Inilah Gayo Terbaru

Penjejakan Kesejarahan Bahasa Gayo Menguatkan Jati Diri Orang Gayo

Catatan : Yusradi Usman al-Gayoni.

tmp_18526-PicsArt_1417257922153-378893402Penjejakan kesejarahan bahasa Gayo membuka ruang kajian yang sarat makna dalam upaya penegasan, peneguhan, dan penguatan jati diri serta karakter keindonesiaan yang majemuk. “Bahasa Indonesia memang sangat penting sebagai bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Juga, sebagai perekat negara-bangsa, penguat jati diri, dan pembentuk karakter keindonesiaan.

Namun, perkembangan bahasa nasional, apalagi bahasa-bahasa asing, tidaklah mesti “meminggirkan, mengerdilkan, bahkan “membunuh” bahasa-bahasa lokal. Untuk itu, politik bahasa nasional perlu dikaji dan dikonsepkan kembali. Kedwibahasaan dan keanekabahasaan yang berimbang adalah solusi pilihan terbaik,” kata Prof. Aron Meko Mbete, pembicara Seminar Asal Usul/Budaya Gayo yang didampingi moderator Yusradi Usman al-Gayoni di Bale Musara Blangkejeren, Gayo Lues, Selasa (25/11/2014

Dijelaskan Guru Besar Universitas Udayana yang memaparkan makalah Penjejakan Sekilas Kesejarahan Bahasa Gayo Demi Penguatan Jati Diri itu, bahasa Gayo harus tetap menjadi bahasa ibu bagi sebagian besar guyub tutur Gayo, sebagaimana bahasa lokal lainnya. Sebagai perekat semangat keetnikan dan “sarang” kebudayaan Gayo, lanjutnya, bahasa Gayo menyimpan khazanah sumber daya makna dan nilai-nilai kehidupan.

Di dalam bahasa Gayo, secara khusus dalam memori kolektif generasi tua Gayo sesungguhnya tersimpan sumber daya kebudayaan warisan leluhur Gayo. Sumber daya kebudayaan dalam kemasan verbal berbahasa Gayo, secara khusus butir-butir makna kesejarahandan asal-muasalnya itu perlu digali, dikemas kembali secara kreatif, diberdayakan secara bersistem dan berkelanjutan antargenerasi.

“Ini adalah amanah, ikhtiar, dan strategi peneguhan jati diri keetnikan Gayo dalam keutuhan negara-bangsa Indonesia. Pengabaian warisan leluhur itu berarti pengingkaran jati diri kolektif sebagai orang Gayo. Sebagai bahasa yang umum dan “baku,” mandiri, dan “otonom”, inti bersama (common core) bahasa Gayo tetap harus dirawat agar bahasa itu berfungsi dan bertahan hidup. Sebab, dengan kesadaran akan norma,kebakuan (standarisasi), kemandirian, dan “otonominya” itu, niscaya keberdayaan, keberlanjutan, dan kelestarian bahasa Gayo dapat terjamin,” tegasnya.

Kerabat Bahasa Gayo

Dengan mengutip beberapa temuan, Prof. Aron, menyebutkan, kekerabatan bahasa Gayo-Karo 46%, Gayo-Melayu 41%, Gayo-Aceh 35%. Perbandingan persentase dengan bahasa-bahasa kerabat jauh, yakni Gayo-Sunda hanya 29%, Gayo-Sasak 28%, Gayo-Tagalok, Pilipina 27%, dan Gayo-Mentawai justru lebih kecil lagi, hanya 12% (Harimurti Kridalaksana). Sementara itu, temuan (sementara) Dardanila, Gayo-Karo hanya 33% dan Gayo-Alas 31%.

Artinya, terangnya, adanya hubungan kekerabatan erat bahasa Gayo dengan bahasa Aceh, bahasa Karo, bahasa Melayu, bahkan dengan bahasa Tagalok di Pilipina. Kekerabatan bahasa Gayo juga terlihat dengan bahasa Sunda di Jawa Barat dan bahasa Sasak di Nusa Tenggara Barat. “Meskipun, pada tingkat stock of amicrophylum, kekerabatan jauh juga tampak dengan bahasa Mentawai (12%),” sebutnya.

Secara geografis, katanya lagi, selat atau laut memang memisahkan kedua bahasa itu. Akan tetapi, jarak itu sesungguhnya lebih dekat dengan bahasa Gayo, Aceh, Melayu, dibandingkan dengan bahasa Tagalok dan bahasa Sasak. Makna kesejarahannya, simpulnya, ialah bahwa pencabangan dan silsilah bahasa-bahasa yang berbeda menginformasikan masa permisahan bahasa-bahasa itu memang berlangsung jauh lebih lama.

Penguatan Kesadaran Kritis

“Harapan kita semua adalah agar bahasa Gayo dengan sastra, tradisi tutur, dan budaya Gayo tetap terwaris antargenerasi dalam perjalanan waktu. Hidup adalah harapan dan pilihan. Termasuk di dalamnya, harapan agar warisan leluhur Gayo itu tetap menjadi pilihan hidup kebahasaan, tidaklah hanya bahasa Indonesia, tidaklah juga hanya bahasa asing, melainkan juga bahasa Gayo sebagai warisan budaya leluhurnya,” tuturnya.

Hanya dengan pilihan itulah, ungkapnya, bahasa Gayo akan tetap hidup berjaya di bumi Gayo, seperti juga bahasa-bahasa lokal lainnya di negeri tercinta ini. Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman makna kesejarahan bahasa Gayo dengan kekayaan sastra dan tradisi tuturnya, sangat penting demi penegasan dan peneguhan jati diri sebagai orang Gayo. Kesadaran kritis dalam menghadapi perubahan zaman dibutuhkan agar globalisasi bahasa dan budaya yang menerpa generasi baru Gayo dapat terkendali dan terseleksi secara arif dan terwaris secara lestari.

Rekomendasi

Di akhir paparanya, Prof. Aron merekomendasikan agar (1) penggalian dan penemuan fakta-fakta mutakhir tentang relasi kekerabatan bahasa Gayo dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, pengungkapan sumber daya makna, nilai tradisi, dan kebudayaan Gayo dalam pelbagai aspeknya; (2) pengayaan pengetahuan generasi muda Gayo demi pemahaman yang utuh dan mendalam tentang makna dannilai kesejarahan bahasa, budaya, dan etnik Gayo sebagai upaya yang strategis; dan (3) pengembangan sikap yang positif, selektif, dan kritis terhadap arus bahasa dan budaya global demi pengembangan bahasa, sastra, dan budaya Gayo secara kreatif.

Comments

comments