Opini Sara Sagi Terbaru

Pemuda Masa Kini dan Masa Depan Bangsa

Oleh : Vera Hastuti*

Jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah keadaan pemudanya hari ini.                                                           (Dr. Yusuf Al-Qardhawi)

SOSOK pemuda bagi masa depan suatu bangsa adalah hal yang sangat penting bagi keberlangsungan suatu bangsa. Pemuda adalah pemegang tunggal estafet pembangunan bangsa.  Karena hidup berganti, setiap orang akan menjadi tua dan pensiun, sehingga pemimpin-peminpin yang tengah memimpin negeri ini suatu saat akan berganti dengan pemimpin-pemimpin yang baru.

Dr. Yusuf Al-Qardhawi mengatakan, bila diibaratkan matahari, maka usia muda serupa jam 12. Dimana matahari bersinar paling terang dan paling panas. Secara fisik, pemuda memiliki kekuatan yang lebih, memiliki semangat dan jiwa muda. Pemuda adalah  pengukir prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan Negara.

Sejatinya,  di tangan pemudalah berlabuh harapan-harapan untuk dapat menjadi bangsa yang lebih baik di masa depan. Namun, kenyataan pahit yang dapat kita lihat sendiri saat ini adalah  betapa memprihatinkannya keadaan akhlak dan moral pemuda masa kini yang menjadi harapan.

Terkontaminasinya pemuda  saat ini dengan kehidupan modernis menjadi pemicu terhambatnya produktifitas pemuda. Sehingga banyak dari mereka  yang berpola pikir egois, berlomba-lomba menunjukan strata sosial, sombong, terjebak narkoba, tawuran, candu  alkohol, malas, dan mudah putus asa.

Bila hal ini terus dibiarkan, perlahan tapi pasti hal ini kan dapat menjadi penyakit yang akan sulit disembuhkan pada diri pemuda. Pemuda Indonesia harus memiliki jiwa dan semangat  yang kuat.Karena persaingan global saat ini membutuhkan orang-orang yang optimis, giat dan bekerja keras.

Pendidikan  Agama  Sebagai Pondasi awal

Pendidikan yang paling utama diberikan kepada anak adalah pendidikan agama. Karena agama akan membimbing untuk senantiasa berada di jalan kebaikan. Bila seorang anak mengetahui agamanya, aqidah dan  tujuan hidupnya, insyaAllah ia akan selalu mengingatnya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.  Keluarga terutama orang tua merupakan kunci utama penanam nilai-nilai agama kepada anak.

Nilai agama  harus ditanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak-anaknya.  Karena di dalam nilai-nilai agama, berbagai nilai-nilai kesantunan, kejujuran dan kesopan diajarkan secara sistematis. Sehingga bila diterapkan sedini mungkin, maka ajaran itu akan tetap melekat dan terpatri dalam dirinya hingga ia  dewasa nanti. Sehingga dikemudian hari diharapkan pemuda Indonesia  tidak kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

Sekolah Sebagai Penghasil Generasi Penerus Bangsa

Kemajuan pendidikan suatu bangsa merupakan indikator kemajuan suatu bangsa. Karena pendidikan diyakini sebagai penghasil para intelektual  generasi bangsa yang handal dan cerdas, bertanggung jawab dan juga berakhlak mulia.

Kesalahan fatal  yang sering terjadi adalah dimana orang tua yang menyerahkan seluruhnya tanggung jawab  pendidikan anaknya pada sekolah. Padahal, orang tua memiliki andil  yang  sangat besar dalam pembentukan akhlak dan  karakter  anak. Sekolah adalah tempat dimana nilai-nilai karakter yang telah di tanamkan di dalam keluarga  dikembangkan.

Masyarakat dan lingkungan  Sebagai  Pengawas

Kini, di dunia yang serba individualis kepedulian masyarakat sebagai penuntun perkembangan pemuda pada arah positif adalah hal yang mutlak. Masyarakat adalah pengawas  yang selalu ada disekitar pemuda.  Kesadaran bahwa pemuda adalah milik bangsa, milik kita bersama, penerus bangsa yang mestinya  dijaga harus kembali dipupuk kembali seperti sedia kala. Masyarakat tidak boleh lagi menutup mata dan tidak peduli terhadap apa yang kini terjadi pada generasi bangsa ini.

Keluarga terutama orang tua, sekolah, dan lingkungan adalah 3 faktor utama pembentuk dan pengawas awal karakter seorang pemuda. Ketiga aspek ini adalah kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Sehingga, keseimbangan pendidikan karakter  pada anak tetap seimbang . Dari orang tua, seorang anak mengenal awal tentang agama/pendidikan, dilanjutkan dengan sekolah sebagai wadah pembelajaran dan menuntut ilmu, dan lingkungan sebagai tempat pengaplikasian ilmu yang didapat.

Siapa pun kita dan apapun latar belakang kita, kita tetaplah sama (satu posisi)    dalam hal memantau perkembangan pemuda saat ini. Arus globalisasi yang masuk saat ini kian mengkhawatirkan. Kitalah kini (keluarga, sekolah, masyarakat/lingkungan) sebagai filter globalisasi. Sehingga pemuda kita tetap di jalan yang benar dan diharapkan mampu bersaing dengan sehat. Karena di pundak merekalah nantinya nasib bangsa  kita bebankan. Disaat kita telah menua dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa.[]

*Guru SMAN 1 Takengon

 

Comments

comments