Opini Terbaru

Merindukan Sosok Teladan

(Refleksi Maulid Nabi)

Oleh Johansyah*

 

NABI Muhammad Saw adalah sosok teladan, tetapi meneladani Nabi Saw bukanlah perkara gampang meski pun dalil-dalil alqur’an dengan jelas mengatakan bahwa beliau adalah teladan. Namun yang jelas, beliau adalah diplomator Tuhan yang ditugaskan untuk menegakkan misi humanisasi agar manusia menjadi manusia yang sesungguhnya, bukan pura-pura menjadi manusia.

Sebagai pengikut yang setia, keinginan untuk meneladani Nabi Saw inilah yang sejatinya kita tata dalam sanubari tanpa henti. Ketika rutinitas tahunan maulid nabi Saw diselenggarakan, marilah kita segarkan spirit makarimal akhlak yang beliau tinggalkan. Bertanyalah pada diri sendiri, apakah pola hidup kita sudah mendekati pola hidup yang diterapkan Nabi Saw, ataukah sangat jauh dari apa yang dicontohkannya.

Peringatan maulid Nabi Saw belumlah bermakna apa-apa jika hanya diadakan di masjid dengan memanggil da’i dan kemudian ditutup dengan acara makan-makan. Maulid Nabi Saw kiranya akan bermakna ketika kita dapat mengambil esensi dari maulid itu, yakni seorang sosok Nabi Muhammad yang menjadi role of model (teladan) manusia sepanjang masa.

Bayangkan saja, ketika membincangkan sosok Nabi Muhammad, maka tidak akan pernah habis-habisnya karena dapat ditinjau dari berbagai aspek, apakah pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan aspek-aspek lainnya. Dalam lingkungan keluarga beliau adalah sosok suami dan ayah yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Dalam politik beliau adalah pemimpin sederhana, jujur, menegakkan keadilan, dan bijaksana. Dalam bidang ekonomi beliau menghapus praktik riba dan memenej zakat sebagai kekuatan ekonomi umat. Di ranah sosial beliau dikenal sebagai sosok yang santun, sabar, toleran, peduli, dan sangat komunikatif. Di ranah budaya beliau selalu membangun kebiasaan-kebiasaan yang positif dan terpuji.

Semua ini merupakan bukti bahwa keteladanan Nabi Saw sebagaimana yang telah dijelaskan alqur’an dan hadits adalah keteladanan yang komperhensif, mencakup semua aspek kehidupan. Hal ini jelas karena Muhammad adalah ‘alqur’an hidup’. Ketika ditanya bagaimana akhlak Nabi Saw, maka akhlaknya adalah akhlak alqur’an.

Dulu, budaya masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Nabi Saw sangat jauh dari nilai-nilai manusiawi. Mereka membangun model budaya rimba dan jauh dari nilai-nilai humanisme, seperti diskriminasi terhadap perempuan dan memperjual belikannya seperti barang dagangan, maraknya berjudi, merajalelanya perzinahan, dan melakukan banyak hal sesuai dengan kehendak hawa nafsunya.

Sebenarnya masyarakat jahiliyah dulu bukanlah masyarakat yang bodoh dan tidak tau. Hanya saja mereka tidak menjujung tinggi nilai-nilai humanisme. Nilai manusia hanya diukur dengan tahta, harta, dan keturunan, bukan berdasarkan kualitas moral dan amal. Pola dan budaya yang terbagung waktu itu adalah budaya kekeresan, siapa kuat dia yang menang. Orang yang kaya akan terus kaya, sementara yang miskin semakin papa karena terus ditindas dan diperbudak.

Ketika Nabi Saw datang, perlahan semuanya berubah dan bergerak ke arah yang lebih baik. Misi Nabi Saw sangat jelas waktu itu, bukan berperan sebagai guru yang hendak meningkatkan kapasitas intelektual masyarakat jahilayah Mekkah, tetapi misi pembebasan manusia dari belenggu hawa nafsunya. Beliau memperbaiki akhlak atau moral masyarakat yang sudah bobrok kala itu. Makanya beliau menegaskan bahwa; “sesungguhnya aku diutus ke dunia ini adalah untuk memperbaiki akhlak manusia”.

Karena tugasnya yang terkait dengan masalah moral, maka beliau sendiri dibekali dan membekali dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji, atau perilaku yang patut diteladani. Dalam alqur’an hal ini telah ditegaskan bahwa “sungguh telah ada dalam diri Rasul itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. al-Ahzaab: 21). Dengan demikian, beliau adalah sosok manusia ideal yang dipersiapkan Tuhan agar semua manusia meneladani, baik berupa perkataan, sikap, maupun perbuatan.

Terus hidup

Setiap orang hidup pada ruang dan zaman yang terbatas dan berbeda. Demikian halnya Nabi Saw, dia hidup di zamannya dan kita hidup di zaman kita. Namun walau pun berbeda zaman dan kini Nabi Saw telah tiada, warisan uswatun hasanahnya akan terus hidup sepanjang zaman, tidak musnah termakan waktu dan tidak akan tergilas oleh pergantian generasi.

Keteladanan Nabi Saw adalah sesuatu yang kekal karena dia berupa amal kebaikan. Seperti kita tau bahwa produk amal manusia terbebas dari belenggu ruang dan waktu, yang musnah hanyalah fisik seseorang. Dengan demikian secara amal sesungguhnya Nabi Saw tidak pernah mati. Bisa saja keteladanannya akan mati oleh umat ini, manakala kita sudah mulai enggan menjadikannya contoh dalam berbagai aktifitas kehidupan.

Kapan dan di mana pun kita, tentu memiliki peluang besar menghadirkan sosok Nabi Saw di tengah-tengah kehidupan kita. Mengahdirkan sosok beliau tentu bukan menghadirkan fisiknya, tetapi menjadikan hadits-haditsnya sebagai landasan setiap amal. Berakhlak dan berperilaku persis sama seperti Nabi Saw nyaris tidak mungkin, namun ketika kita meneladaninya, paling tidak semua aktifitas kita dapat mendekati kualitas amal yang beliau contohkan. Beliau memang seorang nabi, namun Beliau menegaskan bahwa dia juga adalah manusia biasa yang juga tidak luput dari salah dan dosa.

Merindukan pemimpin teladan

Di antara problem bangsa ini adalah kegagalan dalam menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa yang dapat dijadikan teladan. Banyak kepala daerah yang gaya hidup dan karakternya tidak layak dicontoh karena sering melakukan perbuatan tercela. Praktik korupsi adalah di antara contohnya, di mana banyak pemimpin dan pejabatan dalam pemerintahan yang melakukannya. Beginilah kondisi negeri ini sekarang, banyak orang pandai yang jadi pemimpin, tetapi sedikit dari pemimpin pandai yang berakhlak mulia.

Inilah faktanya, bahwa negeri ini mengalami krisis pemimpin teladan. Sekarang, yang ramai adalah klaim diri sebagian besar calon pemimpin yang merasa bahwa mereka berjuang untuk rakyat, menyejahterakan rakyat, dan berkorban demi rakyat sehingga mereka merasa layak diteladani. Padahal ketika ada perasaan layak diteladani, maka sebenarnya mereka tidak layak karena keteladanan itu hanya muncul dari ketulusan hati, kualitas amal, dan tidak ada klaim diri bahwa dia pantas diteladani.

Role of model adalah harga mati bagi para calon pemimpin kita jika ingin membawa perahu negeri ini sampai ke pulau tujuan. Meneladani Nabi Saw bukanlah hal yang absurd bagi kita dan para calon pemimpin negeri ini karena apa yang dicontohkan Nabi Saw tidak keluar dari wilayah kemampuan manusia pada umumnya. Hal yang sulit bagi kita sebenarnya adalah menjinakkan dan mengarahkan hati agar mau meneladani Nabi Saw. Shallallahu ala Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

*Peminat Studi Islam. Email: johan.arka[at]yahoo.co.id

Comments

comments