Kurikulum Lingkungan, Urgenkah?

oleh

Oleh : Hammaddin*

……Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…..(Lirik Lagu “Berita Kepada Kawan”Karya Ebiet G. Ade).

Tidak ada kata-kata lagi yang sanggup menceritakan dahsyatnya bencana hidrometeorologi akhir november 2025 yl yang telah memporak-porandakan sebahagian wilayah pulau sumatra (Aceh, Sumut dan Sumbar).

Bencana itu merujuk pada serangkaian bencana terkait air seperti banjir bandang, tanah longsor, dan luapan sungai yang sering terjadi akibat curah hujan ekstrem, dan dipicu oleh cuaca ekstrem (Siklon Senyar) dan diperparah oleh kerusakan ekosistem hutan di hulu daerah aliran sungai akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan pembalakan liar yang menghilangkan fungsi serapan air alami, sehingga air hujan langsung menghantam permukiman di hilir, menyebabkan dampak luas dan membutuhkan mitigasi ekologis jangka panjang.

Terjadinya peristiwa tersebut menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita untuk kedepannya menghadapi dan menata dan memperlakukan alam. Tidak ada kata-kata maaf ketika alam mulai melawan.

Merubah Mindset

Kerusakan lingkungan yang semakin parah bukan semata-mata disebabkan oleh alam, melainkan oleh cara pandang manusia terhadap alam itu sendiri.

Selama lingkungan masih dianggap sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai sistem kehidupan yang harus dijaga, maka bencana akan terus menjadi bagian dari keseharian kita. Karena itu, mengubah mindset tentang lingkungan adalah langkah paling mendasar dan paling penting.

Banyak orang masih berpikir bahwa menjaga lingkungan adalah tugas pemerintah atau aktivis semata. Padahal, setiap tindakan kecil, membuang sampah, menggunakan air, menebang pohon, memilih plastik, memiliki dampak besar.

Mindset lama yang permisif terhadap kerusakan harus diganti dengan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasa tunggalnya.

Perubahan mindset juga berarti berpindah dari sikap reaktif menjadi preventif. Kita sering baru peduli setelah terjadi banjir, longsor, atau kekeringan. Padahal, kepedulian sejati justru lahir sebelum bencana terjadi.

Lingkungan harus dijaga bukan karena takut bencana, tetapi karena sadar akan tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang.

Di dunia pendidikan, perubahan mindset ini harus dimulai sejak dini. Anak-anak perlu dibiasakan mencintai alam melalui contoh nyata, bukan sekadar teori.

Ketika kesadaran lingkungan tumbuh sebagai budaya, bukan sebagai kewajiban, maka perilaku menjaga lingkungan akan mengakar secara alami.

Mengubah mindset tentang lingkungan berarti mengubah arah peradaban. Dari peradaban yang rakus menjadi peradaban yang bijak. Dari pembangunan yang merusak menjadi pembangunan yang berkelanjutan.

Karena sejatinya, masa depan bumi tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita ambil dari alam, tetapi oleh seberapa serius kita menjaganya.

Kurikulum Lingkungan

Dunia pendidikan sangat berperan dalam merubah pandangan atau menset generasi kita tentang alam. Dengan menerapkan kurikulum lingkungan dalam lembaga pendidikan, sedikitnya banyak generasi yang akan datang tahu bagaimana seharusnya memperlakukan alam.

Terjadi bencana hidrometeorologi menjadi pembelajaran bagi kita bahwa pentingnya kurikulum lingkungan diterapkan di lembaga pendidikan kita. Walapun sebenarnya bukan lagi soal perlu atau tidak, melainkan seberapa serius kita menerapkannya.

Kurikulum lingkungan bukan sekadar tambahan materi pelajaran, tetapi fondasi pembentukan karakter generasi yang sadar, peduli, dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Tanpa pendidikan lingkungan yang terstruktur, sekolah hanya melahirkan generasi cerdas secara akademik, tetapi miskin kepedulian ekologis. Anak didik mungkin mahir berhitung dan berteknologi, namun tetap abai membuang sampah, boros energi, dan tidak peka terhadap kerusakan alam di sekitarnya. Di sinilah kurikulum lingkungan berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan dan tindakan nyata.

Mencegah kerusakan alam memerlukan pendekatan holistik yang mencakup langkah-langkah kongkret seperti konservasi sumber daya alam, pengelolaan limbah yang bijaksana, perlindungan habitat alami, serta pendidikan dan kesadaran lingkungan yang luas.

Selain itu, perlu juga adanya kebijakan dan regulasi yang ketat serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran lingkungan.

Kurikulum lingkungan juga melatih peserta didik berpikir kritis, solutif, dan berempati. Mereka tidak hanya diajak memahami masalah lingkungan, tetapi juga dilibatkan dalam aksi: menanam, mengelola sampah, menghemat air, hingga menjaga keanekaragaman hayati. Pembelajaran menjadi hidup, kontekstual, dan bermakna.

Lebih dari itu, kurikulum lingkungan menanamkan nilai moral dan spiritual bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan penjaga dan pewarisnya. Kesadaran ini penting agar pembangunan tidak berjalan dengan mengorbankan masa depan.

Maka, kurikulum lingkungan bukan sekadar penting, ia adalah kebutuhan mendesak. Tanpanya, pendidikan kehilangan perannya sebagai penuntun peradaban. Dengan kurikulum lingkungan, sekolah tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang mampu menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Bencana alam yang terus berulang, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas hari ini. Dalam situasi ini, kurikulum lingkungan memiliki peran strategis sebagai benteng awal pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan.

Kurikulum lingkungan mengajarkan peserta didik memahami hubungan sebab akibat antara perilaku manusia dan bencana alam.

Mereka belajar bahwa penebangan liar, pengelolaan sampah yang buruk, dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi sumber petaka ekologis. Kesadaran ini menumbuhkan sikap hati-hati dan tanggung jawab sejak dini.

Lebih jauh, kurikulum lingkungan tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga keterampilan mitigasi. Siswa dilatih membaca potensi risiko di lingkungannya, memahami jalur evakuasi, mengelola sumber daya alam secara bijak, serta membangun kebiasaan hidup ramah lingkungan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga melindungi.

Peran penting lainnya adalah membangun ketangguhan mental dan sosial. Melalui pembelajaran lingkungan, siswa diajak berempati kepada korban bencana, berkolaborasi dalam aksi kemanusiaan, serta menumbuhkan solidaritas. Inilah bekal karakter yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat rawan bencana.

Penutup

Pada akhirnya, kurikulum lingkungan bukan sekadar pelengkap pelajaran, melainkan investasi keselamatan masa depan. Jika pendidikan gagal menanamkan kesadaran lingkungan, maka bencana akan terus menjadi siklus yang diwariskan.

Namun jika kurikulum lingkungan dijalankan secara serius, sekolah dapat menjadi pusat lahirnya generasi tangguh yang mampu menghadapi, mengurangi, dan mencegah dampak bencana..

Meskipun pentingnya kurikulum lingkungan tidak dapat disangkal, tantangannya adalah integrasinya ke dalam kurikulum yang sudah ada. Perlu adanya kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menyusun kurikulum yang efektif dan relevan dengan kebutuhan saat ini.

Dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin mendesak, perlunya kurikulum lingkungan tidak dapat dipungkiri. Ini bukan hanya tentang memberikan pengetahuan, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi masa depan untuk menjadi agen perubahan dalam melindungi planet kita.

Dengan pendidikan lingkungan yang terintegrasi, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

*Penulis adalah antropolog dan Kepsek di SMA Negeri 1 Permata kabupaten Bener Meriah.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.