Sara Sagi Terbaru

Waih = Air, Gayo dan Hawaii sebenarnya suku yang sama?

Oleh Win Wan Nur*

SANGAT menarik membaca artikel Ir. H. M. Ahsan Jass, M. Eng di media ini “Menyikapi Air sebagai Rahmat Allah “http://lintasgayo.co/2014/01/26/menyikapi-air-sebagai-rahmat-allah

Dalam pembuka artikelnya Ir. H. M. Ahsan Jass, M. Eng mengatakan AIR yang diturunkan Allah SWT kemuka bumi ini merupakan salah satu unsur  pembangun kesetimbangan lingkungan (ekologi). Keberlangsungan hidup dan kehidupan di bumi sangat tergantung kepada air, hingga keberadaan air sangat dirasakan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk di bumi ini.

Ini adalah pernyataan yang tak terbantahkan. Begitu pentingnya air, sampai-sampai Thales (624–625 SM) seorang cendekiawan dari Miletus yang dalam setiap literatur filsafat disebut-sebut sebagai filsuf pertama menyebutkan bahwa semua yang ada di alam ini berasal dari air.

Dari dua ilustrasi di atas, dan juga kalau kita amati fenomena sejarah peradaban manusia. Dalam kebudayaan apapun, Air adalah elemen penting bahkan bisa dikatakan merupakan elemen terpenting bagi berkembangnya sebuah peradaban. Tanpa air, tak ada peradaban.

Peradaban mesopotamia berkembang di sepanjang aliran sungai Eufrat dan Tigris, peradaban mesir berkembang di sepanjang aliran sungai nil dan yang terdekat. Kerangka nenek moyang orang Gayo yang sudah berusia ribuan tahun, juga ditemukan di ceruk Mendale yang dekat dengan air.

Melihat fenomena itu, tidaklah berlebihan kalau dalam mencari hubungan kekerabatan berdasarkan bahasa. Kesamaan sebutan untuk air dapat digunakan sebagai alat melacak jauh dekatnya hubungan kekerabatan.

Bahasa adalah alat berkomunikasi antar sesama manusia. Sebagai alat komunikasi, bahasa tidaklah statis. Bahasa berkembang, seiring dengan bertambahnya tema yang dikomunikasikan. Persentuhan antar dua budaya yang asing satu sama lain, akan menghasilkan kosa kata baru yang memperkaya bahasa dari masing-masing budaya itu. Karena dalam persentuhan budaya itu, masing-masing budaya akan menyerap kosa kata yang menjelaskan ide atau tema yang sebelumnya hanya eksis dalam budaya asing itu menjadi bahasa baru.

Contohnya, dulu dalam kosa kata bahasa Inggris tidak ada kosa kata ‘Coffee’ sebelum orang Arab memperkenalkan minuman ini. Begitupula dengan ‘Chocolate’ yang diserap dari bahasa penduduk asli Amerika. Peradaban yang lebih dominan, biasanya menyumbangkan kosa kata yang lebih banyak bagi peradaban yang kurang dominan. Kadang persentuhan ini hanya bersifat sepihak, tidak timbal balik. Sehingga hanya satu peradaban yang menyumbangkan kosa katanya ke dalam bahasa dari peradaban lain. Tidak sebaliknya.

Ini bisa dilihat seperti sekarang, kosa kata seperti komputer, telefon, motor, handuk, asbak, sepir dan lain-lain yang berasal dari bahasa Inggris, Belanda dan Perancis yang diserap menjadi bahasa Gayo. Tapi bisa dikatakan, tidak ada kosa kata bahasa Gayo yang diserap menjadi bahasa Inggris, Belanda dan Perancis.

Di sisi lain, meskipun bahasa Gayo banyak memiliki kemiripan dengan bahasa Inggris, Belanda dan Perancis, tentu menggelikan kalau ada yang mengatakan orang Gayo dan orang Belanda berkerabat dekat secara genetis dan merupakan pecahan dari satu suku yang sama. Sebab, siapapun bisa dengan mudah melihat kalau kosa kata dari bahasa-bahasa eropa yang diserap ke dalam bahasa Gayo itu adalah kosa kata baru yang baru dikenal di Gayo, baru-baru ini saja.

Kembali ke air. Karena air adalah elemen terpenting dalam berkembangnya peradaban, yang tentu sudah dikenal sejak orang pertama kali menciptakan bahasa untuk sukunya. Maka tidak berlebihan kalau kita menyimpulkan kalau suku-suku di dunia yang menyebut air dengan bahasa yang sama dulunya adalah satu suku yang sama. Yang terpecah karena imigrasi, dan kemudian mengembangkan bahasa sendiri-sendiri.

Dalam konteks Gayo dan bahasanya, Air ini menjadi sangat menarik. Sebab melalui Air, kita orang Gayo bisa menelusuri hubungan kekerabatan kita dengan suku-suku lain yang sekarang sudah terpisah jauh bahkan sangat jauh secara geografi bahkan negara.

Orang Gayo, sebagaimana kita ketahui menyebut air dengan kata ‘Waih’. Di Sumatera suku lain yang menggunakan kata ini dengan sebutan yang sama adalah Lampung, mereka menyebutnya WAY. Di Gayo kita mengenal tempat dengan nama Waih Tenang, Waih ni ongkal dan lain-lain. Di Lampung kita mengenal tempat dengan nama WAY KAMBAS.

Kemudian jauh ke timur, di NTT tepatnya di pulau Sumba, masyarakatnya juga menyebut air dengan nama Wai, di sana ada kota yang bernama WAINGAPU.

Lebih jauh lagi di Selandia Baru, suku Maori juga menyebut air dengan sebutan Wai, di sana kita mengenal tempat dengan nama Waitangi.

Kemudian di Hawaii, tempat kelahiran presiden Amerika saat ini. Penduduk aslinya juga menyebut Air dengan nama Wai. Di sana kita mengenal sebuah pantai terkenal dengan nama WAIKIKI.

Kalau melihat karakter fisik dari suku-suku itu, kecuali penduduk sumba. Secara fisik, orang Gayo memang terlihat mirip dengan penduduk asli Lampung, Maori dan Hawaii. Jadi kalau dilakukan test DNA, kita mungkin tak perlu heran kalau secara genetis ternyata kita lebih dekat berkerabat dengan orang Hawaii yang tinggal pada jarak separuh planet bumi dari tempat kita, dibandingkan dengan tetangga terdekat kita, orang Aceh yang menyebut air dengan kata Ie.

Dan yang paling menarik dari semuanya. Berdasarkan teori persebaran manusia yang berasal dari afrika dan kemudian berkembang dari daratan besar Eurasia. Persebaran manusia itu bergerak dari barat ke timur, bukan sebaliknya.

Nah, suku di bagian paling barat dari bumi yang menyebut air dengan sebutan Waih adalah Gayo. Jadi kalau benar Gayo dan Hawaii dulunya adalah dua suku yang sama. Yang paling mungkin terjadi adalah orang Hawaii berasal dari Gayo, bukan sebaliknya.

Dan jangan kaget kalau suatu saat nanti kita mendapati fakta, bahwa kerangka nenek moyang urang Gayo yang ditemukan di ceruk Mendale adalah kerangka nenek moyang orang Hawaii juga.

*Penulis adalah anggota Dewan Adat Gayo

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *