Pariwara Pariwara Sara Sagi Terbaru

Setahun Shabela Abubakar-Firdaus Pimpin Aceh Tengah


Tak terasa sudah hampir setahun Kabupaten Aceh Tengah dipimpin oleh Drs. Shabela Abubakar dan Firdaus, SKM sebagai bupati dan wakil bupati. Tepat pada 28 Desember 2018 mendatang, genap sudah setahun daerah ini dipimpinnya setelah dilantik pada 28 Desember 2017 silam.

Setahun bukanlah waktu yang lama, apalagi dalam jabatan sebagai pemimpin daerah berpenghasilan kopi arabika terbaik di dunia tersebut. Belum banyak yang dapat dilakukan pada masa tersebut.
Pun begitu, setahun kepemimpinan Shabela bukanlah tanpa etos kerja. Meski belum maksimal, namun etos kerja sebagai pimpinan daerah patut diapresiasi. Pada awal-awal dilantik, Shabela gencar melakukan kunjungan ke kecamatan.

Terlihat ia juga turun langsung membenahi jalan Takengon-Bintang, tepatnya di kawasan Utung-Utung yang pada saat itu sangat memprihatinkan, lantaran rawan longsor. Bukan hanya itu, di awal memimpin, saat menampung aspirasi masyarakat di daerah, Shabela pun langsunh merespon.

Dalam catatan kami, sejumlah jembatan yang menjadi penunjang kehidupan masyarakat pun segera diperbaiki. Seperti di Kecamatan Pegasing, Jagong Jeget dan Linge yang kondisinya pada saat itu memprihatinkan.

Bukan hanya itu, Shabela pun turut merespon keluhan warga di seputaran Kota Takengon, yang mana banyak titik di daerah ini tergenang air saat musim penghujan tiba yang menyebabkan ruas jalan protokol tergenang air.

Genangan air ini disinyalir akibat banyaknya sampah yang tersumbat di saluran air serta saluran air yang semakin menyempit.

Ia pun memerintahkan pihak terkait mencati solusi dari keluhan warga yang hampir setiap tahun terjadi. Memang hingga saat ini meski sudah dicarikan solusi, genangan air saat musim hujan masih belum teratasi. Namun begitu, selaku pemimpin Shabela akan terus memikirkan solusi tersebut bersama pihak terkait.

Dari segi pembangunan infrasturktur, setahun kepemimpinan Shabela memang tak banyak yang dapat dilakukan.

Keterbatasan anggaran dan tidak didapatkanya Dana Alokasi Khusus Aceh (DOKA) bernilai 120 M lebih, menjadi salah satu penghambat pembangunan infrastruktur di bumi Reje Linge tersebut.

Dengan tidak adanya DOKA bagi Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2018, bukan berarti pembangunan yang diusung dalam nawacitanya buyar. Ditengah keterbatasan anggaran, proyek infrastruktur tetap dijalankan dengan sumber anggaran dari APBK murni. Yah, meski belum terlihat secara signifikan, yang pasti pembangunan itu tetap berjalan meski dengan prosentase kecil.

Di bidang budaya, Shabela tampaknya lebih getol. Dirinya sadar, Gayo punya kekhususan dalam hal budaya. Bumi Gayo kental akan budayanya, begitu juga daya tarik wisata alamnya.

Dalam tahun 2018 ini, pada masa kepemimpinan Shabela dua budaya Gayo yakni, Tari Sining dan Keni Gayo memperoleh sertifikat sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki Indonesia.

Dengan dikeluarkannya sertifikat bagi kedua kebudayaan itu, menambah sederetan budaya Gayo yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia, setelah sebelumnya Kerawang Gayo juga telah diakui dengan hal yang sama.

Hal ini patut diapresiasi dalam upaya mempertahankan eksistensi kebudayaan Gayo. Dengan dikeluarkannya sertifikat pengakuan tersebut, kebudayan Gayo sudah tak mungkin di caplok lagi oleh daerah lain.

Di awal-awal tahun kepemimpinan Shabela bukanlah tanpa masalah. Masalah muncul saat pembelian mobil dinas bernilai milyaran rupiah mencuat. Sejumlah kalangan memprotes pengajuan pembelian mobil dinas tersebut. Arus demonstasi dilakukan beberapa aktivis, hingga pengkartumerahan anggota DPRK Aceh tengah yang tengah bersidang membahas pembelian mobik tersebut.

Hingga akhirnya, Shabela pun legowo dan mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Pembelian mobil dinas dinyatakan batal.

Penjelasan tersebut dissmpaikan Shabela saat membuka pelatihan jurnalistik yang digelar PWI Aceh Tengah beberapa waktu lalu.

Saat itu Shabela sempat berujar, bahwa dirinya selaku pelayan masyarakat tidak membutuhkan mobil dinas yang mewah. “Naik grek (kereta dorong-red) pun saya siap bekerja untuk rakyat. Karena sewaktu kecil, naik grek merupakan kegemaran kami dalam bermain,” tegasnya.

Pernyataan tersebut, diapresiasi oleh kalangan yang memprotes pembelian mobil dinas ditengah anggaran daerah yang tengah sengit tersebut. Lebih baik anggaran pembelian mobil itu, dialihkan kepada pembangunan produktif yang memang dibutuhkan masyarakat.

Di bidang olahraga, dimasa setahun kepemimpinan Shabela, tercipta sejarah baru bagi dunia olahraga Aceh Tengah. Beberapa waktu lalu, pada saat pelaksanaan Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIII di Aceh Besar, insan olahraga Aceh Tengah menorehkan prestasi pertama dalam sejarah.

Aceh Tengah berhasil meringsek ke papan atas dunia olahraga di Aceh dengan menempati peringkat kelima klasemen perolehan medali terbanyak setelah Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Timur dan Kabupaten Pidie.

Prestasi ini merupakan yang luar biasa pada saat kepemimpinan Shabela. Belum pernah Aceh Tengah masuk diurutan kelima sepanjang sejarah event olahraga empat tahunan di Provinsi Aceh tersebut. Meski pada saat melepas kontingen, ada sikap pesimis yang ditunjukkan oleh Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus yang mengeluarkan pernyataan kontroversi, seolah meremehkan kualitas atlet dari daerah sendiri.

Hal itu, justru menjadi pelecut semangat atlet dengan meraih pundi-pundi medali. Terbukti, sepanjang sejarah pelaksanaan PORA, baru pada pelaksanaan ke-13 ini, atlet Aceh Tengah mengumpulkan medali terbanyak dengan 31 medali emas, 36 perak dan 33 perunggu. Dua cabang olahraga, yakni Balap Sepeda dan Arung Jeram juga dinobatkan sebagai juara umum di cabangnya dengan meraih medali emas terbanyak.

Menuju 2019 Lebih Baik

Walau belum banyak yang dilakukan pada setahun kemepimpinannya memimpin Aceh Tengah. Namun Bupati Shabela, berkomitmen di 2019 upaya pembenahan akan dimaksimalkan sesuai kemampuan daerah.

“Sebagai pelayan masyarakat, tugas kami bukan saja membangun kesejahteraan masyarakat di segala lini di 2019. Namun bagaimana, menjalankan kebijakan yang pro rakyat sampai berakhirnya masa jabatan kami,” ungkap Shabela.

Menurutnya, belum maksimalnya pembangunan fisik di 2018 lantaran Kabupaten Aceh Tengah tidak mendapat alokasi Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) yang nilainya mencapai sekitar 120 M. Pun begitu, roda pembangunan pemerintahan saat ini masih tetap berjalan sesuai kemampuan daerah.

“InsyaAllah di 2019 maupun di tahun-tahun berikutnya setiap kekurangan yang kita rasakan bersama saat ini bisa segera dibenahi, sehingga Kabupaten Aceh Tengah mampu mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik di masa mendatang,” ungkap Shabela Abubakar.

Warga Aceh Tengah pun berharap demikian. Walau dinilai belum maksimal dalam setahun memimpin, ada secercah harapan di tahun 2019 hingga menuju akhir masa kepemimpinan Shabela untuk terus membenahi Aceh Tengah menuju ke arah lebih baik.

Masyarakat tentu sangat mengharapkan sentuhan tangan dinginnya, dalam upaya memacu peningkatan taraf kesejahteraan rakyatnya.

Salah satunya, hingga satu tahun kepemimpinan, masyarakat berharap ada langkah konkrit kepemimpinan Shabela untuk terus mengembangkan budidaya kopi Gayo yang menjadi andalan hampir 80 persen perekonomian warga Aceh Tengah.

Amatan, belum ada pemimpin daerah ini yang konsen terhadap kopi Gayo. Padahal komoditas ini merupakan urat nadi dari masyarakatnya.

Sikap optimis masyarakat, terhadap bidang ini tentunya sangat besar dibebankan kepada pemerintah daerah. Konsep kopi dari hulu ke hilir sangat dibutuhkan masyarakat, lewat program-program yang dibuat oleh pemerintah.

Semoga di tahun 2019, perubahan Aceh Tengah pada masa kepemimpinan Shabela terlihat dengan signifikan. Masyarakat menantikan itu.

[Advertorial]

Comments

comments