Opini Sara Sagi Terbaru

Seni Antara Value, Budaya dan Agama*

Ibrahim-Kadir,-Bencek-dan-para-Sastrawati-AcehSalman Yoga S

Setiap yang dilahirkan atau dihasilkan oleh seniman baik berupa benda, gerak, garis, teks, audio, visual, sesuatu di luar atau di atas pangggung yang bersifat instalatif atau peforment ternyata tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai karya seni. Bahkan setiap orang yang berkarya dalam bidang ”seni”pun tidak sertamerta dilabeli dengan sebutan ”seniman”. Kedua kata kunci antara ”karya” dan ”seniman” ternyata masih mempunyai serentetan kajian mendalam untuk sampai pada keabsahannya. Uji estetik dan uji value/nilai dengan sekian pointer kriteria yang mengikutinya adalah bagian utama yang masih memerlukan kajian dan tinjauan dalam perspektif  estetik.

Singkatnya, tidak semua hasil karya cipta manusia disebut dengan seni. Demikian kata Clive Bell dalam bukunya yang berjudul Art (1914). Alasannya karena secara spesifik seni adalah merupakan bentuk penting dari ciri objektif sebuah hasil karya, atau dengan istilah lain disebut dengan significant form. Sementara itu Susanne K.Langer merinci dan mendefnisikan seni sebagai satu istilah umum yang mencakup kekaryaan dalam bidang lukisan, musik, tari, sastra, drama dan film.

Bidang-bidang tersebut oleh Susanne K.Langer dibatasi sebagai kegiatan penciptaan bentuk-bentuk yang dapat dimengerti dan merupakan bagian dari pengungkapan perasaan manusia. Berbeda dengan kebudayaan secara makro, dimana bagian-bagian dari setiap jenis dan bentuk kesenian merupakan sub dari sebuah kebudayaan.

Antara seni dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Antara keduanya dapat bercampur baur dalam sebuah adonan penciptaan tanpa dapat dipilah secara jelas mana karya seni dan mana kebudayaan. Terlebih keduanya pada kehakikiannya adalah merupakan bagian yang integral dari daya cipta, karsa dan rasa manusia.

Dalam cermin minor, hasil cipta, karsa dan rasa manusia yang bersifat individual maupun komunitas dapat disebut dengan karya seni, tentu dengan syarat significant form namun tidak terlepas dari lingkup budaya. Rumusnya; manusia membentuk budaya dari eksistensi individu-individu dan manusia terpola oleh budaya yang melingkupinya.

Karya seni lukis misalnya, bentuk terpenting adalah penggabungan berbagai garis, warna, volume, nuansa dan semua unsur lainnya yang membangkitkan suatu tanggapan khas berupa perasaan estetik. Tampilan keseluruhan lukisan adalah significant form-nya karya seni, sementara pelukis dan keberadaan lukisannya adalah budaya yang terikat dengan nilai estetik.

Pada karya sastra dan teater nilai estetiknya adalah keseluruhan dari karya itu sendiri. Mulai dari peforment panggung, pilihan kosa kata, konteks, kontent serta susunan alur dan plot yang dapat menciptakan efek keindahan dan kemaknaan, konfigurasi, bloking, ekspresi ekspretion acting, pencahayaan dan lain sebagainya.

Potensi estetik inilah yang kemudian menjadi bagian dari perasaan seseorang yang digugah oleh bentuk penting dari actuality ekspretion yang layak disebut sebagai sebuah karya seni. Suatu pokok soal, tema, ajaran moral dan gambaran imajinatif, simbol atau bahkan refleksi ril dari realitas dalam bentuk benda, teks, verbal atau non verbal adalah bagian yang menjadi media komunikasi sekaligus kontent dari nilai estetik itu sendiri.

Meminjam istilah The Liang Ghie, dalam karya seni haruslah mempunyai sifat ekspresif, terutama tentang perasaan manusiawiyah (art an as presion of human is feeling ). Meskipun menurut  The Liang Ghie sendiri relief yang terdapat pada dinding-dinding gua pada zaman batu dianggap bukanlah sebagai sebuah lukisan, tetapi lebih pada penggambaran tingkat peradaban dan kebudayaan suku tertentu pada saat itu. Demikian pula halnya dengan sejumlah karya sastra lisan yang berbentuk mantra atau suatu tradisi yang  hidup dalam masyarakat.

Seorang penulis, Rusia Leo Tolstoy, dalam sebuah bukunya menyatakan bahwa ”seni adalah kegiatan orang yang dengan perantaraan tanda lahiriah menyampaikan perasaan kepada orang lain sehingga orang tersebut juga mengalami perasaan yang sama. Perantaraan itu dapat berupa berbagai bentuk dan gerak, garis, warna, suara atau bentuk yang diungkapkan melalui verbalitas berupa kata yang mempunyai inti sebagai medium pengalihan perasaan dan kesan-kesan dari sang seniman kepada dunia di luar dirinya. Pendapat Leo Tolstoy ini juga senada dengan perinsip Benedetto Croce yang juga  mengatakan bahwa ”the art is expression of  impression”.

Dalam kontek ke-Aceh-an, apa yang disebut kesenian sebenarnyalah bagian terpenting dari kebudayaan itu sendiri. Antara keduanya demikian menyatu sehingga sulit memilah mana yang seni mana yang tradisi. Karena tidak sedikit hazanah Aceh terbentuk dari budaya yang selanjutnya mengerucut menjadi karya seni yang memmiliki significant form.

Jikapun kita menerapkan sebuah formula sosiocultur-antropologi budaya sampai pada komunikasi etnologi terkini dan berhasil mengklasifikasikan serta memilah-milah antara masing-masing bidang dengan sifat kehakikiannya, maka produk finalnya adalah kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan yang ber-value/ber-nilai seni.

Sebagai ilustrasi kita kemukakan sebuah contoh tentang seorang ibu Aceh yang menimang anaknya dengan mendendangkan lagu berisi nasehat, petuah-petuah dan do’a yang disebut dengan Doda Idi atau Janyun dalam budaya Gayo. Tradisi ini terjadi dan menjadi bagian dari keseharian kaum ibu hampir di seluruh kampung, meskipun tradisi ini pula sudah mulai kehilangan jejak di sejumlah tempat.

Sekilas kebiasaan kaum ibu yang telah berlasung ratusan tahun ini tengah mengekspresikan nilai estetismenya dengan berdendang dan bernyanyi untuk menidurkan anaknya, padahal kebiasaan seperti ini telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian setiap ibu dalam meninabobokan anaknya. Hakikinyalah, kearifan lokal Aceh dalam tradisi seperti ini mereka dapat mentransformasikan faham atau bahkan serangkum value/nilai kepada segenap buah hatinya.

Lalu value/nilai apakah yang tengah dilakonkan? Nilai sebuah rasa keindahan, atau nilai penciptaan dan pembentukan karakter? Atau malah sang ibu kita justru tengah mengekspresikan nilai estetismenya dengan media seni oral melalui pentas menimang anak? Sebuah nilai seni sekaligus media agama.

Kalaupun hal demikian dapat digolongkan ke dalam sebuah bentuk kesenian, maka secara alamiah pula masyarakat Aceh adalah juga pelaku dan penikmat karya seni yang apresiatif, karena semenjak bayi mereka telah dikondisikan sedemikian rupa oleh lingkungannya.

Tradisi semacam ini juga dapat disebut sebagai penciptaan, transformasi ekspresif  keimanan berupa penanaman ke-tauhid-an dan pembentukan karakter kepada bayi, maka layaklah setiap ibu yang meng- Doda Idi /Janyun-kan anaknya kita sebut sebagai ”arsitek kampung” sekaligus sebagai ”seniman sejati” yang kita miliki dan kita kebiri peran dan eksistensinya dalam ranah seni, sosial dan budaya.

Ilustrasi seni menimang anak adalah satu dari sekian bentuk dan jenis tradisi yang berapliasiasi dengan kesenian. Tradisi lainnya seperti Petatah-Petitih, Hadih Maja, Meurukun, Dalail Khairat, Syair Nandong Singkil, Sebuku, Melengkan Sa’er di Gayo atau Dang Deria di Aceh Selatan adalah bagian lainnya dari kekayaan ekspresi Cultural Art Aceh.

Sejak membuminya agama Islam ke daratan Aceh, sejak itu pula pola dan dinamika kehidupan masyarakat diwarnai oleh ajaran Islam. Mulai dari prilaku hidup dalam keseharian sampai kepada pengekspresian jiwa melalui media kesenian yang awalnya dalam bentuk tarian maupun syair-syair.

Jenis seni dan kesenian yang tumbuh dan berkambang di Aceh secara umum bernuansakan Islam. Selanjutnya dunia kesenianlah yang lebih banyak berperan dalam mentransformasikan sejarah dan peradaban Aceh secara umum.  Ratusan literatur tentang sejarah Aceh sampai saat ini kerap menjadikan media kesenian sebagai bahan rujukan, baik berupa manuskrip-manuskrip, relief , sastra lisan dan lain sebaginya. Ini membuktikan bahwa  kesenian amatlah berperan di luar esensinya sendiri sebagai karya, cipta dan karsa.

Kesenian Aceh pada umumnya juga bukan sekedar seni yang lahir dan diaktualisasikan begitu saja. Ia merupakan simbol sekaligus cerminan karakter dari masyarakatnya. Keseluruhan seni pada hakikinya mengandung nilai, mulai dari tarian berupa gerak sampai bebunyian dan syair-syairnya. Tari-tarian tradisional sampai ke volklor yang berpuncak pada etnik yang ada (Aceh, Gayo, Alas, Kluet, Aneuk Jamee, Tamiang, Singkil, Simeulue) umumnya sangat dinamik, diperankan dengan nuansa  romantik dan herois.

Garis panjang perjalanan sejarah dan khazanah budaya Aceh, kesenian bukan saja menjadi media dalam pengekspresian diri sebagai aktualisasi nilai estetik belaka. Ia telah berperan sebagai suatu yang bernilai lebih dari sekedar sebuah kesenian. Ada proses, muatan dan misi yang juga ikut diusung. Kesenian menjadi sesuatu yang dapat menyampaikan, melarang, menganjurkan, membantah atau bahkan mengkritisi dan ”melawan” suatu realitas sosial masyarakat yang dianggap tidak ideal dalam konteks nilai kearifan lokal dan agama.

Hal ini bukan saja berlaku pada agama Islam tetapi juga bagi agama lainnya di dunia. Y Sumandiyo Hadi dalam bukunya yang berjudul Seni Dalam Ritual Agama meyakini bahwa seni dan budaya mempunyai peran penting dalam ritual agama. Seni merupakan hakekat dari ritual dan merupakan manifestasi dari yang Maha Tinggi. Sehingga tanpa simbol seni manusia tidak dapat merangkak mendekati sifat-sifat kesucian dan keagungan Tuhan-nya.

Singkronnya peristiwa transfer of value melalui karya seni dengan berbagai sisi kehidupan hanya dapat terjadi karena manusia selaku apresian memiliki daya penginderaan sebagai faktor estetik. Faktor inilah yang merupakan potensi kodrati utama dalam menjalani dan mengisi kesempurnaan, kedamaian dan keindahan kehidupan. Demikian urgennya hingga Allah SWT-pun telah menjadikan faktor estetika ini pada makhluk yang bernama manusia agar mau mendayagunakannya semaksimal mungkin untuk mencapai derajat hakikinya makhluk manusia, seperti yang disinggung-Nya dalam surat An-Nahl ayat 78.

Tidak heran jika kemudian setiap kesenian apapun bentuk dan jenisnya selalu bertolak dari asumsi bahwa secara normal semua manusia memberikan reaksi terhadap bentuk, permukaan, masa dan sebagainya dari hal-hal yang ia hadapi. Dalam susunan tertentu dan didukung oleh pengalaman subyektif hal-hal tersebut dapat melahirkan sensasi, kesan serta pencerahan rasa.

Pengalaman terhadap hubungan serta susunan yang menyenangkan adalah keindahan, sebaliknya ketidak indahan akan melahirkan kekecewaan, rasa tidak puas dan keprihatinan. Masalah susunan bentuk dan isi dalam kesenian secara umum berlaku terhadap suara, gerak, garis, warna, cahaya, nuansa, bentuk bunyi-bunyian, kata-kata dan lain sebagainya.

Karena seni dalam susunan harmoni dalam keadaan tertentu dapat melahirkan efek psikologis yamg cukup kuat. Apa yang dipancarkan seni Aceh dalam lingkup budaya adalah merupakan pengekspresian jiwa yang memungkinkannya dapat berperan sebagai media komunikasi rohani antar sesama dan orang lain secara lebih luas. Oleh karena dalam keadaan prima daya pikat karya dapat menggugah orang untuk ikut merasa terharu, gembira ataupun menyentak dalam merenungi kejadian diri, alam sekitar sampai kepada persoalan-persoalan yang ada di luar garis ruang dan waktu sekalipun. Inilah puncak dari proses pengalihan rasa (transfer of  feeling) dan pendayagunaan nilai estetika.

Hikayat Perang Sabil, adalah sebuah kesatuan syair-syair yang merangkum dan merangkai tafsir-tafsir ajaran Islam dalam hak mempertahankan diri, jihad serta kehormatan sebuah bangsa dan agama. Syekh Pante Kulu mengakumulasikannya dalam sebuah karya sastra lisan yang kemudian juga menjelma menjadi karya seni suara. Pengaruh dan kekuatan transfer of feeling yang dilahirkannya melebihi dari esensinya sebagai sebuah karya seni. Atas dasar kekuatan yang tak kasat mata itu pulalah kolonialis Belanda melarang dan mengharamkan hikayat ini dinyanyikan. Hal serupa juga menjadi kekhawatiran serius bagi Pemerintah Republik Indonesia dan TNI ketika konflik Aceh berlangsung.

Karya sastra lisan lainnya juga mempunyai ”api” yang sama dengan ruh Hikayat Perang Sabil adalah Seni Didong Gayo, meski bentuknya lebih spesifik dan mengutamakan kekuatan pada syair yang bersifat diskriptif. Kesenian rakyat yang tumbuh dan bersemi di dataran tinggi ini juga memiliki pengaruh yang cukup luas. Sebagaimana halnya karya sastra pada umumnya, ia merupakan produk nilai estetik yang banyak melibatkan aspek, di samping fungsi tekstual dan oral ia juga mempunyai ”kekuatan” dan pengaruh penting  sebagai puncak  sekaligus  media proses transfer of feeling.

Seni dalam kaitan ini bukan sekedar estisasi kata dan ungkapan, tetapi lebih kepada suatu hasil cipta rasa dan refleksi budaya yang merangkum nilai-nilai humanis, yang bersumber dari kontemplasi terhadap realitas ril dan imaji yang mewakili persoalan serta motif-motif  lain baik yang bersumber dari luar maupun dari dalam masyarakat sendiri. Karena itulah karya sastra pada sisi lain sesungguhnya dapat menjadi cermin jernih ataupun cermin buram dari suatu era atau zaman.

Seni yang memiliki peran sebagai pen-transfer value humanis of feeling atau sebagai pengalihan nilai kemanusiaan dan perasaan, dapat mengembangkan potensi positif manusia menuju cita-cita hidupnya, mengarahkan perkembangan kebudayaan kearah yang lebih terhormat dan beradab di atas keniscayaan. Ia mempunyai serta menyediakan ruang kemungkinan, sikap etis dan moral untuk menghadapi tatanan nilai secara individual maupun sosial. Sekali lagi, seni budaya Aceh dan beribu jenis kesenian lainnya yang berbasis pada suku yang ada pada hakikinya juga memiliki fungsi sebagai medium humanisasi.

Sejumlah fungsi itu diantaranya adalah; 1. Mampu menumbuhkan kepekaan terhdap keadaan lingkungan sosial. 2. Mampu memberi dan menanamkan kesadaran, kepercayaan,  pengalaman  rohani dan akal. 3. Mampu mewarisi serta menjembatani nilai-nilai luhur budaya dan agama. 4.Mempunyai daya sendiri dalam memberi kesenangan dan bagian keseimbangan pengetahuan. 5.Di samping itu, ia juga mampu menjadi sarana alternatif perjuangan manusia dalam memperoleh hak-haknya yang senilai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

Kesenian dengan tipikal inilah sesungguhnya yang disebut oleh Clive Bell sebagai seni yang mempunyai significant form. Seni yang dapat menjadikan objeknya dalam bentuk karya menjadi penting dan perlu.

Lalu apa yang terjadi di negeri ini ?

Sungguh ironi, demikianpun signifikannya peran dan fungsi seni dan kesenian tradisional Aceh dalam budaya dan dinamika kehidupan, ia masih saja menjadi sesuatu yang asing bagi kita. Asing bagi keberpihakan dalam pembangunan dan program pemerintah. Asing dalam pengalokasian anggaran pelestarian dan pemberdayaannya. Asing dalam melek akan peran dan fungsi sosialnya yang gtinggi. Dan yang tak kalah mirisnya adalah, asing dalam konteks kajian-kajian ilmiyah yang lebih mendalam dan berdayaguna. Tetapi tidak asing dalam pemanfaatannya sebagai media kampanye politik praktis.  Heeemmm.[]

  • Telah dimuat dalam Majalah Budaya Saman Cultur Magazine edisi III, Desember 2010.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *