak punya bukti akurat, tapi pembicaraan seperti ini seperti sudah menjadi rahasia umum.

Kemudian menyangkut harga, ada hal yang tidak sesuai dengan kenyataan disini, harga kopi Gayo itu selalu diatas harga pasaran kopi di New York. Harga pasaran New York ada di angka 2,5 USD per kilo sedangkan kopi Gayo ada di angka 5,5 USD per kilo.

Tapi petani tetap saja susah, tetap saja harus berhutang kepada tengkulak, bahkan untuk makan sehari hari saja susah. Apalagi harus ikut program organik, pekerjaannya berat, butuh waktu yang lama, dan hasilnya juga sedikit bila dibandingkan dengan kopi yang di semprot Pestisida dan Herbisida ditambah lagi dengan berbagai jenis pupuk kimia, pekerjaannya mudah, cuma butuh waktu sebentar, hasil kopinya pun banyak dan tak berlubang karena hama.

Sedangkan harga jual ke tengkulak sama saja. Maka akan sangat wajar sekali para petani beralih ke pertanian non organik. Iyakan? Emang ada yang mau kerja capek, lama pula, hasil sedikit. Pasti semua orang lebih memilih kerja mudah, cepat, berbuah banyak dan bagus pula.

Saya kira dengan demikian maka pemikiran akan bahaya zat kimia akan segera hilang bahkan dengan naifnya mengesampingkan kemungkinan bahaya zat-zat kimianya. Percayalah kawan, ketika itu menyangkut perut anak-anakmu, semua akan kau lakukan, baik buruk, halal haram akan menjadi persoalan belakangan.

Loh kenapa bisa begitu? Apa tidak ada solusi lain? Ada sih sebenarnya, lagi-lagi ini hanya opini, karena saya tidak ada bukti nyata. Hanya opini dari kenyataan yang saya perhatikan saja, lalu bertanya-tanya kemanakan premium fee selama ini?

Apakah semua koperasi sudah benar dalam mendistribusikan premium fee ini? Kemudian untuk pemerintahan ada yang namanya pajak retribusi, kopi penyumbang pajak retribusi terbesar bagi kedua daerah penghasil kopi Arabika terbesar ketiga dunia ini.

Lalu kemanakah semua pajak tersebut ? adakah dikembalikan kepada para petani kopi ? belum lagi dana CSR perusahaan kopi yang beroperasi di gayo, sudahkah disalurkan dengan tepat ? apakah petani sudah benar benar menerima manfaat dari dana CSR perusahaan ini ? atau bila sudah, apakah dana yang disalurkan sudah sesuai kebutuhan petani Kopi Gayo ?.

Saya rasa jika semuanya sudah bekerja secara baik dan dengan cara yang tepat permasalahan seperti ini tidak akan pernah kita bahas. Semua lini harus saling bersinergi untuk kemajuan negeri diatas awan ini, baik itu Petani, jadi petani itu jangan bebal kepala dan harus jujur, diajarin yang bagus-bagus jangan keras kepala, koperasi dan perusahaan juga harus jujur, jangan suka menyembelih hak hak petani, pemerintah juga harus sadar, bahwa segala aturan harus untuk kepentingan masyarakat banyak.

Dan terakhir, tulisan ini adalah opini yang ditulis dengan emosi yang bercampur, tentu saja banyak sekali kesalahan dalam tulisan ini, sehingga tulisan ini memang tidak layak untuk menjadi referensi apapun, karena ini murni hanyalah opini.

*Pedagang Kopi Kecil-Kecilan tinggal di Takengon

Comments

comments