Inilah Gayo Sosok Terbaru

Semesta Matematika dalam Syair Ceh Daman

Oleh Zuhra Ruhmi Binti Zain*

 

Ceh Daman (Repro : Win Ruhdi Bathin)
Ceh Daman (Repro : Win Ruhdi Bathin)

Matematika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan pada pendidikan formal, dan sebagai ilmu terapan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menggunakan ilmu ini untuk menghitung, mengukur atau logika rasional. Menghitung untung rugi, laba bersih dan modal serta menghitung warisan sampai anggaran belanja dan program kerja organisasi sampai pemerintahan negara dan dunia. Namun dalam matematika sendiri ada banyak hal yang dibahas, salah satunya misalnya pengukuran, aritmatika, integral, turunan, himpunan dan lain-lain.

Pentingnya dan eksistensi ilmu ini, kerap dijadikan tolok ukur pintar atau tidaknya anak didik dijenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, meskipun itu bukan hal dapat dibenarkan secara mutlak dan intelensi.

Pada pendidikan formal ditingkan Sekolah Menengah Pertama, materi himpunan dipelajari dalam beberapa semester. Pada materi ini  membahas tentang himpunan semesta. Himpunan semesta disebut juga semesta pembicaraan. Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua anggota atau objek himpunan yang dibicarakan.

Tidak hanya dalam lingkup pendidikan, tapi himpunan semesta ini juga  digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pada masyarakat Gayo misalnya, himpunan semesta ini digambarkan dalam salah satu lagu yang diciptakan oleh Ceh Daman, seperti kutipan syai di bawah ini:

Beberu mampat bersubang

Bebujang mampat berkeris,

Tetue mampat berawis

Beberu mampat bersubang mengkiaskan bahwa memang perempuan memiliki keindahan dan keanggunan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang maha indah dan mencintai keindahan, Bebujang mampat berkeris mengisyarat dan bermakna bahwa laki-laki memiliki jiwa keberanian, kejantanan dan sebagai pengayom/pelindung dari yang lemah. Sedangkan Tetue mampat berawis memberi tafsir dan makna bahwa para orang tua memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya, baik dari segi ekonomi, agama, pendidikan juga rasa aman dan kedamaian dalam rumah tangga.

Jadi semua punya peran tersendiri berdasarkan semesta yang dibicarakan dalam matematika yang saling terkait. Hal yang sama juga menjadi objek dan bahan kajian khusus seperti himpunan semesta pada ilmu yang disebut Matematika.

Beberu memang mampat bersubang dan tak pantas jika berkeris, karena kodrat dan eksistensi masing-masing berdasarkan sifat kehakikian yang telah digariskan Allah SWT. Demikian juga dengan Bebujang tak layak rasanya jika laki-laki bersubang karena memang itu bukan bagian dari perhiasan laki-laki. Bersubang atau dalam bahasa lain disebut dengan anting-anting adalah perhiasan pada telinga wanita, dan dalam Islam sangat diharamkan masing-masing jenis kelamin ini saling menyerupai. Hal ini tentu terkait pula dengan pola perhiasan lainnya, juga pada cara dan mode berpakaian yang tak boleh menyerupai. Perempuan dilarang mengenakan pakaian menyerupai laki-laki demikian juga sebaliknya.

Dalam kaitannya dengan karya Ceh Daman yang pantas menggunakan senjata yang disimbolkan dengan keris adalah kaum laki-laki. Begitu juga dengan Tetue mampat ketika berawis, yaitu sebuah kiasan akan beban yang sebenarnya berat tetapi sebagai sebuah tanggungjawab kodrati, dari kearifan menjadi sesuatu yang ringat tetapi bertanggungjawab dengan simbol awis yang diletakkan di bahu.

Kata-kata mampat dalam bahasa Gayo sebenarnya termasuk dalam hitungan semesta ilmu Matematika. Karena kata tersebut hanya berlaku untuk penyebutan pada segala sesuatu yang terkait dan melekat pada badan dan sifat manusia. Meskipun kata ini juga kerap dinisbatkan pada tumbuhan seperti bunga , warna dan pemandangan (landskep), tetapi semua mengacu pada himpunan semesta yang dapat menilai hal tersebut. Tentu yang dapat menilai segala sesuatu di dunia ini dalam kotek benda dan nuansa adalah manusia. Hal ini akan menjadi berbeda jika mengukur keikhlasan atau keimanan seorang hamba, wilayah ini tentu adalah bagian dari hak keillahian yang bersifat non matrial dan tidak kasat mata.

Secara sederhana penulis dapat merumuskan himpunan semesta adalah segala sesuatu hanya berlaku pada sesuatu saja, dan dia tidak dapat disamakan dengan hal lain diluar himpunannya. Bebujang mampat berkeris, kalimat syair Ceh Daman ini mengandung himpunan semesta pada manusia yang kelamin laki-laki. Demikian juga dengan syair beberu mampat bersubang hanya berlaku bagi manusia yang bekelamin perempuan. Tetapi kedua isi syair ini akan menjadi berbeda dalam rumus himpunan semesta jika perempuan menyerupai laki-laki lalu memakai keris, atau laki-laki yang menyerupai perempuan lalu memakai subang.

Dalam banyak literatur yang terkait budaya Gayo, masih banyak karya seniman dan budayawan Gayo yang terkait dengan Himpunan Semesta Matematika. Termasuk dalam sejumlah tradisi, adat dan ritual budaya yang melekat pada masyarakat. Namun sebagai penjontok kajian yang lebih luas saya mengutip cuplikan karya Ceh Daman di atas sebagai permulaan sekaligus sebagai pemuger; bahwa himpunan semesta dalam ilmu matematika sesungguhnya dapat digunakan sebagai metode sekaligus pendekatan dalam kajian untuk mengungkap nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Gayo. Yang juga membuka kemungkinan menjadikan ilmu himpunan semesta ini sebagai salah satu perspektif dalam penelitian keagungan budaya dan seni Gayo dan lainnya. Wallau bissawab. (Ed-007)

 –

Zuhra Ruhmi Binti Zain adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Matematika IAIN Ar-RAniry Banda Aceh. Juga salah seorang asisten peneliti pada Lembaga The Gayo Institute (TGI), yaitu sebuah lembaga swadaya yang konsisten dalam kajian, penelitian kebudayaan, penerbitan dan pendidikan non formal yang berpusat di Takengon Aceh Tengah.

Comments

comments