Opini Terbaru

Pikiran Sempit, Oh No!


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Apa yang tergambar dalam pikiran anda, seandainya lawan bicara atau teman diskusi anda mempunyai pikiran sempit? Para pembaca budiman bisa menilainya sendiri. Bagi penulis berhadapan dengan orang yang berpikiran sempit sulit berdiskusi karena menganggap dirinya lah paling benar secara absolut dan mengklaim argumen orang lain salah di matanya. Sebaliknya berdiskusi dengan orang yang berwawasan luas terasa indah dan penuh kenikmatan karena bertambahnya pengetahuan dari berbagai sudut pandang.

Lihat saja betapa cerewetnya orang-orang berpikiran sempit di dunia media sosial, segala hal dikomentari tanpa mengetahui persoalan secara mendalam dan menyeluruh. Seolah-olah paling tahu padahal syok tahu dan tidak ada rasa ingin tahu karena malas mencari tahu maka tak heran lidahnya tajam sementara pikirannya begitu tumpul.

Berpikiran sempit diistilahkan dengan filistin, yang mana istilah ini berasal dari Jerman pada abad ke-18 dimana para pelajar menyebut orang desa yang tidak berpendidikan sebagai ‘filister.’ Sejak saat itu, kata filistin biasa digunakan sebagai panggilan untuk orang yang tidak peka terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sekitarnya. Orang yang tidak mempunyai kepekaan dalam hidup adalah orang egois yang ingin menang sendiri, tidak ada empati antar sesama; itulah filistin karena sempitnya dan dangkalnya berpikir.

Filistin yang berpikiran sempit merupakan lawan atau kebalikan dari para filsuf yang cenderung mempunyai pikiran dan wawasan luas karena rasa ingin tahunya yang kuat dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan Allah juga menjadikan manusia sebagai makhluk termulia di alam raya karena adanya akal untuk berpikir sebagai pelita yang tak akan kunjung padam. Oleh karena itu, masih berada dalam suasana pikiran sempit, oh no!.

Para filsuf dalam memperoleh pengetahuan berangkat dari pertanyaan filosofis, adapun pertanyaan filosofis dalam ranah filsafat terdapat empat jenis pertanyaan. Pertama, pertanyaan tentang sifat dasar yang disebut dengan matafisis (secara hakiki tidak dapat dialami panca indera), seperti mengajukan pertanyaan “Apa sebenarnya waktu itu?.

Kedua, pertanyaan yang menghidupkan ide atau disebut dengan epistemologis, yang mana epistemologis merupakan cabang filsafat yang memahami asal-usul atau dari mana asal sesuatu. Oleh karena itu, pertanyaan ini bisa diajukan seperti bagaimana informasi itu kamu tahu? pendekatan epistemologis ini bisa menghindari informasi-informasi hoax yang semakin gencar akhir-akhir ini.

Ketiga, bersifat pertanyaan etis yaitu sifat kehidupan yang baik, misalnya bagaimana cara hidup dan yang keempat yaitu mengajukan pertanyaan yang bersifat politik seperti bagaimana cara mengatur dan lain sebagainya.

Rasis

Bersikap rasis salah satu tanda orang berpikiran sempit, rasisme merupakan sikap yang membenarkan ketidaksamaan sosial, eksploitasi, dan peperangan di antara orang-orang yang pada kenyataannya termasuk ras-ras yang berbeda. Rasisme mereduksi kodrat sosial manusia pada ciri-ciri biologis dan rasial mereka, ia secara sewenang-wenang membagi ras-ras itu ke dalam ras-ras yang ‘unggul’ dan ‘lebih rendah.’

Di Jerman, pada zaman jayanya Nazi, rasisme merupakan ideologi resmi yang dipergunakan untuk membenarkan perang-perang yang agresif dan pembantaian masa. Purbasangka rasila dinyatakan secara terang-terangan di Amerika Serikat dalam hubungan mereka dengan penduduk berkulit hitam. Mereka yang berkulit hitam diperlakukan sebagai jenis manusia yang lebih rendah. (Lorens Bagus, Kamus Filsafat).

Musuh terbesar dalam dunia sepak bola adalah sikap rasis kepada orang yang berbeda warna kulit (kulit hitam), suporter fanatik yang berkulit putih tidak segan-segan melontarkan hinaan dan cacian kepada pemain lawan yang berkulit hitam.

Bagi yang berkulit putih merasa paling unggul dan menganggap berkulit hitam jenis manusia yang lebih rendah, perbedaan warna kulit menjadi topik hangat dibelahan dunia Barat yang sekalipun notabene negaranya menganut paham demokrasi seperti Amerika Serikat.

Selain perbedaan warna kulit, perbedaan suku juga sering terjadi konflik dalam kehidupan sosial. Faktor yang menyebabkan terjadinya konflik karena fanatisme kesukuan, lagi-lagi merasa paling unggul dan menganggap yang lain rendah sehingga terjadi permusuhan dan pertikaian antar sesama, baik dalam bentuk fisik maupun perang kata-kata.

Zaman now dengan alat komunikasi canggih merendahkan dan menghina suku orang lain bisa diekspresikan lewat kata-kata di media sosial, kata-kata tersebut menurut hemat penulis tak perlu dihiraukan karena kata tersebut hanyalah sampah dari orang-orang yang berpikiran sempit, akalnya pendek, dan kurang pergaulan dengan komunitas yang berbeda dalam kehidupan sosial.

Salah satu faktor lahirnya perbedaan dan terjadinya konflik karena fanatisme kesukuan sehingga terjadi perpecahan yang mengakibatkan rasa persaudaraan dan persatuan menjadi hancur berantakan.

Sebelum terjadinya pengelompokan yang dilakukan oleh aliran Khawarij dan lainnya terlebih dahulu disulut pertentangan antara kabilah-kabilah Rabi’ dan kabilah-kabilah Mudhar pada masa jahiliah, ketika Islam datang diredam oleh Rasulullah dan kembali muncul setelah beliau wafat yang disulut golongan Khawarij dari kalangan kabilah Rabi’. Dari kejadian tersebut lahir berbagai macam aliran dalam tubuh Islam sehingga banyak terjadi perbedaan maupun konflik diantara umat Islam.

Berpikiran sempit merupakan manusia berbahaya dalam kehidupan sosial, untuk menghindarinya perlu menggunakan akal untuk berpikir, membuka cakrawala pemikiran yang luas dengan melihat berbagai macam sudut pandang.

Memperbanyak literasi-literasi dan mencari tahu secara mendalam dan menyeluruh sehingga ketika terjadi perbedaan tidak terjatuh ke dalam lembah rasis yang merupakan penyakit berbahaya dalam kehidupan sosial.

Perbedaan adalah rahmat dalam kehidupan. Namun, rahmat itu sirna bagi orang-orang berpikiran sempit. Semoga kita bagian dari golongan yang mendapat rahmat dalam segala hal perbedaan dalam kehidupan alam semesta sehingga menciptakan harmoni indah disetiap peredarannya. Pikiran sempit, oh no!.

Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments