Kopi Gayo Sara Sagi Terbaru

Komodifikasi Produk Kopi Arabika Gayo

Oleh : Ismar Ramadhani*

kopi.(LGco-aman.ZaiZa)
kopi.(LGco-aman.ZaiZa)

KOPI Arabika semakin seksi untuk diperbincangkan di dataran tinggi Gayo. Betapa tidak produksi kopi yang semakin beragam dihasilkan melalui proses yang berbeda, merupakan cara untuk memberikan nilai lebih pada produksi kopi. Sebut saja, kata Specialty coffee yang mengacu pada kualitas kopi terbaik dengan proses terbaik yang dilakukan. Kemudian ada jenis kopi Peaberry (kopi laki), Longberry, luwak liar dan luwak liar peaberry yang didapatkan dengan cara memilha-milah jenis kopi yang ada sesaui dengan bentuk. Melalui proses, anda akan menemukan sebutan seperti; natural proses,  dan honey proses.

Masing-masing kopi ini memiliki keunggulan citarasa, yang menjadi jualan kopi Arabika Gayo saat ini. Kedepan bukan tidak mungkin para penggiat usaha kopi akan menemukan cara-cara baru untuk memberikan nilai tambah pada kopi dengan proses yang lebih beragam. Selain itu, perbincangan tentang kopi, bagaimana memprosesnya, terus berlangsung hingga saat ini. Percobaan-percobaan pun dilakukan guna menemukan citarasa yang semakin baik dan beragam. Aktifitas ini menunjukkan adanya komodifikasi terhadap kopi. Yaitu aktifitas pemberian nilai ekonomis pada suatu barang, yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomis menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.

Selain proses yang mulai beragam, penjualan kopi dalam bentuk bubuk dan biji pada kemasan elegan, merupakan nilai jual lainnya yang membuat kopi Arabika Gayo semakin eksklusif. Ditambah lagi dengan skor yang didapatkan petani atau pengusaha kopi dari Gayo Cuper Team, yang merupakan kumpulan orang-orang yang ahli dalam menilai citaras. Skor ini digunakan oleh penjual sebagai bahan untuk menjelaskan kepada para pembeli, tentang kualitas kopinya dan mengapa kopi tersebut harus di hargai Rp200.000/ kilo, bahkan bisa lebih dari itu atau kurang dari itu.

Saya melihat pada tahap ini, ada upaya untuk menaikan nilai jual kopi sesuai dengan kualitas si kopi itu sendiri. Bahkan, terkadang ada pengusaha yang menjual kopinya dengan lebih murah karena dia tahu kualitas kopinya tidak mungkin atau ‘layak’ dihargai lebih tinggi.
Jika demikian cerita tentang kopi untuk di minum. Bagaimana dengan peluang lain yang bisa diambil dari kopi.

Jajanan dengan rasa kopi

Jajanan atau panganan adalah jenis makan kecil dapat dijadikan kudapan saat ngopi atau meminum teh. Di Indonesia ada begitu banyak jenis jajanan. Sebagian kecil darinya telah menjadi ikon bagi daerah yang memproduksi. Sebut saja, Bika Ambon yang begitu terkenal sebagai oleh-oleh dari Medan, Gudeg atau Bapia dari Jojgakarta, roti unyil dan pangan dari keladi khas Bogor. Maka, terpikir oleh saya bagaimana masyarakat dataran tinggi Gayo, bisa mengeksplorasi ‘kopi’ menjadi panganan bernilai ‘ikon’ Gayo.

Menjadikan kopi sebagai bagian dari kreasi makanan adalah peluang lain yang dapat dijadikan pilihan petani atau penggiat usaha untuk mengoptimalkan pendapatan dari kopi Arabika Gayo. Sebut saja jajanan dodol kopi yang telah berhasil di produksi oleh Le Parte’ milik Nasruddin di Bireuen. Dodol produksinya dihargai Rp.6000, untuk satu kemasan kecil. Dodol kreasi Le Parte; ini telah mampu menyajikan rasa baru dari kopi. Rasanya yang legit, manis bertambah dengan sedikit rasa kopi sangatlah nikmat. Le Parte’ bahkan telah memproduksi egg roll (Kue Sepit) dengan rasa kopi. Inspirasi yang sangat hebat. Bila ada pengusaha yang serius menanggapi peluang ini. Dodol kopi dan egg roll kopi dapat menjadi produk unggulan Gayo bahkan dapat menjadi oleh-oleh yang menurut saya, sangat potensial.

Peluang ini sangat mungkin, mengingat Dataran tinggi Gayo memiliki masyarakat suku Jawa yang sangat ahli dalam membuat dodol (jenang). Keahlian ini akan menjadi modal untuk memproduksi dodol kopi khas Gayo. Usaha produksi ini juga akan membuka peluang usaha baru dan peluang kerja baru di Gayo.

Selain dodol, ide kreatif saya mengatakan kenapa tidak mencoba membuat lepat kupi. Rasanya tidak akan terlalu berbeda dengan dodol kopi, hanya saja akan mendapat tambahan isi parutan kelapa pada bagian dalamnya. Sejauh ini, lepat belumlah menjadi produk unggulan yang di lirik. Padahal, lepat sangat berpotensi untuk dijadikan oleh-oleh. Ini karena lepat dapat dinikmati dalam keadaan hangat dan dapat disimpan dalam waktu yang lama. Sama seperti dodol, lepat juga berpeluang untuk membuka ruang kerja bagi ibu-ibu atau generasi muda yang memilih untuk menjadi wirausaha.

Setelah berbincang tentang kopi yang nikmat dan peluang untuk memberikan nilai jual dengan cara lain. Bagaimana dengan limbah atau sisa kopi. Baik kulit merah, kulit tanduk, dan bubuk sisa pemakaian?

Telah menjadi pengetahuan bersama bahwa kulit merah (cerry) kerap digunakan sebagai pupuk organik oleh petani. Pertanyaaannya adalah apakah sudah ada yang mengelola pembuatan pupuk organik ini dengan serius? Sebab bila kulit merah ini di proses dengan baik, bukan tidak mungkin tanaman kopi akan terbebas dari ketergantungan pada pupuk non organik.

Tidak hanya selesai sampai disini. Pada proses pembuatan pupuk, panas yang dihasilkan oleh pembusukan kulit merah ini juga berpeluang sebagai sumber energi. Tentu harus ada yang mengkaji ini dengan lebih konferhensif untuk menemukan kesimpulan apakah kulit merah kopi berpeluang sebagai sumber energi lengkap dengan hitung-hitungannya.

Kita masih memiliki kulit tanduk. Yang oleh sebagian petani nenas di Kecamatan Pegasing dijadikan pupuk, sekaligus penghambat pertumbuhan rumput. Tapi mari lihat fungsi lain yang mungkin saja dapat dilakukan oleh limbah kulit tanduk ini. Bila sebelumnya saya menulis briket dari daun pinus, maka harus ada yang mencoba membuat briket dari kulit tand kopiuk. Sebagaimana dikeahui. Limbah kulit tanduk, pada umumnya rendah kadar air. Bentuknya yang lembut dan kecil akan memudahkan untuk di-press. Kalaupun kulit tanduk ini akan dihaluskan, prosesnya tidak akan memakan waktu lama. Sekali lagi, semoga akan ada mahasiswa tehnik atau jurusan lainnya yang mau menjadikan ini sebagai riset ilmiahnya. Sehingga akan ada pengusaha yang tertarik menanamkan modal pada usaha ini.

Lalu bagimana dengan sisa kopi, yang ekstraknya telah diolah menjadi aneka minuman kopi? Masih ada limbah bubuk kopi yang saat ini dapat anda temukan di cafe-cafe. Atau bagi anda yang sudah menikmati kopi dirumah dengan mesin espresso, maka akan ada sisa bubuk kopi yang mungkin anda belum tahu akan dijadikan apa.

Bubuk kopi sisa memiliki banyak kegunaan. Mulai dari lulur yang sangat bagus untuk kesehatan kulit anda, untuk pupuk tanaman, bahkan bubuk kopi ini dapat digunakan untuk menghalau semut. Kesemua ini bila dilakukan dalam skala besar, bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang usaha dan memberi nilai tambah pada bubuk kopi sisa yang ada di Gayo.

Tidak hanya ‘kopi’ dalam bentuk produk jadi (bisa dimakan) yang dijadikan sebagai bahan komodifikasi. Bahkan saat ini sejumlah anak muda telah memproduksi kaos dengan tema-tema kopi. Ini tentu sangat bagus. Bahkan terdapat peluang untuk menjadikan ‘kopi’ sebagai motif kain, entah itu batik atau kerawang. Sebab setahu saya, ada motif kerawang yang tampak seperti bunga kopi.

Maka pada bagian akhri dari tulisan ini. terdapat kesimpulan bahwa, merasa cukup dengan apa yang ada, tidak sepenuhnya baik. Namun mengekplorasi bebas, apa yang dimiliki oleh dataran tinggi Gayo saat ini, merupakan kebutuhan yang perlu untuk dilakukan. Bagaimana memberikan nilai ekonomis pada semua hal yang terkait dengan kopi, merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan untuk memberikan pendapatan lebih bagi masyarakat Gayo. Menumbuhkan semangat produksi dalah salah satu langkah yang dapat diambil. Sehingga masyarakat kota dingin ini dapat lebih sejahtera, meski hanya bergantung pada produk kopi.

*Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)

Comments

comments