Oleh : Fauzan Azima*
Aceh Tengah hari ini tampak baik-baik saja. Spanduk berdiri rapi, baliho tersenyum ramah, pidato terdengar optimistis, dan laporan resmi penuh kata “meningkat”, “berjalan”, serta “terkendali”.
Semua tampak tenang, bahkan terlalu tenang. Sebab, ketenangan itu rupanya hanya berlaku selama satu syarat dipenuhi: jangan terlalu banyak bertanya.
Bertanya soal jalan desa yang putus pascabanjir? Nanti dulu, sedang diusulkan. Bertanya tentang kampung yang terisolasi? Tenang, sudah masuk perencanaan. Bertanya soal ekonomi rakyat yang kian tipis? Sabar, angka makro kita bagus.
Di Aceh Tengah, pertanyaan sering kali dijawab bukan dengan kepastian, melainkan dengan penundaan yang dibungkus kalimat menenangkan.
Pemerintahan hari ini tampak piawai merawat narasi. Narasi bahwa semuanya terkendali, bahwa proses sedang berjalan, bahwa rakyat diminta memahami kompleksitas.
Rakyat pun belajar “nenten dede” menahan rasa kecewa dengan senyum. Dalam budaya Gayo, ini bentuk kesantunan. Dalam praktik pemerintahan, ia sering disalahartikan sebagai persetujuan.
Masalahnya bukan pada ajakan bersabar. Masalahnya, kesabaran dijadikan kebijakan tak tertulis. Ketika pertanyaan dianggap gangguan, kritik dicurigai sebagai ketidaksetiaan, dan keluhan diposisikan sebagai kurang bersyukur, maka yang lahir bukan stabilitas, melainkan kebisuan. Rakyat ongot—diam, bukan karena puas, melainkan karena lelah.
Aceh Tengah memang terlihat baik-baik saja dari kejauhan. Namun, jika didekati, retaknya tampak: jalan yang tak kunjung pulih, kampung yang menunggu lebih lama dari janji, dan ekonomi rakyat yang tak secerah slogan. Ironisnya, semua itu seolah tak masalah selama tidak diucapkan keras-keras.
Padahal, bertanya adalah bentuk cinta pada negeri. Kritik adalah cara warga memastikan arah tidak melenceng. Pemerintahan yang kuat bukan yang bebas pertanyaan, melainkan yang sanggup menjawabnya dengan kerja nyata.
Jika Aceh Tengah benar-benar ingin baik-baik saja, maka ruang bertanya harus dibuka selebar-lebarnya. Sebab, daerah yang melarang pertanyaan sedang menyembunyikan masalah. Dan masalah yang disembunyikan, cepat atau lambat, akan berbicara dengan caranya sendiri, lebih keras, dan jauh lebih menyakitkan.
(Mendale, Januari 15, 2026)





