Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd
(Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)
Istilah simbiosis mutualis dikenal dalam ilmu biologi sebagai hubungan dua makhluk hidup yang saling membutuhkan dan sama-sama diuntungkan. Meski berasal dari ranah sains, konsep ini sesungguhnya sangat relevan jika diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan, rumah tangga yang sehat dan harmonis pada hakikatnya merupakan bentuk nyata dari simbiosis mutualis.
Pernikahan bukan sekadar ikatan legal dan sosial, melainkan pertemuan dua pribadi yang bersepakat untuk saling menjaga, merawat, dan menguatkan. Jodoh memang merupakan ketentuan Tuhan, tetapi merawat jodoh adalah pilihan manusia. Di titik inilah komitmen suami dan istri diuji, terutama ketika salah satu pasangan berada dalam kondisi lemah, sakit, atau tidak berdaya.
Saat pasangan jatuh sakit, makna kebersamaan dalam rumah tangga terlihat secara jelas. Merawat pasangan bukan sekadar kewajiban, melainkan wujud cinta sekaligus ibadah.
Menyiapkan makanan, memperhatikan asupan gizi, mengingatkan waktu makan dan minum obat, hingga menemani dengan kesabaran adalah bentuk kepedulian yang nyata. Sikap abai, menunda, atau terlalu mengedepankan alasan lelah dan sibuk justru dapat menggerus makna kebersamaan itu sendiri.
Kebiasaan terlambat memasak, terlalu sering mengandalkan makanan instan, atau memilih makan di luar tanpa mempertimbangkan kondisi pasangan yang sakit, sejatinya merupakan bentuk pengabaian kecil terhadap tanggung jawab rumah tangga.
Makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal perhatian. Dari dapur rumah tangga, kepedulian kerap diuji. Baik suami maupun istri, ketika salah satu sakit, yang lain seharusnya hadir sebagai penguat.
Simbiosis mutualis dalam rumah tangga juga tercermin dalam dimensi spiritual. Ibadah perlu dijaga secara bersama. Ketika satu mulai lalai, yang lain mengingatkan; ketika satu melemah, yang lain menguatkan.
Saling menasihati dengan kasih, saling mendoakan, dan saling menggandeng dalam ketaatan. Rumah tangga bukan hanya tempat bernaung secara fisik, tetapi juga ruang pembinaan iman yang paling awal.
Cinta dalam rumah tangga tidak hanya hadir dalam momen romantis, tetapi justru diuji dalam rutinitas harian: dalam kelelahan, sakit, dan keterbatasan. Perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih bermakna daripada ungkapan manis yang sesekali diucapkan.
Menanyakan kondisi kesehatan, memastikan waktu istirahat, atau sekadar menemani adalah bentuk cinta yang sederhana namun tulus.
Ada prinsip penting dalam kehidupan berumah tangga: menjaga lebih baik daripada mengobati. Menjaga pola hidup sehat, mengatur pola makan keluarga, menghindari kebiasaan buruk, serta menciptakan suasana rumah yang tenang dan nyaman merupakan investasi jangka panjang bagi keutuhan rumah tangga. Ketika pasangan sehat, hubungan pun terasa lebih hangat.
Simbiosis mutualis mengajarkan bahwa dalam rumah tangga tidak ada pihak yang selalu memberi atau selalu menerima. Keduanya saling bergantian dan saling melengkapi.
Hari ini mungkin kita berada pada posisi yang kuat, esok bisa jadi kitalah yang membutuhkan. Karena itu, jangan pernah berhitung dalam berbuat baik kepada pasangan.
Pada akhirnya, rumah tangga yang ideal bukanlah rumah tangga tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang mampu saling menguatkan dalam setiap keadaan. Di sanalah simbiosis mutualis menemukan maknanya yang paling hakiki: saling menjaga, saling merawat, dan saling menuntun menuju ridha Allah SWT. []





