Free songs
Home / Opini / Cyberbullying Menjadi Budaya di Kalangan Remaja

Cyberbullying Menjadi Budaya di Kalangan Remaja


Fifyn Srimulya Ningrum

REMAJA (adolescence) adalah individu yang sedang berada pada masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Remaja saat ini merepresentasikan generasi pertama yang  harus tumbuh dan berkembang dalam lingkungan dimana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Internet berfungsi sebagai media telekomunikasi sehingga memungkinkan penggunanya dapat saling berkomunikasi dari jarak yang sangat jauh bahkan lintas Negara.  Di Indonesia, pada survey yang dilakukan Kompas.com, pengguna internet pada tahun 2012 mencapai 63 juta orang atau 24,23 persen dari total populasi Negara ini.

Tahun 2014, terus tumbuh menjadi 107 juta, dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada tahun 2015. Hasil penelitian Yahoo dan Taylor Nelson Sofred Indonesia menunjukkan bahwa, pengakses terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia remaja, antara 15-19 tahun dengan persentase sebanyak 64 persen dari 2000 responden (Subramanian, 2013). Artinya, secara psikologis, remaja yang berkisar umur 15-19 tahun sedang mengalami proses perkembangan dan secara mental belum matang dalam menghadapi berbagai persoalan. Ini juga yang menyebabkan sering terjadi miss communication antara pengguna jejaring sosial. Sementara itu, Hendri Dermawan S.Kom (dalam Hasyim, 2016) mengatakan, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 88.1 juta orang dan berada pada peringkat ke-6 dunia, dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun.

Cyberbullying

Bullying dapat dilakukan secara verbal dan fisik (Kim, 2006). Menurut Cochrane meskipun teknologi komunikasi bermanfaat untuk keperluan siswa dalam belajar, dan sebagai media untuk berkomunikasi dengan teman sebaya. Namun, tidak menutup kemungkinan media tersebut memiliki dampak negatif seperti cyberbullying (dalam Mutia, 2014). Cyberbullying merupakan salah satu bentuk bullying yang menyentuh sisi psikologis manusia lewat serangan verbal. Umumnya ia terjadi di dunia maya terutama pada media sosial seperti telepon genggam, facebook, twitter, instagram, email, pesan teks,  atau alat komunikasi lain. Bentuk dari cyberbullying ialah ejekan, hinaan ancaman ataupun rumor yang merusak reputasi individu atau kelompok pada media sosial yang digunakan hampir oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia. Kesamaan cyberbullying dengan bullying, antara lain perilaku kekerasan dilakukan secara sengaja, kekerasan psikologis terjadi secara berulang-ulang, ada ketidakseimbangan kekuasaan antara pengganggu dan korban, sehingga memiliki akibat negatif bagi korban (Kowalski & Limber, 2007).

Semakin maraknya pengguna social networking membuat banyak orang membuka informasi pribadinya, tidak dapat dipungkiri seperti halnya pada remaja di era globalisasi saat ini yang banyak ditemukan dilingkungan sekitar. Agatson mengatakan akan tetapi Informasi-informasi pribadi jika dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab bisa disalahgunakan (dalam Mutia, 2014). Berdasarkan survei IPSOS di 24 Negara termasuk Indonesia, didapati bahwa, satu dari sepuluh atau sekitar 12% orang tua melaporkan bahwa anak mereka mengalami bullying, sekitar 60% menyatakan alat yang digunakan ialah Facebook.

Fakta diatas menunjukkan bahwa, media sosial yang digunakan oleh para remaja tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Alih-alih untuk bertukar informasi dan saling bertegur sapa saat terpisahkan oleh jarak, media sosial justru menjadi tools utama untuk memuaskan hasrat seseorang dalam mengintimidasi atau mengganggu orang yang lemah, baik secara individu maupun kelompok.

Dampak bagi korban Cyberbullying

Cyberbullying memang sering luput dari perhatian. Sebab banyak orang tua dan remaja menganggap perkataan-perkataan melecehkan yang dilontarkan di dunia maya hanya sebuah candaan dan olok-olok yang biasa terjadi dalam dunia cyber. Padahal cyberbullying memiliki dampak negative khususnya bagi sisi psikologis individu yang mengalaminya, cyberbullying bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental anak, mereka bisa kehilangan rasa percaya diri, stress dan depresi yang berkepanjangan.

Selain itu, temuan terbaru dari survei EU Kids Online II menunjukkan bahwa penindasan maya memiliki dampak yang tinggi terhadap korban, dengan tingkat korban berkisar antara 20 sampai 40%, penindasan maya merupakan risiko umum untuk anak-anak dan remaja.

Bahkan dalam beberapa kasus, korban nekat melakukan tindakan bunuh diri yang berujung pada kematian. Di Indonesia sendiri ada sebuah kasus yang menewaskan pria asal Yogyakarta bernama Yoga Cahyadi. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 2013 silam. Korban ditemukan tewas setelah menabrakan dirinya ke Kereta Api Sri Tanjung jurusan Yogyakarta-Banyuwangi.

Dilansir oleh CNN Indonesia (10/09/2014) Yoga diduga mengakhiri hidupnya, setelah depresi akibat tekanan dan hujatan di sosial medianya akibat gagalnya acara hiburan Lockstock Fest#2 dimana ia bertugas sebagai ketua penyelenggara. Sebelum melakukan aksi itu, Yoga sempat menulis sebuah pesan di akun twitter-nya yang menunjukkan perasaan tertekannya akibat bullying yang diterima di sosial media. Remaja dari negara maju pun tidak luput menjadi korban, Amanda Todd (dalam detikhealth) remaja asal Kanada yang bunuh diri pada 10 Oktober 2010 Ia melakukan tindakan nekat di usianya yang baru 15 tahun karena tidak tahan menjadi olok-olok di internet.

Tingginya angka cyberbullying di Indonesia harusnya menyadarkan kita agar mencari cara untuk mencegah terus meningkatnya persentase cyberbullying, agar kedepannya tidak ada lagi korban cyberbullying yang berujung pada kematian.

Peran orang tua dan sekolah

Fakta cyberbullying yang menimpa remaja di dunia ini perlu mendapat perhatian dan penanganan serius. Desakan untuk memperhatikan dan menangani khusus soal cyberbullying tersebut utamanya diarahkan kepada orang tua dan sekolah. Psikolog dari Minauli Consulting ini menjelaskan, korban bullying biasanya adalah seseorang yang memiliki karakter ‘ter’, terbodoh atau terpintar, terjelek atau tercantik, termiskin atau terkaya. Itu sebabnya orangtua harus mengajarkan kepada para remaja untuk lebih berhati-hati menyatakan pendapatnya di depan publik. “Mereka tetap harus diajarkan sopan santun dan etika dalam bersikap, khususnya dalam media sosial.

Dalam era keterbukaan seperti saat ini setiap orang menjadi merasa memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa mempertimbangkan berbagai aspek yang menyangkut kesejahteraan psikologis korban,” ujar Irna.

Disampaikan pula oleh Dr. Neila Ramdhani M.Si., M.Ed Psikolog dalam talkshow bertema “Ketika Internet Singgah di Rumah Kita,” Kamis (1/12) di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. orang tua dituntut untuk meningkatkan pengawasan terhadap anaknya. Apalagi di era internet ini, orang tua diharapkan mampu mendampingi anaknya dalam berinteraksi di dunia maya, seperti menjadi teman anak di media sosial.[]

*Mahasiswi Fakultas Kedokteran Jurusan Psikologi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top