Opini Terbaru

Tugu Aman Dimot, Rekam Tekad Pejuang Gayo

Catatan: Misna Rahmika*

Kota Takengon, wilayah tengah yang mulai berbenah dan menjadi tujuan wisata. Pesona Danau Laut Tawar menjadi nilai jual utama.

Punggung gunung, jalanan, pusat kota, fasilitas publik berlomba-lomba untuk menjadi pusat perhatian. Menjaga harga diri dengan tak kenal lelah berbenah, demi nama dan eksistensi.

Ketika sebuah zaman mengukur eksistensi dengan seberapa kuat gaung sebuah negeri di media sosial, kota Takengon juga ikut serta mengeluarkan potensi serta kemampuannya. Tidak ketinggalan generasi Gayo juga mulai kreatif dan aktif tampil di berbagai platform yang sedang trend di dunia maya.

Namun, ada yang mulai tersisih ditengah hiruk pikuk nama besar Tanoh Gayo. Identitas, leluhur, budaya daerah perlahan menjadi hal yang tidak lagi krusial dalam unsur sosial.

Setiap jalur sejarah dan jejak leluhur masih menjadi misteri. Masih dalam perdebatan siapa, bagaimana orang Gayo mula bermukim di sekitar Danau Laut Tawar. Hanya sebagian kecil masyarakat yang perduli tentang siapa dan bagaimana leluhurnya membangun negeri. Acuh akan sejarah dan masih baik-baik saja  tanpa identitas daerah.

Sebagai contoh di pusat kota Takengon, sudah berpuluh tahun sebuah tugu dibangun. Tugu yang berusaha mengikat ingatan masyarakat, akan siapa Abu Bakar Aman Dimot. Terlepas dari bagaimana wajah tugu saat ini, sebuah usaha untuk mengenang para pejuang patut dipertahankan dan diwariskan pada generasi Tanoh Gayo.

Berwarna-warni tubuh tugu Aman Dimot, berdiri kokoh di tengah pusat kota Takengon. Sisi-sisi luar tugu di design untuk membuat pengunjung nyaman sembari menikmati pesona lalulintas masyarakat kota.

Lapangan luas disetiap sisi tugu, tampak ramah dengan hamparan rumput hijaunya. Pemerintah kota Takengon, bahkan kini telah berupaya menghadirkan ruang publik diseputaran area luar tugu.

Namun sangat disayangkan, upaya agar tugu Aman Dimot hadir sebagai prasasti tugu perjuangan belum maksimal. Hanya ada satu kalimat yang tertera di salah satu sisi dindingnya, “TUGU AMAN DIMOT Pahlawan Kemerdekaan RI”. Kalimat yang menjelaskan kenapa ia dibangun serta dipajang dipusat kota. Mungkin dimaksudkan sebagai icon atau sekedar mengisi kekosongan ruang publik.

Tugu bersejarah yang sepi cerita tampak luput dari agenda pemerintah daerah. Terkesan terabaikan oleh banyaknya agenda perbaikan dari program-program kota yang sedang sibuk  berjalan saat ini.

Sebagai contoh, satu-satunya ruangan di dalam tugu tampak kehilangan fungsi. Lukisan didinding yang harusnya berkisah, tidak mampu mengundang simpati para pengunjung untuk menghargai.

Ukuran bangunan tugu yang tidak luas, bahkan berbau pesing. Ditambah atap yang mulai renta, serta lantai keramik yang tidak lagi menarik.

Bagian luar tugu tampak tak terawat dengan rumput liar di sela-sela lantai. Begitu pula tanaman-tanaman bunga yang tampak hidup tanpa perawatan.

Tidak ada kesan yang menarik dan pesan tertulis akan kisah heroik di tugu ini. Tugu dibangun hanya sebagai tugu (benda mati). Belum tampak adanya penghargaan. Berdiri tanpa makna. Seperti tidak ada yang merasa bertanggung jawab atas perawatan tugu ini. Menimbulkan kesan, kehadirannya  hanya sebagai lambang belaka.

Kisah kepahlawanan, memang tidak selalu menjadi topik menarik. Ditambah lagi dengan seiring berjaraknya kisah dengan si pendengar. Tutur kisah dari sosok Aman Dimot, menjadi hal yang tak tampak untuk yang bertanya.

Bangunan berdiri untuk publik, namun seloroh cerita hanya bermakna untuk yang tertarik. Dari sudut pandang pribadi penulis,  begitulah Takengon menghadirkan nama Tugu Aman Dimot sebagai bagian dari identitas kotanya.

Sangat diharapkan kontribusi dan kesadaran bersama untuk membangun Tanoh Gayo yang beridentitas. Begitupun, perlunya komitmen pemerintah agar sejarah dan budaya lokal tetap menjadi ciri khas dan nilai utama. Di tengah pertumbuhan generasi dengan arus hidup globalisasi.  

Kota Takengon harus tetap berbenah menjadi kota megah. Namun tidak meninggalkankan, dan mengabaikan sejarah. Baiknya, kita memupuk kembali serta mewarisi semangat, rasa perduli, serta konsep bermartabat dari para pahlawan kemerdekaan. Sebagaimana kekokohan tekad Aman Dimot,  menjadi referensi untuk setiap generasi setelahnya.

Mereka belajar dan mengikhlaskan diri, mengangkat senjata melawan penjajahan atas diri mereka, atas tanah mereka dan atas nama agama. Memilih tetap melawan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Hingga kata merdeka menjadi hadiah dari memperjuangkan kehormatan sebuah bangsa.  

Namun, kenangan akan akhir hidup Abu Bakar Aman Dimot serta ribuan pejuang lainnya tampak temaram. Tidak bergaung sebagaimana luhurnya jalan kisah perjuangan. Terputus nadi untuk negeri, harusnya terkenang berjuang dan tidak berakhir sebagai simbolisasi.

Tidak banyak rangkaian cerita untuk tubuh yang berakhir tak berbentuk. Untuk darah amis bercampur mesiu menjalir. Terabaikan tekad berjuang dimana ajal menarik yang hidup dari kehidupan. Kisah Aman Dimot, terbungkam dalam Tugu yang hanya berdiri dan menunggu entah kapan diakhiri. Mematung dalam harap akan dihargai, bukan hanya sebatas melengkapi identitas sebuah negeri.

Misna Rahmika

*Penulis adalah pemerhati sosial dan penyukavsejarah juga anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Takengon

Comments

comments