Oleh : Fauzan Azima*
Petuah ini bukan hukum, bukan pula nasihat yang merasa paling benar. Ia hanya kumpulan pengingat kecil tentang tabiat manusia ketika kekuasaan, ambisi, dan kepentingan bertemu dalam satu ruang.
Penulis menyusun 30 petuah dalam bentuk pasal-pasal pendek—ringkas, tajam, dan kadang terasa sinis. Ia lahir dari pengamatan sederhana tentang bagaimana manusia bergerak di sekitar kekuasaan.
Walau petuah ini penulis “ijazahkan” khusus untuk sahabat Haili Yoga, sejatinya ia dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang berbakat atau sedang menapaki jalan kepemimpinan.
Semoga petuah ini dibaca bukan sekadar sebagai sindiran, melainkan sebagai pengingat bahwa dalam hidup dan kepemimpinan, kewaspadaan sering lebih berharga daripada kepercayaan yang terlalu mudah diberikan.
Pasal Pertama:
Pemburu Sejati Sering Menyamar sebagai Mangsa
Orang tua-tua Gayo sejak dulu berpesan: jangan cepat menilai orang dari yang tampak di permukaan. Di rimba yang mengelilingi tanah Gayo, sering kali yang tampak lemah justru sedang menyimpan kekuatan.
Seorang pemburu di hutan Gayo tidak selalu datang dengan langkah gaduh. Ia berjalan pelan, menunduk, bahkan kadang tampak seperti orang yang tersesat. Padahal matanya sedang membaca arah angin dan jejak di tanah.
Begitu pula dalam kehidupan kampung dan dalam urusan memegang amanah. Ada orang yang sengaja menampakkan dirinya seolah terdesak, seolah dizalimi, agar simpati orang datang tanpa banyak bertanya.
Padahal orang Gayo tahu, simpati rayat (rakyat) adalah kekuatan besar. Ketika rayat sudah merasa iba, mereka akan berdiri di belakang seseorang, walau belum tentu tahu ke mana arah langkah itu dibawa.
Karena itu dalam adat Gayo ada Sarak Opat: reje, petue, imem, dan rayat.
Reje memegang amanah memimpin, petue menimbang dengan kebijaksanaan, imem menjaga jalan agama, dan rayat menjadi penopang kehidupan kampung.
Namun orang tua-tua juga mengingatkan, di sekitar kekuasaan selalu ada orang yang pandai memainkan wajah. Ada yang datang dengan kata-kata lembut, seolah ingin membantu, padahal sedang menunggu kesempatan.
Seorang reje yang bijak tidak hanya melihat kata-kata. Ia mendengar nasihat petue, mempertimbangkan petunjuk imem, dan merasakan suara rayat sebelum mengambil langkah.
Karena di tanah Gayo, kepemimpinan bukan hanya soal kuat atau berani. Kepemimpinan adalah kemampuan membaca manusia, sebagaimana pemburu membaca jejak di rimba.
Sebab sering terjadi sesuatu yang terlambat disadari: yang dikira mangsa ternyata pemburu, dan yang merasa pemburu justru telah lama menjadi mangsa.
Itulah sebabnya orang tua-tua kampung selalu berkata: dalam memegang amanah, jangan hanya melihat siapa yang tampak kuat. Kadang yang paling berbahaya justru yang paling pandai tampak lemah.
Bersambung ke pasal kedua….
(Mendale, Maret 15, 2026)






