Free songs
Home / DANAU LUT TAWAR / Alumnus IPB Temukan Cara Pijahkan Ikan Endemik Danau Lut Tawar

Alumnus IPB Temukan Cara Pijahkan Ikan Endemik Danau Lut Tawar


Oleh ; Muhammad Syukri

Ikan Depik (Rasbora tawarensis)

Depik atau bahasa ilmiahnya Rasbora Tawarensis merupakan satu dari sekian banyak ikan langka di nusantara. Dikatakan langka, karena populasi ikan endemik yang hidup di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah ini semakin menurun, dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Penyebabnya, ikan Depik sangat diminati warga, termasuk sebagai sajian favorit dalam setiap perjamuan.

Dan, harga ikan yang panjangnya 8 cm dan lebarnya 2 cm itu terus terkatrol. Harganya sudah berada pada titik tertinggi. Misalnya harga ikan Depik yang ditangkap dengan didisen mencapai Rp 40 ribu untuk 1 liter di Pasar Ikan Takengon.

“Lama kelamaan, harga ikan ini diduga akan menyamai harga emas, karena ikannya makin langka,” sebut Aman Iko warga Lot Kala Kebayakan, Takengon.

Bagaimana tidak, akibat harga jualnya yang menggiurkan maka perburuan dan penangkapan ikan istimewa itu tak pernah berhenti, baik siang atau malam hari. Nelayan dan warga tidak pernah memberi waktu jeda bagi ikan kecil itu untuk bertelur, memijah larva, dan melanjutkan generasi penerusnya.

Pasalnya, jaring khusus ikan Depik (doran-bahasa Gayo) yang panjangnya rata-rata 500-2000 meter, ditebar memanjang dari Barat ke Timur. Jaring itu seolah-olah “membelah” Danau Laut Tawar, sekaligus memutus jalur migrasi ikan langka ini.

Menjaring Depik bukan dilakukan oleh 1 atau 2 orang, tetapi oleh puluhan sampai ratusan orang. Depik benar-benar ikan kecil malang, lebih malang dari nasib Nemo. Depik hampir tidak memiliki jalan menuju tempat memijah, beberapa sumber mata air dingin disisi Utara danau. Sebab, perjalanan atau migrasi dari sisi Selatan danau harus dihentikan oleh ratusan jaring nilon yang ditebar warga.

Baca : Depik Bisa Dipijahkan, Dipelihara di Kolam dan Aquarium

Jutaan bahkan milyaran ekor ikan Depik betina menggelepar, terpapar rajutan benang-benang nilon. Depik yang seharusnya memijah jutaan telor dari perutnya, terpaksa harus merelakan perut buncit itu dijadikan gulai Depik Pengat atau Depik Dedah. Santapan istimewa dan paling dicari warga disana. Ikan Depik akan segera punah.

Itu isu paling mengkhawatirkan yang beredar dikalangan para pencinta lingkungan. Mereka berpikir keras, bagaimana cara menyelamatkan populasi ikan Depik. Perburuan dan penangkapan ikan langka itu tak terbendung. Disisi lain, ikan langka ini belum bisa dibudidayakan. Pakannya cemperle (serangga air), tidak mau makan pelet, dan akan mati begitu dikurung dalam kolam atau wadah khusus. Pada tahun 2004, saya pernah mencoba memelihara ikan Depik dalam aquarium.

Kegunaannya waktu itu, ikan langka yang diperoleh dari didisen dalam keadaan hidup itu,  akan dipamerkan pada acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 2004 di Banda Aceh. Memang, ikan langka itu sempat dipajang di serambi Umah Pitu Ruang (Rumah Adat Gayo), dan menjadi tontonan favorit para pengunjung. Sayang, makin lama gerak ikan bergelar “perenang cepat” itu makin melemah. Pakan pelet yang diberikan sama sekali tidak disentuh.

Akhirnya, ikan malang itu hanya mampu bertahan hidup seminggu lamanya. Ditengah kekhawatiran warga dan pencinta lingkungan terhadap punahnya ikan Depik, muncul seorang alumnus IPB Bogor bernama Iwan Hasri. Anak muda pelopor ini lahir di Takengon 18 Juni 1983, dikenal sebagai sosok yang cukup peduli terhadap keberlanjutan populasi ikan Depik dan ikan Jurong (Tor.sp). Dari sebuah hatchery kecil di Balai Benih Ikan (BBI) Lukup Badak Takengon, dia mulai melakukan berbagai eksperimen terhadap kemungkinan memijah ikan Depik. Lama juga waktu yang dibutuhkan anak muda itu, sampai akhirnya menemukan suatu teknik memijah ikan Depik.

“Kita biasakan memberikan pakan pelet untuk larva ikan Depik saat memasuki usia 30 hari. Kalau sudah mau makan pelet, ikan itu akan bisa dibudidayakan,” sebut Iwan Hasri, Minggu lalu, di BBI Lukup Badak.

Bagaimana upaya anak muda itu menyelamatkan populasi ikan langka itu dari kepunahan? Saya sempat merekam beberapa aktivitas dan komentarnya saat bekerja dalam hatchery sederhana, BBI Lukup Badak itu.

Disadur dari tulisan asli di link http://www.kompasiana.com/muhammadsyukri/alumnus-ipb-bogor-temukan-cara-memijah-ikan-langka_5943ba94a07a63400e0e5042

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top