Jurnalis Warga Terbaru Wisata

Kota Takengon Mau Dibranding Seperti Apa?


Catatan Singkat : Hadhara*

Belum lama ini Disparpora Aceh Tengah menyelenggarakan sayembara Desain Logo/Branding Pariwisata, menurut saya langkah ini adalah satu program yang apik. Apalagi kalau sayembara tersebut memang melibatkan talent desainer dari putra putri daerah yang berkontribusi.

Sebagaimana dulu, kita bersama Tim pernah menggaungkan program “Ayo Ke Gayo” meski tidak official, slogan ini cukup bisa di ingat di masyarakat, terutama dunia digital. Salah satunya adalah penggunakan hashtag #AyoKeGayo yang menunjukan bukti tersebut, tidak hanya dunia maya ternyata.

Branding tersebut pernah pula dipakai di setidaknya 2 Event Besar skala Regional dan Kabupaten, juga pernah dijadikan Jargon UnOfficial oleh Dinas Pariwisata Aceh Tengah (Menurut Pemaparan Orang Dinas). Baru lambat laun, kita juga menyadari sebenarnya apakah gerakan branding yang kita lakukan sudah menyasar kepada Goal yang palTaing potensial.

Lanjut tentang Branding Kota Takengon.
Dikatakan ide bagus, karena memang selama ini Takengon, Aceh Tengah belum memiliki official branding nama dan desain.

Tujuannya branding tersebut salah satunya adalah peningkatan jumlah wisatawan ataupun sedekar lebih memperkenalkan destinasi, budaya, serta all in one dari sebuah daerah tujuan wisata.

Singkatnya, dengan memiliki nama dan desain, orang lebih mudah ingat, juga lebih melekat menyebut kota kita dalam 1-3 kata saja.

Meski demikian, sebagai wujud peduli meski hanya dalam ulasan singkat kami ingin memberikan sedikit saran serta pandangan untuk kota kita tercinta.

Mengacu ke topik utama setidaknya ada 3 point yang ingin saya sampaikan :
1. Kita ingin branding sebagai apa?
2. Apakah kita ingin mengenal lebih luas nama apa yang sudah populer atau mempopulerkan sebuah nama?
3. Apakah tujuan branding itu juga diharapkan menyasar calon wisatawan dari media digital?

Mari kita bahas satu persatu..
Pertama. Kita ingin di branding sebagai Apa? Apakah Sebagai “GAYO” , “ACEH TENGAH” atau “TAKENGON” karena membranding beberapa nama sekaligus butuh Efek lebih untuk membuatnya melekat.

Kedua, apakah kita ingin memperkenalkan Lebih luas nama yang popular atau mempopulerkan sebuah nama? Berikut hasil riset Digital kami yang bersifat perkiraan perhitungan pencarian “KATA KUNCI” yang diketik di Google per bulan.

Untuk Kata Kunci WISATA GAYO, sekitar 90 kali pencarian selama sebulan, WISATA TAKENGON, sekitar 1000 kali pencarian di Google, sedangkan WISATA ACEH TENGAH juga diketik 90 kali.

Melihat dari trend pencarian, kata kunci Wisata Takengon jauh lebih populer versi Google Search Engine.

Kembali kepada pertanyaan dasar, apakah kita ingin menggunakan kata kunci Wisata Takengon yang lebih popular untuk semakin dikenal dengan luas ? Atau membranding nama lain seperti Wisata Aceh Tengah atau Wisata Gayo??

Ketiga, Apakah kira kira efek dari branding tersebut menyasara pengunjung wisata lewat media digital? Jika benar, maka strategi dan factor trend tersebut sebaiknya masuk menjadi “Ide Branding Pariwisata.”

Dalam Tulisan ini, saya lampirkan hasil suggestion keyword. Sekedar gambaran pertimbangan, jIka queri GAYO, TAKENGON dan ACEH TENGAH dipisahkan dari kata Wisata, maka inilah hasil perkiraan volume penelusuran Google Perbulan.

ACEH TENGAH = 1300 penelusan, GAYO = 2400 penelusan. TAKENGON = 3600 penelusuran. Jika ingin dikaitkan sebagai daerah penghasil KOPI GAYO berikut hasilnya : KOPI GAYO = 4400 penelusuran, KOPI ACEH TENGAH = 10 penelusuran, KOPI TAKENGON = 170 penelusuran.

*Putra Gayo kini menetap di Bandung

Comments

comments