Inilah Gayo Opini Terbaru

Masih adakah Identitas Gayo ?

Muchlis-Gayo-SH-300x200Oleh : Muchlis Gayo

Secara random atau acak penduduk Aceh Tengah terdiri dari penduduk asli Gayo + 40 %, hampir seimbang dengan penduduk transmigrasi pulau Jawa + 40 %, yang mendiami disemua Kecamatan Kabupaten Aceh Tengah kecuali Kecamatan Bintang. 20 % sisanya migrasi dari  Aceh Pidie, Aceh Selatan Barat Daya dan Timur, serta Provinsi Sumatera Utara dan Barat.

Gelombang pertama migrasi dari pulau Jawa di masa pemerintahan VOC untuk tenaga penderes terpentin, perkebunan teh dan kopi di sekitar Bargendal, Bies, Belanggele. Gelombang kedua pada tahun 1970-an yang ditempatkan di Jagong Jeged, Atu Lintang,  Pantan Musara dan lokasi lainnya.

Jauh sebelum migrasi ethnis Jawa, di Gayo Lut telah terjadi akulturasi ethnis Gayo dengan ethnis Karo. Akulturasi terjadi dalam 2 fase, fase pertama kontak induk bangsa secara damai, datangnya sebagai tenaga kerja. Kontak kedua karena permusuhan akibat dibunuhnya para penjudi dari ethnis Karo oleh Reje Bukit ( baca artikel Abu Bakar Bintang). Akulturasi kedua induk bangsa ini tidak mempengaruhi nilai budaya ethnis Gayo, karena ethnis Karo menikahi wanita Gayo secara islam, lalu berkembang dalam budaya Gayo, dan membentuk pemerintahan menggantikan Reje Bukit yang menyingkir ke Serule. Pemerintahan Reje Cik diakui oleh Sulthan Aceh disebut Kejurun Cik, ditahap inilah munculnya masalah Cik-Bukit atau Uken-Toa di Gayo Lut.

Pengelompokan Uken-toa, Cik-Bukit ditemukan juga dalam kehidupan masyarakat lainnya, istilah dalam anthropologi, Moiety. Moiety adalah kelompok kekerabatan yang terdiri dari gabungan beberapa clan yang merupakan separuh dari pada masyarakat. Dalam kehidupan orang Gayo Lut istilah Uken adalah Moiety Berblah (blah Cik, Gunung, Bukit, Lot, Jongok, dll), untuk istilah Toa, Moiety Bermarga, (Cibro, Munthe, Malala Tebe, dll). yang tidak bermarga, termasuk Gayo berblah yang lepas dari induknya.

Gayo dan Karo sama-sama barasal dari Indocina, Prof. Dr. Sondang Siagian dalam buku Asy. Coubat, Panglima Boekit Reje Linge ke XVII, menyebutkan suku Gayo, Batak, Karo, Fak-fak Dairy seasal dan seketurunan yang bermigrasi ke ujung barat sumatera melalui Genting Kra (antara Myanmar dengan Thailand). Berdasarkan kesamaan asal maka sangat keliru jika ada kelompok tertentu mempertajam masalah kedua Moiety.

Di abad globalisasi, masalah budaya semakin penting, budaya merupakan jati diri atau identitas suatu bangsa. Jika suatu bangsa atau suku tidak memiliki identitas, maka bangsa atau suku itu akan menyerap budaya suku bangsa lainnya, contoh Malaysia yang mengakui beberapa kesenian Jawa dan melayu menjadi miliknya. Gayo yang kaya nilai budayanya tidak boleh mengulang apa yang terjadi di Negara Malaysia.

Penduduk Malaysia sama dengan penduduk Indonesia, dari ras Mongoloid sub Malayan Mongoloid, (klasifikasi dari A.L. Kroeber). Selain kesamaan Melayu Malaysia dengan Melayu Sumatera, terjadi juga di Malaysia kedatangan migrasi dari pulau Jawa dan hidup beranak pinak di Malaysia. Dilihat dari faktor  kontak induk bangsa, adalah wajar jika Malaysia mengakui tari Srimpi, Angklong, Wayang, Batik, tari Serampang 12, teluk Belanga menjadi miliknya.

Peresapan budaya tidak terjadi serta merta, tetapi melalui proses perekaman oleh generasi berikutnya dan disaat tertentu menjadi milik masyarakatnya. Seperti apa yang terjadi di Malysia sudah mulai terlihat di Gayo, contoh; maraknya atraksi Kuda Kepang, Tambur dan Silat Padang dalam acara resmi, motif ukiran Pidie dan Padang terlihat di pelaminan dan baju penganten Gayo. Tarian Gayo diproduksi oleh guru-guru muda yang tidak memahami gerak dasar tari Gayo, produksi album Gayo cukup signifikan , tapi hanya lagunya berbahasa gayo tapi musiknya dangdut, jazz, blues dan pop, dan sebagainya.

Penataan dan mempertahankan budaya Gayo tidak termasuk sara, tetapi melaksanakan amanah dari pasal 32 UUD 1945, yang menjamin bahwa unsur-unsur Kebudayaan Daerah merupakan identitas Bangsa dan Negara yang harus dilestarikan, dikembangkan, dan diteguhkan ditengah-tengah perubahan global.  UU No. 18/2006 Tentang Pemerintahan Aceh, memberi peluang yang sama,  diantaranya, pasal 45 ayat (1) butir d, e,  Pasal 96 ayat (1),  Bab XIII Lembaga Adat, pasal 98, 99, BAB XXXI Kebudayaan, pasal 221, 222.

Terlepas siapa yang jadi Presiden hasil pemilihan 9 Juli 2014, revolusi mental dan ekonomi kreatif perlu kita cermati dan realisasikan melalui perencanaan yang terpola untuk mencari kembali  identitas atau jati diri ke-Gayo-an untuk dikembangkan, di lestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan dapat mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan ekonomi kreatif.

Untuk mencari kembali identitas dan jati diri ke-gayo-an, dukungan Pemerintah Daerah terhadap lembaga-lembaga kajian dan pengembangan budaya, adat  dan seni, serta sanggar-sanggar seni tidak boleh setengah-setengah. Peranan Majelis Adat Nenggeri Gayo (MANGO) yang sudah diatur dalam Qanun Aceh, harus didorong menjadi candradimukanya lembaga kajian budaya yang hasilnya dapat dioperasionalkan di sekolah-sekolah dan sanggar-sanggar dan pelaku ekonomi kreatif.

Dengan mendorong lembaga-lembaga tersebut, fungsi pemerintah sebagai pelaksana kegiatan mulai dikurangi, dan peranannya sebagai penyeimbang dan pengawasan pelaksanaan perangkat hukum ditingkatkan, dengan selalu memperhatikan kemajuan pengetahuan dan teknologi masyarakat dan penetrapan syariat Islam dalam kemajemukan masyarakatnya.

Catatan penulis, tulisan ini bagian dari hasil penelitian dan kajian yang dijadikan buku Potret Gayo Belacan yang akan diterbitkan beberapa waktu kedepan.

*Pemerhati sejarah, adat, seni dan budaya Gayo, beralamat di Takengon

Comments

comments