Free songs
Home / Jurnalis Warga / Pementasan “Kohler” ; Pendidikan Sejarah Lewat Teater

Pementasan “Kohler” ; Pendidikan Sejarah Lewat Teater


Oleh: Muhammad Rain

rps20161124_003614_739PERTUNJUKAN teater adalah suatu kesatuan yang diciptakan secara kolektif oleh aktor, penulis naskah, sutradara dengan dibantu tim artistik dan tim produksi, gedung pertunjukan dan tentu juga oleh penonton. Karenanya kerjasama tim selalu utama pada pertunjukan teater yang hendak digarap serius. Bagi Teater Nol dengan produksi pementasan mereka yang ke-57 kali ini menggarap naskah fenomena sejarah Aceh dengan judul “Kohler: Matinya Jenderal di Tanah Rencong” juga merupakan satu rangkaian kerjasama tim yang patut disimak seksama, akan segera berlangsung pada Jumat, 25 November 2016.

Naskah yang ditulis oleh Zahra Nurul Liza seorang mahasiswi Pascasarjana Unsyiah berjudul “Kohler” tersebut telah melahirkan satu tantangan tersendiri bagi para aktor Teater Nol untuk memainkannya sebanyak dua kali pentas yaitu pada sore Jumat (25/11) pukul 16:00 WIB s.d. selesai) dan pada malamnya (Jumat (25/11) pukul 20:00 WIB s.d. selesai. Pementasan Tunggal di gedung Teater Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh merupakan program Pemerintah melalui UPTD TSBA untuk memberikan satu upaya serius pemerintah dalam memperhatikan dunia seni yang berkembang di provinsi Aceh khususnya teater.

Para aktor (Radius, Muna, Kurnia, Mita, Fitria) melalui hasil kerja sutradara Dody Resmal telah melaksanakan proses akhir menuju pementasan, upaya mentransformasikan struktur naskah “Kohler” menjadi tekstur panggung bernuansa sejarah Aceh terkait perjuangan bangsa Aceh dalam menghadapi emperialisme Belanda sebagai satu langkah penafsiran atas penokohan Kohler yang akhirnya dikisahkan tewas di tangan pejuang Aceh patut mendapatkan satu apresiasi atas kerja para seniman dari UKM Universitas Syiah Kuala, kampus yang sering dilabel jantung hati rakyat Aceh tersebut.

Perhatian seniman terhadap nilai-nilai sejarah yang terwakilkan juga lewat pementasan “Kohler” sepatutnya dirangkai juga dengan animo masyarakat Aceh secara khusus serta Indonesia secara umum untuk menumbuhkan terus-menerus nilai patriotisme dalam memperjuangkan bangsa dan wilayah yang menghargai jasa para pahlawan demi melestarikan sejarah penuh deru dan liku sepanjang masa.

Lina Sundana selaku pimpinan produksi “Kohler” dalam berbagai kesempatan jelang pementasan menyampaikan seruan dan ajakan bagi segenap penikmat seni teater di Banda Aceh maupun luar ibu kota provinsi Aceh tersebut seperti Aceh Besar dan wilayah lain agar memanfaatkan pertunjukan kali ini untuk mengenang kembali satu Jenderal Belanda telah mengalami proses panjang dalam sejarah penaklukan bangsa Aceh, namun Aceh terus saja melawan dengan merelakan segenap jiwa dan raga demi menjaga tanoh endatu, menjaga cikal bakal sebuah kawasan yang pernah menjadi pusat peradaban di benua Asia yakni Aceh Darussalam, dengan tewasnya Kohler sang jenderal, penindasan kaum penjajah kian tertekan, mestinya momentum pertunjukan ini pula dapat menjadi satu pendidikan kesejarahan bagi generasi muda untuk mengenal seperti apa kegigihan nenek moyang mereka di masa perang dunia berkecamuk.

Mengingat nilai yang kaya dari sisi sejarah dan pendidikan karakter yang dikemas lewat pementasan “Kohler”, Lina mengajak seluruh kalangan di lembaga pendidikan baik dosen, guru, siswa dan mahasiswa agar berhadir memenuhi satu perhelatan teater yang diyakin telah mendapatkan dukungan segenap pihak, ini terbukti juga dengan dipasangnya baliho di depan halaman gedung dinas pendidikan, animo kepala-kepala sekolah serta guru, termasuk guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia guna memperlihatkan kepada para siswa Didik mereka apa dan bagaimana teater?

Lina juga menyampaikan pada sesi sore hari akan ada dialog interaktif, para penonton boleh bertanya langsung dengan seluruh tim produksi “Kohler”, “ini adalah upaya pendidikan seni teater yang dikemas untuk para penonton dari kalangan pelajar maupun mahasiswa”. Dengan demikian “sambil menyelam minum air” alias menikmati tontonan dapat sekaligus setelah itu bertanya terkait proses berteater.

Teater Nol Unsyiah melalui pementasan kali ini memberikan satu suguhan yang jauh berbeda dibandingkan pementasan “Ling Lung” pada tahun 2015 sebelumnya yang sukses membawa naskah berjenis realitas sosial, Kurnia sebagai Hayati pada naskah “Ling Lung” sangat berkesan dengan kesuksesan pementasan dulu, ia pula yang menjadi tokoh utama. Naskah berbentuk kritik sosial di tahun lalu tersebut memberikan satu makna bagi Kurnia sendiri bahwa proses menjadi aktor teater terus berjalan tanpa henti. Kurnia juga sangat antusias bermain sebagai salah satu tokoh di kisah sejarah kali ini, apalagi mahasiswi FKIP Sejarah Unsyiah ini memang bakal menjadi guru sejarah, “Pendidikan Sejarah lewat teater mengapa tidak” Kata Kur, panggilan akrab aktor kelahiran Aceh Barat Daya tersebut.[]

**Penulis adalah pengamat seni budaya, peneliti juga pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia.

Comments

comments

Install Lintasgayo for Android Smartphone

Comments are closed.

Scroll To Top