Opini Terbaru

Pertumbuhan, Ketimpangan dan Kemiskinan


Oleh : Irham Iskandar*

Pertumbuhan, ketimpangan dan kemiskinan adalah tiga konsep yang saling terkait satu sama lain. Oleh karena itu, jika ada satu yang berubah maka secara otomatis akan merubah yang lainnya. Hakekatnya, keterkaitan ketiga hal tersebut perlu dipahami secara baik oleh masyarakat, karena pandangannya akan masalah tersebut akan berujung pada partisipasi politik, demikian juga dengan peran birokrat yang kebijakannya akan berdampak pada hayat hidup orang banyak (masyarakat).

Pertumbuhan sering diistilahkan sebagai pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi mengukur naik turunnya rata-rata kesejahteraan, atau rata-rata pendapatan. Jadi yang diukur adalah berapa rata-rata dari pendapatan semua penduduk dalam sebuah perekonomian atau menjumlahkan total pendapatan semua penduduk di suatu negara kemudian membaginya dengan total jumlah penduduk di negara tersebut
Ketimpangan mengukur seberapa merata pendapatan atau kesejahteraan itu didistribusikan pada masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi bisa tinggi jika pendapatan rata-rata meningkat walaupun yang meningkat pendapatannya hanya sekelompok orang. Pendapatan rata-rata juga bisa saja meningkat pesat jika suatu kelompok mengalami penurunan pendapatan tetapi kelompok lain mengalami peningkatan yang jauh lebih tinggi.

Demikian juga, kemiskinan untuk mengukur seberapa besar proporsi penduduk suatu negara yang kesejahteraannya lebih rendah dari suatu standar tertentu. Biasanya banyak standar yang umum dipakai, seperti standar kalori minimum yang diperlukan untuk orang bisa bertahan hidup.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan, ketimpangan dan kemiskinan yang memiliki sudut pandang berbeda ternyata memiliki pandangan yang sama yaitu kesejahteraan.

Lebih lanjut, bagaimana hubungan antara pertumbuhan, ketimpangan dan kemiskinan tidak berlaku universal.

Francois Bourguignon dalam Anshory (2018) pernah merangkumnya yang disebut dengan growth-poverty-inequality triangle. Akan tetapi berdasarkan literatur teoritis dan empiris, keterkaitan dari tiga aspek tersebut bisa dirangkum sebagai berikut:

Pertama, pertumbuhan ekonomi akan diikuti dengan pengurangan kemiskinan kalau minimal kelompok masyarakat yang termiskin juga meningkat pendapatannya. Dengan kata lain perubahan pendapatan kelompok miskin berkontribusi terhadap kenaikan pendapatan rata-rata. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi belum tentu mengurangi kemiskinan kalau yang meningkat pendapatannya hanya kelompok kaya. Juga, pertumbuhan ekonomi dapat menambah kemiskinan kalau kenaikan pendapatan kelompok kaya dibarengi dengan penurunan pendapatan kelompok miskin.

Kedua, pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan ketimpangan kalau pertumbuhan ekonomi tersebut lebih banyak disebabkan oleh kenaikan pendapatan kelompok kaya dibandingkan miskin. Ini akan terjadi walaupun kelompok miskin mengalami peningkatan pendapatan. Tetapi karena kenaikan pendapatan kelompok kaya lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pendapatan kelompok miskin, maka ketimpangan akan meningkat. Kemiskinan tetap mengalami penurunan.

Pertumbuhan ekonomi cenderung meningkatkan ketimpangan kalau misalnya pertumbuhan yang terjadi lebih menguntungkan pemilik modal dibandingkan dengan kaum buruh. Pertumbuhan ekonomi yang cenderung berpusat pada sektor-sektor padat modal misalnya, umumnya juga akan meningkatkan ketimpangan.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi bisa juga diikuti dengan pengurangan ketimpangan. Ini terjadi jika aktivitas ekonomi yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi adalah sektor-sektor yang lebih menguntungkan kelompok menengah bawah, misalnya sektor pertanian, atau manufaktur yang padat karya.

Keempat, ketimpangan bisa saja meningkatkan pertumbuhan ekonomi jika ketimpangan yang terjadi adalah hasil dari sistem insentif untuk peningkatan produktivitas, reward, dari entrepreneurship atau akumulasi modal.

Kelima, bertolak belakang dengan keempat, ketimpangan bisa dan sangat mungkin menurunkan pertumbuhan ekonomi melalui banyak faktor. Misalnya, ketimpangan menimbulkan rendahnya kohesi sosial, sehingga ekonomi rentan terhadap konflik. Pemerataan kualitas sumber daya manusia juga cenderung lebih kondusif untuk peningkatan inovasi yang merupakan pendorong dari pertumbuhan ekonomi tinggi.

Keenam, ketimpangan tinggi bisa meningkatkan kemiskinan jika ketimpangan tersebut cenderung disebabkan lebih banyaknya populasi orang miskin dan bukan lebih banyaknya populasi orang kaya. Walaupun kita perlu paham bahwa ketimpangan bisa saja rendah karena sebagian besar orang masih miskin. Ini terjadi misalnya di banyak negara Afrika yang kemiskinannya tinggi tapi ketimpangannya rendah.

Ketujuh, ketimpangan yang tinggi membuat kekuatan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan menjadi lemah. Pertumbuhan ekonomi pada negara dengan ketimpangan rendah akan lebih berpotensi mengurangi kemiskinan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara dengan ketimpangan tinggi.

Berdasarkan uraian diatas yang dikemukakan oleh Anshory, maka secara ringkas ada tujuh hal utama terkait dengan hubungan antara pertumbuhan ekonomi, ketimpangan dan kemiskinan. Diharapakan dengan keterkaitan dari ketiga konsep tersebut akan memudahkan bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah-langkah strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Insyaallah.

*Peneliti pada Bidang Litbang di Bappeda Aceh

Comments

comments