Inilah Gayo Opini Terbaru

Memahami Kultur ‘Saudere’ Ranah Gayo

Oleh Hanif Sofyan*

hanif-sofyanC. Snouck Hurgronje dalam Het Gajoland en Zijne Bewoners (1903), mencoba memotret dan memahami keberadaan masyarakat Gayo di masa lalu dan masa kini dengan berbagai dinamika perubahannya. Lalu M.Junus Malalatoa, menguatkannya dengan menyebut bahwa sistem nilai budaya Gayo dengan nilai utamanya, mukemel (harga diri) hanya dapat dicapai dengan kekuatan nilai-nilai; tertib, setia, kasih sayang, mutentu (kerja keras), amanah, musyawarah dan solidaritas yang didapatnya dengan bersikekemelen (berkompetisi) secara damai.

Hal menarik yang patut digarisbawahi adalah bacaan tentang ‘solidaritas’. Kajian yang mendalam dalam karya etnografi Snouck menunjukkan sebuah kultur kearifan masyarakat Gayo yang  menarik. Ini terkait soal solidaritas yang di tunjukkan dalam ‘saudere’ di Tanah Gayo yang lebih kuat secara sosial dari ‘kawan segampong’ di Aceh.

Ada kultur atau budaya yang secara substansial menjadi pembeda. Utamanya faktor hubungan kekerabatan yang patrilineal yang kuat. Namun tulisan ini tidak dalam konteks menciptakan situasi berhadap-hadapan antara saudere dan kawan segampong. Konteks analisa ini, hanya untuk melihat bagaimana solidaritas terbangun dalam kerangka budaya masyarakat Gayo yang semestinya menjadi nilai yang terus diamalkan dan bagaimana nasibnya dalam kekinian zaman.

Karena dalam perkembangan situasional secara sosial dan politis, kompetisi antar kepentingan menciptakan gap dan degradasi nilai. Hal ini menuntut perhatian intens terhadap upaya pengembalian nilai ke hakikatnya semula. Apalagi perbedaan ‘kasta atau kelas’ serta perbedaan keikutsertaan dalam arus politik praktis menciptakan ruang yang meng-kontaminasi kultur penting ini yang makin berubah.

Di masa lalu, keseluruhan nilai-nilai budaya tersebut menjadi standar-acuan tingkah laku dalam berbagai lini kehidupan; berorganisasi sosial, mata pencaharian bahkan dalam berkesenian. Sekaligus menjadi pengukur perubahan budaya dalam konteks kekinian sekalipun. (Melalatoa;xi/1996).

Dalam kaitan dengan solidaritas, kajian Snouck menuliskan bahwa rasa persaudaran yang kuat membangun simbiosis mutualis tidak hanya sebatas kondisi ‘senang’ saja, bahkan dalam ‘duka’ sekalipun. Dalam kasus ketidakmampuan seorang saudere membayar hutang, bela-bela atau hutang dari saudere adalah juga hutang bagi saudere satu belah lainnya. Bahkan secara ekstrim, jika tidak ada solusi lain kecuali harus berperang, hal itu akan dilakukan.

Namun ada juga kelonggaran adat dengan cara memutuskan hubungan solidaritas saudere tersebut. Pihak saudere yang dibebani tanggungjawab memohon kepada Reje (penghulu) pemegang adat (edet) sebagai ‘primus inter pares’, (tempat orang Gayo bernaung di bawah kepemimpinannya). Dalam sebuah upacara peceren agar saudere yang ‘nakal’ tersebut di ‘ceraikan’ (menyeren, cere) dengan membayar edet kepada Reje sebesar 8-10 ringgit. Begitupun sebaliknya ada proses memohon pengembalian kembali saudere yang cere jika telah berubah menjadi baik dengan melalui prosesi upacara ‘pemasuken’ dengan membayar denda yang besarnya sama dengan peceren dengan ditambah keperluan kenduri secukupnya karena harus dalam ritual pesta resmi.

Realitas ini menunjukkan kuatnya rasa solidaritas yang terbangun dalam konsep ‘saudere’, sebuah hubungan kekerabatan yang tidak sembarangan. Prosesi adat ini sekaligus juga menunjukkan kekuatan peran sistem pemerintahan gampong yang berbasis kearifan lokal yang kuat memegang nilai adat positif.

Dalam struktur pemerintahan seperti Gampong di Aceh, orang Gayo mengungkapkan landasan dan bentuk negerinya kedalam Sarak Opat, dewal empat segi; Satu Reje, Satu Tue, Satu Imem dan sejumlah Saudere atau anak buah. Sekaligus ini menjadi bentuk kesatuan masyarakat Gayo dan bentuk pemerintahannya. (Snouck;45)

Secara konsep ini mirip dengan pemerintahan Gampong yang kita kenal di Aceh, dimana dalam struktur kekuasaan pemerintahannya di pegang oleh Geuchik (kepala kampung). Siapa saja yang masuk  kedalam wilayah teritori gampong dengan sendirinya menjadi anak buah atau bagian dari geuchik yang bersangkutan. Sementara dalam konsep saudere orang Gayo yang berada dibawah kekuasaan Reje yang sekaligus adalah  dari keturunan darah yang sama, walaupun berpindah tempat tidak bisa serta merta melepaskan hubungan kekerabatannya. Kecuali dengan membiarkan diadopsi melalui perkawinan angkap oleh orang lain meskipun hal ini jarang terjadi.

Inilah faktor geonologis yang membedakan kekuatan Saudere dan kawan segampong yang berpegang pada daerah teritori dan tetap dalam kesatuan geonologis yang sama.

Bagaimana dalam realitas kekinian yang dibebani begitu banyak persoalan yang tidak lagi sederhana?. Apakah rasa solidaritas saudere masih memiliki magnet yang sama kuatnya. Adalah menjadi persoalan tersendiri yang dihadapi oleh sistem kearifan lokal saat ini. Mengalami degradasi dan kontaminasi, termasuk atas pengaruh bentukan sistem pemerintahan secara nasional yang ‘seragam’ dan dalam implementasinya bisa ‘menabrak’ dan meniadakan atau membunuh konsep kearifan lokal yang ada. Hal ini didasari bisa saja oleh sistem adat yang mungkin tidak lagi sejalan dengan realitas kemajuan zaman, kerumitan ritual atau persoalan yang membelit hubungan kekerabatan saudere tersebut yang tidak lagi sederhana dan bisa diselesaikan secara adat, bahkan masuk ke dalam ranah hukum formal.

Pemahaman yang konsisten akan mempertahankan nilai-nilai solidaritas yang saat ini menjadi ‘kebutuhan’ penting di tengah polarisasi kepentingan yang bisa membutakan rasa saudere. Konon lagi di tengah gempuran modernitas yang lintas batas.

Referensi Snouck terlepas dari kontroversi keterlibatannya dalam perang Aceh adalah bentuk sumbangan pemikiran yang dapat memberikan pencerahan pemikiran, menguatkan pemahaman tentang karakter orang Gayo, bentuk kekuatan struktur pemerintahan berbasis kearifan lokal. Namun tanpa kesadaran yang intens, bisa saja dalam beberapa dekade kita akan kehilangan nilai-nilai bijaksana ini karena tergerus zaman.[]

*Pemerhati masalah sosial budaya

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *