Tsunami 2004, Subuh Terakhir Bersama Al-Mukarram

oleh
Kabag Inmas Kemenag Aceh, Muhammad Nasril, Lc, MA (Ist)

Catatan : Muhammad Nasril*

“Empat Belas tahun sudah berlalu…
Saat yang lain pergi hanya meninggalkan pilu..
Kau pergi meninggalkan banyak hal yang tak lekang dimakan waktu..
Pada kami yang kau bekali secercah ilmu..
Pada kami yang tak bisa agar mampu..
Tinggallah kami yang kini meraba hikmah dari apa telah kami lewati bersamamu..
Engkau guru…
Yang hebat..
Yang pergi begitu cepat..”
—–**——

Ia menjelma menjadi sosok nomor satu di rumah kedua bagi kami. Satu lembaga pesantren yang telah menempa kami hingga menjadi orang yang seperti sekarang. Madrasah yang terletak di Desa Gue Gajah, Mata Ie, Aceh Besar, daerah yang lumayan tinggi dari pusat ibu kota Provinsi  Aceh yaitu Ruhul Islam Anak Bangsa.

Tak pernah kami lupakan wajah itu, sosok pria hitam-manis dengan senyum lebarnya begitu khas. Sosok yang paling disegani oleh para santri, seorang alumni Gontor yang telah mendedikasikan sebagian hidupnya untuk kami, anak didiknya.

Sosok itu telah menjadi guru di Ruhul Islam sejak sekolah itu masih berada di Lampeunurut, tapi baru di tahun 2003 beliau memutuskan menjadi pembina dan menetap disana bersama kami. Keberadaan beliau di dayah membawa banyak perubahan yang kami rasakan, terutama tentang kedisiplinan, kemandirian dan kekompakan.

Sosok yang memiliki dua sifat berbeda, namun bagaikan menjadi satu sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan; tegas dan ditakuti namun juga lucu dan disukai. Sosok yang ramah dan penuh perhatian, guru yang cerdas yang menjadi rujukan kalau santri bingung dan ingin berdiskusi tentang ilmu keagamaan dan akhlak, sehingga fiqih dan ushul fiqh menjadi pelajaran favorit bagi kami saat itu.

Pernah suatu sore beliau mengajak saya secara khusus untuk jalan-jalan ke salah satu tempat di seputaran Lhoknga Aceh Besar, tidak tau apa maksud dan tujuannya. Dalam perjalanan saya diajak berdiskusi mengenai kuliah, beliau-pun menyarankan saya agar melanjutkan study ke Al-Azhar Cairo Mesir. Ternyata itu salah satu caranya mendekati para santri, untuk memberi saran tentang tujuan masa depan kuliah kami, ia begitu peduli sampai hal seperti itu.

Meski saat itu saya belum tertarik untuk melanjutkan pendidikan seperi saran-saranya, baginya tidak masalah, saya hanya di ajak berfikir rasional tentang kelebihan dan kekurangan tentang apa yang ia sarankan, baik dari segi keilmuan dan ekonomi, dimana di Al Azhar Cairo lebih hemat atau sama dengan kuliah di dalam negeri, hampir dua jam kami berdiskusi dan akhrinya saya dapat menerima saran sarannya untuk melanjutkan pendidikan kesana, dan alhamdulillah hikmah itu kini saya rasakan.

Minggu subuh itu beliau mengimami kami shalat berjamaah, saat itu setelah membaca ummul kitab beliau melanjutkan bacaan surat Al-Qiyaamah, dengan bacaan yang pelan dan penuh penghayatan apa lagi ketika sampai pada ayat 34-36 dari surat al Qiyamah, dimana arti dari ayat tersebut adalah: Celakalah Kamu! Maka celakalah* sekali lagi, celakalah kamu manusia) maka celakalah! Apakah manusia mengira dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?

Hingga beliau terisak dan berhenti sejenak ketika membaca ayat itu. Setelah shalat beliau memimpin doa dan diaminkan oleh semua santri, doa khusuk ia panjatkan , untuk kesuksesan kami  dalam mengikuti ujian yang akan dilaksanakan esoknya, pada Senin, 27 Desember 2004 kala itu.

Seperti hari-hari yang lain usai shalat subuh beliau kembali ke asrama dan bersiap-siap untuk berbelanja ikan ke pasar Lampulo, untuk mencari lauk makan siang dan malam bagi ratusan anak didiknya. Biasanya beliau selalu mengajak satu atau dua santri untuk menemaninya dan sekaligus sebagai pembelajaranan bagi santri yang diajak.

Ia akan mengajarkan praktek muamalah yang benar, bahkan ia berani menegur kalau ada penjual yang curang. Seperti suatu ketika ia menegur salah seorang pedangan ikan di Lampulo yang menyebutkan jumlah modal, padahal modal tersebut tidak seperti itu, juga menegur orang-orang yang menawar di atas tawaran orang lain.

Banyak diantara kami para santri yang diajak belajar kesana. Akan  tetapi tidak dengan pagi itu, beliau hanya mengatakan dalam bahasa arab untuk kami “kamu belajar saja, besok ujian!”. Kata-kata itu masih teringat jelas dalam ingatan saya, sehingga tidak ikut bersamanya dan kembali masuk ke masjid untuk belajar persiapan ujian besok.

Beliaupun akhirnya langsung berangkat dengan guru kami lainnya Ust Marzuki, keduanya pergi sejak hari masih gelap untuk memenuhi lauk pauk seluruh santri.

Pagi itu, suasana di Dayah terlihat kondusif. Bagian pengajaran sedang menempel nomor ujian dan persiapan ruangan. Tiba-tiba sekitar pukul 08.15 gempa dasyat menggoncang bumi Aceh, Ratusan santri  berlarian ke lapangan depan sekolah dengan penuh rasa takut, dengan melihat langsung runtuhnya bangunan sekolah dan itu adalah hal paling mengerikan yang pernah kami alami saat itu.

Setelah gempa berhenti, kami kembali ke asrama tidak ada yang tau apa yang sebenarnya akan terjadi kemudian. Tiba-tiba kami mendengar orang berlarian sambil berteriak  ie ka diek, ie ka di ek .. air air air.  Rasanya sesuatu hal yang mustahil, air laut naik, tapi itulah kenyataannya.

Lokasi kami di Gue Gajah, Mata Ie memang termasuk salah satu dataran tinggi yang ada di Koetaradja, sehingga mustahil air naik ke situ. Lambat laun kami mengetahui kebenaran peristiwa dahsyat ini. Tsunami, ya tsunami. Teriakan dan tangisan terus bergemuruh, seakan tidak ada lagi tawa diantara kami.

Para santri panik, sebagian keluarga yang tinggal di pesisir pantai, dan saya teringat pada sang guru yang berangkat tadi Subuh ke Lampulo, sembari terus mendoakannya dan mencari tau bagaimana keadaannya?.

Hari menjelang sore, belum ada kabar tentang sosok itu, hingga salah satu Ustadz  memberitahu kami bahwa ia mendapat kabar tentang keberadaan kedua guru kami itu, entah itu hanya untuk menenangkan kami atau bukan, yang pasti informasi itu cukup menyejukkan kami.

Keesokan harinya Ust Marzuki tiba kembali di Dayah yang di jemput oleh salah seorang ustadz dan para santri menyambut penuh haru,  Alhamdulillah Ust Marzuuki selamat.

Saya hanya terduduk, terasa berat untuk bangun, dan beliau menghampiri seraya  memeluk saya, sambil berbisik kata-kata yang membuat saya terisak Ust meupisah ngon lon Nasril…, ucap Ust Marzuki, mengabarkan kalau sosok itu belum diketahui.

Hati ini bergemuruh sambil memeluk sang guru dengan erat, saya masih bertanya tentang sosok itu. Dengan berlinang air mata ia menceritakan pada saat air laut naik ke daratan beliau mengajak sang guru  untuk lari, tapi almarhum hanya menjawab, gak apa apa, saya disini saja… seakan ia telah siap untuk pergi selamanya.

Berhari-hari kami menunggu kabarnya, pencarian dari pihak keluarga dan dayah terus di upayakan, tak ada kabar tentangnya. Setelah sebulan lebih  peristiwa dasyat itu berlalu, jenazah Almarhum ditemukan masih utuh, lengkap dengan baju yang kami lihat saat beliau berangkat.

Setelah berita itu datang, subuh itu (26/12/2004) menjadi subuh terakhir kami bersamanya. Itulah subuh terakhirnya bersama kami, sebelum beliau pergi bersama segenap kebaikan yang ditinggalkannya disini.

Beliau telah menjadi inspirasi bagi kami, beliau mengajar dan mendidik kami, beliau membina kami, beliau adalah Al mukarram Alm Ust Rusydi Rasyid, tidak banyak kata-kata untuk mengenangnya melainkan doa dari kami selalu.

Setelah 1 bulan, Jasad almarhum ditemukan di sebelah mobil yang digunakan subuh itu dalam keadaan utuh dan dikebumikan di TPU Lhong Raya.

Catatan ini hanya sekilas ingatan 26 Desember 2004 lalu, kenangan saat sang guru menempa kedisiplinan kepada kami, Terima kasih Guru.

Allahummaj al Qabrahu Raudhatan Min Riyadhil Jinan.. Al-fatihah.

*Alumni Riab, Humas Dayah IQ dan ASN Kemenag Aceh

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *