‘Horor’ Trump dan Masa Depan Kopi Gayo

oleh

Oleh Muhammad Syukri*

Lussi Kopi GayoPROSESI pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS), yang puncaknya berlangsung pada Selasa (8/11/2016) lalu, masih menyisakan aroma “horor” bagi sebagian warga negara AS. Mereka resah, pasalnya pada setiap kampanye, Donald J Trump dari Partai Republik yang kini terpilih menjadi Presiden AS –mengalahkan Hillary R Clinton, kandidat dari Partai Demokrat– selalu menebar kalimat-kalimat “horor”.

Refleksi keresahan itu berakumulasi menjadi aksi demonstrasi di berbagai kota di AS, seperti di Los Angeles, Philadelphia, Denver, dan Minneapolis. Mereka tetap menuduh Trump rasisme, seksisme dan xenophobia dan meneriakkan slogan-slogan seperti “Bukan presiden saya” dan “Kami menolak presiden terpilih” (Serambi, 12/11/2016).

“Horor” itu bukan hanya meresahkan warga AS, perekonomian dunia juga terkena imbasnya. Detik-detik ketika Donald Trumpmulai unggul atas Hillary Clinton, tercipta kepanikan dalam perekonomian pasar global. Ketika itu, US Dollar langsung anjlok -0.4%, S&P 500 turun -5%, Dow Jones jatuh -3.4%, Japan Nikkei -5.4%, Hongkong Hang Seng -3.2% dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi pertama di Bursa Efek Indonesia berakhir merah, minus 2.1%.

Parahnya lagi, saat tutup pasar Jumat (11/11/2016), IHSG malah terkoreksi sangat dalam yaitu minus 4,01% dan rupiah terkoreksi 179 poin. Menyikapi hal itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro menyatakan: terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) adalah buntut dari isu bank sentral AS, The Federal Reserve yang akan menaikkan tingkat suku bunganya jelang akhir tahun (SindoNews.com, 11/11/2016).

Boleh jadi itu salah satu penyebabnya. Terlepas dari itu, sebenarnya apa saja isu kampanye “horor” Donald Trump yang membuat pasar global dan semua orang resah? Ini beberapa isu “horor” yang cenderung rasis dan kontroversial, dirangkum dari berbagai sumber. 1. Melarang muslim masuk AS, termasuk wisatawan muslim; 2. Membangun tembok perbatasan AS dengan Meksiko untuk mencegah masuknya imigran ilegal;

3. Mendeportasi jutaan imigran gelap dan membangun penjara khusus untuk imigran yang melakukan tindak kriminal; 4. Menuding bahwa Obama dan Hillary Clinton adalah pencipta ISIS; 5. Mencabut program Obamacare pada hari pertama pemerintahannya; 6. Menghentikan pembelian minyak dari Arab Saudi dan sekutunya kecuali mereka menyediakan pasukan darat untuk melawan ISIS.

Meresahkan eksportir
Selain itu, ada sebuah isu yang sangat meresahkan para eksportir dan pasar global, yaitu kebijakan proteksionis perdagangan internasional yang selalu diucapkan Trump selama masa kampanye. Apa tanggapan pegiat dunia usaha?

“Kalau itu betul seperti yang dia inginkan, proteksi, pokoknya semua dalam negeri saja tidak mau internasional dan cuma habisin duit dia saja, saya pikir ini akan bahaya,” kata Sofjan Wanandi (Liputan6.com, 11/11/2016).

Lantas, adakah pengaruh kebijakan proteksionis perdagangan internasional tersebut dengan masa depan kopi Gayo? Merujuk kepada komentar Sofjan Wanandi yang menegaskan, “Saya pikir ini akan bahaya,” tentu kebijakan itu akan menjadi ancaman serius bagi pasar kopi Gayo di Amerika Serikat.

Pasalnya, 92,4% tujuan utama ekspor kopi Gayo adalah ke pasar Amerika Serikat. Volume dan nilai ekspornya sangat besar. Misalnya, seperti ditulis dalam buku Hikayat Negeri Kopi (2016:33), volume ekspor kopi Gayo pada 2014 rata-rata per bulan sebanyak 519,3 ton, dengan nilai ekspor mencapai US$ 8,1 juta.

Lebih-lebih setelah kopi Gayo memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis dari Menkumham RI, brand kopi Gayo makin populer. Buyer di sana berani membeli komoditi ini dengan harga tinggi. Bahkan mereka bersedia membayar kopi Gayo lebih tinggi US$ 8 cent dibandingkan standar harga kopi di bursa komoditi New York.

Efeknya apa, harga kopi (green bean) di tingkat petani otomatis terdongkrak. Sampai hari ini masih terus bertahan di atas Rp 50 ribu per kilogram. Petani (meskipun ada yang menganggap harga sebesar itu masih terlalu murah) dan pegiat dunia usaha dengan leluasa menikmati rezeki kopi yang berlimpah itu.

Kini, era booming harga kopi ini terancam oleh kebijakan proteksionis Donald Trump. Tidak ada yang tahu, apakah kebijakan itu benar-benar akan diterapkan. Banyak yang berharap, termasuk pelaku pasar global, bahwa kebijakan proteksionis yang kerap digaungkan Trump hanya sekadar isu kampanye belaka.

“Risikonya bisa membahayakan bagi Amerika kalau dia sangat proteksionis. Jadi, saya meyakini tindakannya beda dari kampanyenya,” ujar Wapres Jusuf Kalla (Detiknews, 11/11/2016).

Langkah antisipatif
Berharap memang tidak dilarang, tetapi siapa tahu, Trump akan menerapkan kebijakan proteksionis tersebut. Tentu kita harus menyiasati kemungkinan itu dengan mempersiapkan langkah antisipatif. Seperti bunyi satu falsafah Gayo, inget-inget sebelem kona, hemat jimet ike tengah ara. Falsafah ini menegaskan bahwa waspadalah sebelum terjadi sesuatu dan berhematlah selagi masih ada harta (uang).

Apa langkah antisipatif yang perlu diambil oleh para petani kopi dan warga di dataran tinggi Gayo? Berhemat dan menabung, gunakan uang penjualan kopi sebijaksana mungkin, dan hindari budaya konsumtif. Cukup? Belum, masih ingat konsep ketahanan pangan yang bernama peger keben?

Dr C Snouck Hurgronje dalam buku Het Gajoland ez Zijne Bewoners (1903: 96 dan 100) menulis: “Halaman umah pitu ruang di Tanoh Gayo dimanfaatkan untuk menanam sayuran, tanaman rempah, pisang dan tebu. Ladang ditanami tembakau, tebu, sayuran dan umbi-umbian.”

Itulah gambaran implementasi konsep ketahanan pangan peger keben yang dilihat Snouck pada awal abad ke-20 di Dataran Tinggi Gayo. Budaya peger keben ini terus diwariskan secara turun-temurun, karena muyang datu orang Gayo sangat menyadari hasil panen padi tidak mencukupi. Makanya, di halaman rumah dan ladang warga sering ditemukan tanaman umbi-umbian, labu kuning, sayuran, termasuk memelihara ayam dan ikan.

Nah, menghadapi “horor” Trump yang waktunya makin dekat, peger keben diharapkan menjadi solusi. Meskipun nantinya ekspor kopi Gayo akan terganggu, diikuti anjloknya harga kopi, para petani maupun warga di dataran tinggi Gayo masih mampu melewati masa-masa sulit itu.

Ike dele penan pegerni keben, ike dele senuwen kekanak lale, senandung seorang Ceh Didong terkenal. Secara bebas, terjemahannya adalah “kalau banyak penganan (camilan) maka stok beras bisa bertahan lama, kalau banyak tanaman buah di sanalah tempat anak-anak bermain.” Semoga!

* Drs. Muhammad Syukri, M.Pd., staf ahli bidang Ekbang Pemkab Aceh Tengah, berdomisili di Takengon. Email: syukritakengon@gmail.com

Tulisan dikutip dari aceh.tribunnews.com, dengan link berikut : http://aceh.tribunnews.com/2016/11/15/horor-trump-dan-masa-depan-kopi-gayo?page=all

Comments

comments