Opini Terbaru

Curhat

Oleh Johansyah*

MENCURAHKAN isi hati atau curhat adalah aktivitas dialogis yang dilakukan seseorang untuk menceritakan persoalan hidup yang dihadapinya kepada orang yang dianggap sangat dekat dengannya. Tujuannya bisa saja ingin mencari solusi, atau paling tidak diharapkan dapat meringankan beban batin yang selama ini dirasakan menggangu pikiran dan ketenangan hidupnya.

Persoalan hidup adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari karena ini merupakan syarat mutlak bagi semua manusia yang bereksistensi. Untuk itu orang tidak boleh lari dari masalah karena lari dari masalah itu juga masalah. Persoalan yang dihadapi manusia memang sangat beragam, bisa persoalan keluarga, kantor, dan persoalan di lingkungannya. Bisa juga persoalan pribadi karena gagal jadi anggota legislatif lalu stres, mengeluh karena sering sakit, musibah, persoalan suami selingkuh, persoalan mertua dan sebagainya.

Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk curhat agar beban batin yang membelenggu jiwanya dapat berkurang. Di kota-kota besar, bahkan para psikolog sengaja membuka klinik konsultasi bagi mereka yang bermasalah. Begitu pula di rumah sakit, sengaja dipersiapkan tenaga psikolog yang betujuan untuk membantu pasien-pasien yang mengalami depresi atau tekanan kejiwaan karena masalah-masalah yang kita sebutkan tadi.

Seiring dengan perkembangan media teknologi, sekarang orang ramai curhat lewat sosial media seperti twitter dan facebook. Kalau kita aktif di facebook, pasti ada status baru dari teman-teman yang tidak sedikit mengungkap masalah pribadinya walau pun kesannya iseng. Lain lagi dengan kaum selebriti, mereka mencurahkan isi hatinya melalui media televisi sehingga hampir setiap televisi swasta memiliki program khusus untuk mereka. Tentu, karena acara ini sangat digandrungi oleh masyarakat, terutama kalangan remaja dan kaum ibu.

Di banyak instansi pemerintahan, kaum perempuan terkadang lebih memilih waktu istirahatnya untuk ngobrol, curhak kepada teman-temannya tentang masalah yang dihadapinya. Kalau kaum pria biasanya lebih memilih untuk berbincang tentang situasi politik dan sosial yang lebih umum sifatnya, atau membincangkan aktifitas rutin yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Kelihatannya kecenderungan kaum ibu untuk saling bercurhat lebih kuat dibanding kaum bapak. Ini hanya asumsi, tapi coba amati di lingkungan kerja kita, apa benar atau tidak?

Bagi para remaja, barangkali curhat adalah kebutuhan psikologis ketika dia berada dalam masa-masa perkembangan menuju usia dewasa. Curhat yang mengasyikkan barangkali terkait masalah hubungan cinta; entah kecewa karena diputus, atau pasangan yang berkhianat, dan masalah-masalah lainnya. Curhatnya kaum remaja dalam percintaan ini boleh dikata sebagai candu karena menyenangkan, apalagi ketika memasuki dunia hayalan.

Mencurahkan isi hati terbilang penting. Orang yang tertutup dan suka menyembunyikan masalahnya bisa saja sangat depresi dan stress dan akibatnya bisa fatal. Orang seperti ini terkadang melakukan aksi nekat yang mengancam nyawanya. Belum lama ini, ada satu keluarga nekat mengakhiri hidup dengan minum racun karena terlilit masalah hutang. Mereka lebih memilih untuk bunuh diri ketimbang mencari solusi dengan rekan atau kolega. Padahal kalau persoalan itu diceritakan kepada teman dan saudara, mungkin ada jalan keluarnya dan mereka tidak perlu melakukan aksi konyol ini.

Perspektif Al Qur’an

Lalu bagaimana sebenarnya perspektif alqur’an bagi orang-orang yang suka menceritakan permasalahannya kepada orang lain? Tentu tidak ada larangan jika curhat tidak mendatangkan mudarat. Curhat seorang istri atau suami kepada teman sekantor yang menceritakan ulah suami yang kerap menjengkelkan barangkali masih wajar. Namun ketika dia membuka kekurangan atau aib suami atau istri kepada orang lain tentu melampaui batas dan ini tidak baik. Curhat model lain yang juga tidak baik adalah model curhatnya para remaja dengan pacarnya. Sering kali mereka terseret pada hal-hal yang buruk. Awalnya cerita, lama kelamaan semakin akrab, dan akhirnya melakukan tindakan di luar batas kepatutan. Akhirnya curhat bukan justru mengurangi masalah, tetapi malah menambah masalah.

Curhat yang sesungguhnya adalah do’a kepada Tuhan. Apa pun persoalan hidup maka ceritakanlah kepada Tuhan ketika kita selesai shalat. Bukankah Dia selalu membuka ruang konsultasi dan komunikasi bagi hamba-Nya kapan pun orang menghendakinya? Lalu mengapa kita tidak curhat saja pada-Nya yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui? Firman-Nya, “Dan Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan do’a orang yang memohon apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (panggilan/perintah)-Ku, dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk ” (QS. al-Baqarah: 186).

Curhat kepada Tuhan menandakan bahwa sebagai seorang hamba, kita merasa ikhlas dalam menerima cobaan dari-Nya. Bahkan orang-orang yang keimanannya mantap akan menganggap bahwa di balik setiap masalah yang dihadapinya pasti ada hikmah yang terkadang beberapa waktu berselang baru kita pahami. Keyakinan seperti ini juga yang membuat orang untuk lebih memilih curhat kepada Tuhan karena dia yakin bahwa melalui do’anya Tuhan akan memberi solusi cerdas yang lebih baik bagi dirinya.

Curhat di malam hari

Bercurhat kepada Tuhan memang dapat dilakukan kapan saja kita mau. Namun demikian mengadukan segala persoalan pada waktu sepi dan hening di malam hari nilainya berbeda. Ketika semua orang istirahat lalu kita bangun untuk melakukan shalat tahajjud. Setelah shalat, lalu kita tumpahkan isi hati, keinginan. berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan khusyuk. Ini adalah di salah satu anjuran Tuhan sebagaimana Firman-Nya, “Dan pada sebahagian malam hari bershalat Tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra’: 79).

Curhat di malah hari tentu berbeda kesannya dengan curhat di siang hari. Hal ini disebabkan karena waktu malam memang dimanfaatkan sebagian besar manusia untuk beristirahat. Tetapi dengan keinginan yang tulus untuk mendekatkan diri kepada-Nya kita bangun melawan kantuk, dingin, dan rasa malas agar dapat bercerita kepada Tuhan sepuasnya.

Akhirnya, apapun persoalan hidup yang kita hadapi, silakan curahkan kepada teman, keluarga, saudara, dan siapa saja yang sudah kita anggap dekat, tapi jangan lupa adukanlah juga kepada Tuhan melalui do’a di setiap shalat kita. Curhat kepada manusia dapat melahirkan solusi, tapi juga bisa saja menambah beban masalah, tetapi curhat kepada Tuhan dengan penuh rendah hati, niscaya kita akan mendapatkan ketenangan batin, dan menunggu solusi yang cerdas dari Tuhan (diiringi usaha tentunya) dengan penuh harap dan sabar. Wallahu A’lam bisshawab!

 

*Pemerhati masalah sosial keagamaan. Email: johan.arka@yahoo.co.id

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *