Isra Mi’raj, Shalat, dan Muhasabah di Tengah Musibah

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie* (Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Atu Lintang, Aceh Tengah)

Musibah hidrometeorologi yang melanda Aceh dan Sumatera pada akhir November 2025 lalu menyisakan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Termasuk di wilayah Gayo, Aceh Tengah, banjir bandang, longsor, dan cuaca ekstrem tidak hanya merobohkan rumah dan merusak kebun, tetapi juga mengguncang rasa aman masyarakat. Air yang selama ini menjadi sumber kehidupan tiba-tiba hadir sebagai kekuatan yang menyingkapkan kerapuhan manusia.

Di tengah suasana seperti ini, peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. terasa lebih dekat dengan kehidupan. Ia tidak sekadar dikenang sebagai peristiwa agung di masa lalu, tetapi menjadi panggilan ruhani untuk bermuhasabah—merenungi kembali posisi manusia di hadapan Allah SWT., serta relasinya dengan alam yang menjadi tempat berpijak.

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 1: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat ini diawali dengan kata Subḥān, pengakuan atas kesucian dan kemahakuasaan Allah. Ia mengingatkan bahwa segala peristiwa—baik yang membahagiakan maupun yang melukai—berada dalam genggaman-Nya. Allah Maha Mendengar rintihan hamba-Nya dan Maha Melihat air mata yang jatuh dalam diam.

Menariknya, Allah menyebut Nabi Muhammad SAW. dalam ayat ini sebagai ‘abdihi, hamba-Nya. Gelar kehambaan inilah yang justru menjadi puncak kemuliaan.

Dalam situasi musibah, ketika manusia merasa tak berdaya dan kehilangan pegangan, kesadaran sebagai hamba menjadi jalan untuk kembali berserah, menata hati, dan menemukan kekuatan baru.

Isra Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Nabi SAW., setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aam al-Ḥuzn, tahun kesedihan.

Namun justru dalam suasana duka itulah Allah memanggil Rasul-Nya dan menganugerahkan shalat lima waktu. Seakan Allah berpesan bahwa ketika dunia terasa sempit, jalan untuk menguatkan jiwa justru dibuka melalui kedekatan dengan-Nya.

Di tengah musibah yang menimpa Aceh hari ini, pesan itu terasa begitu relevan. Ketika rumah dan harta benda sirna, Allah mengingatkan bahwa ada satu bangunan yang tidak boleh runtuh: shalat. Shalat adalah ruang perjumpaan hamba dengan Tuhannya, tempat manusia mengakui kelemahan dan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Musibah hidrometeorologi juga mengajak manusia membaca kembali ayat-ayat Allah yang terbentang di alam. Alam tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi dengan peristiwa.

Ketika keseimbangannya terganggu, manusia diajak bercermin: sejauh mana amanah sebagai khalifah di bumi telah dijaga? Apakah kita telah merawat alam dengan penuh tanggung jawab, atau justru lalai dan berlebihan?

Shalat mendidik manusia untuk hidup teratur, bersih, dan disiplin—lahir dan batin. Nilai-nilai ini penting dalam proses bangkit dari musibah. Membangun kembali bukan hanya soal mendirikan rumah dan memperbaiki jalan, tetapi juga menata ulang cara pandang terhadap kehidupan dan lingkungan.

Dalam setiap bacaan shalat, khususnya saat mengucap “iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn”, manusia diingatkan akan hakikat dirinya. Di hadapan bencana alam yang tak mampu sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi dan perencanaan, ayat ini menjadi pengakuan jujur bahwa manusia memiliki batas, sementara Allah tidak.

Bagi masyarakat Aceh, khususnya di tanah Gayo, musibah ini semestinya menumbuhkan empati, solidaritas, dan kepedulian. Namun lebih dari itu, ia juga mengundang perenungan yang lebih dalam. Dari reruntuhan dan kehilangan, semoga tumbuh kesadaran untuk lebih dekat dengan Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih bijak memperlakukan alam.

Kisah Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan manusia bukan hanya soal jarak dan pencapaian lahiriah, tetapi juga perjalanan batin menuju kedekatan dengan Allah. Di tengah puing-puing kehidupan yang tersisa, semoga hati tidak ikut runtuh. Justru dari sanalah tumbuh iman yang lebih jernih, shalat yang lebih khusyuk, dan tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga amanah bumi.

Semoga musibah ini menjadi jalan kembalinya manusia kepada Allah dengan hati yang lembut, jiwa yang kuat, dan kesadaran yang lebih utuh sebagai hamba-Nya. Aamiin.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.