Oleh: Mahbub Fauzie (ASN Kankemenag Kabupaten Aceh Tengah; Bertugas di KUA Atu Lintang; Aktif sebagai relawan kemanusiaan)
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatera dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ujian kemanusiaan.
Di balik air bah, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, tersimpan duka mendalam: rumah-rumah yang hilang, ladang yang rusak, serta harapan yang sempat runtuh bersama derasnya arus bencana.
Di tengah kepedihan itu, seharusnya empati menjadi bahasa bersama. Uluran tangan, doa yang tulus, dan kepedulian lintas batas adalah kebutuhan paling mendesak bagi mereka yang terdampak. Bencana tidak membutuhkan perdebatan, melainkan kehadiran hati.
Namun realitas di ruang digital sering kali berkata lain. Di berbagai platform media sosial—Facebook, TikTok, YouTube, hingga Reels—justru muncul konten dan komentar bernuansa provokatif, rasis, dan memecah belah. Duka bersama ternodai oleh narasi yang menggiring kebencian berbasis suku dan identitas.
Lebih menyedihkan lagi, bencana yang seharusnya menjadi momentum muhasabah justru dijadikan komoditas sensasi. Likes, views, dan popularitas seolah lebih penting daripada rasa kemanusiaan. Padahal, setiap kata yang ditulis dan dibagikan memiliki dampak, terutama bagi mereka yang sedang terluka.
Ironinya begitu nyata. Di lapangan, para relawan bekerja siang dan malam tanpa pamrih. Mereka datang dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang. Tidak ada pertanyaan tentang identitas korban, tidak ada sekat primordial—yang ada hanya satu tujuan: menyelamatkan dan meringankan beban sesama manusia.
Relawan memahami satu hal mendasar: di hadapan bencana, semua manusia setara. Tangisan ibu yang kehilangan rumahnya tidak memiliki suku. Rintihan anak-anak yang kedinginan tidak mengenal perbedaan identitas. Yang ada hanyalah jeritan kemanusiaan yang menuntut kepedulian.
Islam sejak awal telah menutup pintu rasisme dan fanatisme sempit. Perbedaan suku dan bangsa bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan tanda kebesaran Allah yang harus disikapi dengan sikap ta’aruf—saling mengenal, memahami, dan menghormati.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang masih memelihara kesombongan identitas. Tidak ada suku yang paling mulia dan tidak ada yang paling hina. Kemuliaan sejati di sisi Allah bukan ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh ketakwaan dan akhlak kemanusiaan.
Karena itu, menjadikan bencana sebagai panggung provokasi adalah bentuk kegagalan spiritual. Ia mencederai nilai agama, melukai rasa keadilan, dan merusak ikatan sosial. Media sosial sejatinya adalah amanah, bukan ruang bebas tanpa pertanggungjawaban moral.
Di era digital, setiap jari adalah pena, dan setiap unggahan adalah kesaksian. Apa yang kita tulis bisa menjadi doa, tetapi juga bisa menjadi dosa. Apa yang kita bagikan bisa menguatkan, tetapi juga bisa melukai.
Di tengah duka yang belum sepenuhnya reda, kita dihadapkan pada pilihan nurani: apakah ingin ikut memperkeruh keadaan, atau menjadi penyejuk? Apakah ingin menjadi bagian dari kegaduhan, atau hadir sebagai solusi yang menenangkan?
Bencana mengajarkan kita bahwa ketika alam menunjukkan kuasa-Nya, sekat-sekat sosial runtuh dengan sendirinya. Yang tersisa hanyalah persaudaraan kemanusiaan. Pada titik ini, iman diuji bukan oleh seberapa lantang kita berbicara, tetapi oleh seberapa tulus kita peduli.
Maka, mari kita jaga etika bermedia digital. Tahan diri dari ujaran kebencian, hentikan narasi yang memecah belah, dan gantikan dengan pesan empati, doa, serta ajakan untuk saling menolong. Inilah wujud dakwah yang paling nyata di tengah bencana.
Menjadi penebar kedamaian bukan pilihan ringan, tetapi panggilan iman. Di dunia nyata maupun di ruang digital, marilah kita hadir sebagai penyejuk, penguat, dan penyambung harapan. Sebab, di hadapan Allah, kemanusiaan yang tulus adalah amal yang paling bernilai. []





