Catatan Redaksi Sara Sagi Terbaru

Saat Ibu Negara “Membidik” Warga Negara


Oleh : Muhammad Syukri*

Di era penggunaan kamera manual, kamera hanya dimiliki oleh beberapa orang yang profesi dan usahanya memang sebagai fotografer atau juru foto. Waktu itu, belum semua orang mahir menggunakan kamera karena kepahaman terhadap teknik fotografi hanya dikuasai oleh mereka yang sudah melewati latihan atau pendidikan fotografi. Fotografer waktu itu lebih kapada sebuah lapangan kerja, sehingga setiap ada acara tertentu selalu dipanggil untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting.

Dewasa ini, di pasaran tersedia berbagai jenis kamera digital, mulai dari pocket camera, kamera HP sampai kepada professional camera yang memiliki resolusi gambar tinggi. Menggunakan kamera digital tidak sesulit mengoperasionalkan kamera manual. Malah dengan pocket camera, sambil berlaripun dapat menghasilkan karya fotografi, begitulah mudahnya menggunakan kamera digital. Walaupun kualitas obyek fotografi yang dipetik terkadang kurang fokus.

Apakah fotografi itu? Dalam Wikipedia disebutkan bahwa fotografi (dalam bahasa Inggris photography) yang berasal dari kata Yunani yaitu “Fos” berarti cahaya dan “grafo” berarti melukis/menulis. Fotografi adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Dengan demikian, fotografi sebuah proses atau metode untuk menghasilkan gambar dari sebuah obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya.

Gempa Gayo dalam rekaman lensa ibu Ani Yudoyono.

Memotret atau merekam sebuah pantulan cahaya yang dikenal dengan aktivitas fotografi, kini bukan sepenuhnya milik profesi tertentu, tetapi dapat dilakukan oleh semua orang. Banyak kita temukan di dunia maya karya fotografi berkualitas yang dihasilkan anak-anak, remaja dan fotografer amatir. Realitas itu makin membuktikan bahwa aktivitas fotografi sudah menjadi bagian dari kehidupan, menjadi hobi dan kegemaran, makanya tidak aneh jika Ibu Ani SBY tidak pernah lepas dari kamera dengan lensa tele berwarna silver.

Saat menyaksikan Ibu Ani SBY membidikkan kameranya, masyarakat bertanya-tanya, momen apa yang sedang direkam ibu negara itu? Kemudian, Ibu Ani SBY menjawabnya dengan meluncurkan sebuah buku, Jumat (28/10/2011) yang berjudul “The Colours of Harmony, a Photography Journey.” Buku itu berisi kumpulan foto yang merupakan perjalanan hidupnya dalam menemukan keindahan yang ada disekitar kita.

Di era penggunaan kamera manual, kamera hanya dimiliki oleh beberapa orang yang profesi dan usahanya memang sebagai fotografer atau juru foto. Waktu itu, belum semua orang mahir menggunakan kamera karena kepahaman terhadap teknik fotografi hanya dikuasai oleh mereka yang sudah melewati latihan atau pendidikan fotografi. Fotografer waktu itu lebih kapada sebuah lapangan kerja, sehingga setiap ada acara tertentu selalu dipanggil untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting.

Dewasa ini, di pasaran tersedia berbagai jenis kamera digital, mulai dari pocket camera, kamera HP sampai kepada professional camera yang memiliki resolusi gambar tinggi. Menggunakan kamera digital tidak sesulit mengoperasionalkan kamera manual. Malah dengan pocket camera, sambil berlaripun dapat menghasilkan karya fotografi, begitulah mudahnya menggunakan kamera digital. Walaupun kualitas obyek fotografi yang dipetik terkadang kurang fokus.

Apakah fotografi itu? Dalam Wikipedia disebutkan bahwa fotografi (dalam bahasa Inggris photography) yang berasal dari kata Yunani yaitu “Fos” berarti cahaya dan “grafo” berarti melukis/menulis. Fotografi adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Dengan demikian, fotografi sebuah proses atau metode untuk menghasilkan gambar dari sebuah obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya.

Memotret atau merekam sebuah pantulan cahaya yang dikenal dengan aktivitas fotografi, kini bukan sepenuhnya milik profesi tertentu, tetapi dapat dilakukan oleh semua orang. Banyak kita temukan di dunia maya karya fotografi berkualitas yang dihasilkan anak-anak, remaja dan fotografer amatir. Realitas itu makin membuktikan bahwa aktivitas fotografi sudah menjadi bagian dari kehidupan, menjadi hobi dan kegemaran, makanya tidak aneh jika Ibu Ani SBY tidak pernah lepas dari kamera dengan lensa tele berwarna silver.

Saat menyaksikan Ibu Ani SBY membidikkan kameranya, masyarakat bertanya-tanya, momen apa yang sedang direkam ibu negara itu? Kemudian, Ibu Ani SBY menjawabnya dengan meluncurkan sebuah buku, Jumat (28/10/2011) yang berjudul “The Colours of Harmony, a Photography Journey.” Buku itu berisi kumpulan foto yang merupakan perjalanan hidupnya dalam menemukan keindahan yang ada disekitar kita.

Menurut Ibu Ani SBY, saya sangat senang, tustel zaman sekarang tustel digital. Jauh lebih canggih dari zaman dulu. Enggak perlu negatif, motret jadi ringan dan menyenangkan. Kalau enggak pas, tinggal dihapus dalam sekejap (sumber: tempointeraktif online).

Karya fotografi Ibu Ani SBY mengambil angle yang jarang diambil orang lain. Ibu Ani SBY bisa merekam obyek yang tidak dizinkan untuk dipotret, seperti karya fotografi tentang defile militer pada perayaan Hari Republik India, foto dua jet Shukoi TNI AU yang diambil dari pesawat kepresidenan, foto nuansa keindahan Istana kepresidenan di Yogyakarta, Bogor, dan Cipanas. Barangkali masih banyak foto-foto tentang bagian dalam Istana, termasuk aktivitas orang-orang disana yang belum dipamerankan .

Walaupun tingkat kesibukannya sebagai ibu negara sangat padat, namun naluri keibuannya tetap muncul dari karya foto yang dipamerkan. Misalnya dia memotret keindahan bunga, termasuk Aira cucunya juga menjadi obyek pemotretan. Termasuk juga perhatiannya terhadap kelestarian lingkungan, seperti foto kupu-kupu yang mengisap sari bunga, capung jarum oranye, kawanan burung parkit, sepasang rusa beradu tanduk di Istana Bogor sampai kepada bunglon pun tak luput dari bidikan Ibu Ani (sumber: rakyatmerdekaonline.com)

Bagi mereka yang berada di daerah, hanya bisa melihat Ibu Ani SBY sedang memotret melalui layar televisi tetapi belum pernah melihat hasil karyanya. Masyarakat hanya tahu, Ibu Ani SBY sekarang sudah menjadi fotografer seperti wartawan yang sering duduk di pinggir lapangan sepakbola dengan kamera yang dilengkapi tele lens.

Masyarakat sesungguhnya ingin mengetahui, obyek apa saja yang dibidik Ibu Ani SBY, karena dari obyek yang diambil akan dapat dipahami apa yang ada dalam pemikiran ibu negara saat itu. Seperti digambarkan oleh ilmu psikologi dalam metode analisis hasil karya bahwa karya dapat dianggap sebagai pencetus dari keadaan jiwa seseorang.

Barangkali, supaya masyarakat dapat menikmati karya-karyanya, tidak ada salahnya diupload dalam sebuah situs khusus sehingga masyarakat dari seluruh Indonesia bisa mengaksesnya. Siapa tahu, atau barangkali saja kita yang menjadi obyek fotografi Ibu Ani SBY, tentu sangat bangga. Seorang ibu negara memotret warga negara yang sedang beraktivitas, itu pasti sebuah karya yang langka.

Pastinya, hasil karya fotografi Ibu Ani SBY bisa bercerita tentang apa yang sedang terjadi saat itu. Sebab, sebuah karya fotografi memiliki sebuah pesan yang bisa dibaca oleh orang lain. Lanjutkan hobinya Ibu Ani, semoga hasil karya fotografi itu menjadi bagian dari catatan dan kelengkapan sejarah bangsa yang dilihat dari podium kehormatan oleh seorang ibu negara.

*Tulisan ini telah dimuat di kompasiana.com, dengan link https://www.kompasiana.com/muhammadsyukri/55109042813311d538bc6903/saat-ibu-negara-membidik-warga-negara

Comments

comments