Oleh : Fauzan Azima*
Ribuan tahun perjalanan peradaban manusia justru diiringi oleh satu kehilangan besar: tercerabutnya kesadaran bahwa bumi bukan benda mati.
Manusia belajar menghitung, menaklukkan, dan mengeksploitasi, tetapi lupa mendengar. Padahal bumi hidup, bernapas, dan berpikir dengan caranya sendiri, bukan melalui bahasa kata, melainkan melalui getaran.
Setiap kali gunung meletus, angin berputar liar, laut meluap, atau bumi bergetar, manusia tergesa menyebutnya bencana. Namun sesungguhnya, peristiwa itu adalah bahasa.
Bumi sedang berbicara, menyampaikan pesan bahwa manusia telah melangkah terlalu jauh dari pusat kesadaran. Bukan alam yang murka, melainkan keseimbangan yang dilanggar.
Seperti tubuh yang demam ketika sakit, bumi mengguncang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengingatkan.
Dalam kearifan Orang Gayo, terdapat sebuah pemahaman yang lembut sekaligus dalam: Teger. Ia bukan gempa yang merobohkan, bukan letusan yang membinasakan.
Teger adalah getaran halus respons bumi terhadap doa, keselarasan, dan ketundukan manusia pada ritme semesta. Bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dirasakan.
Teger itu seperti “hutan berzikir”
menjelang magrib. ketika cahaya mulai redup dan kesibukan dunia melambat, batang pohon bergetar lembut, berdengung seperti suara lebah. Saat itu hutan sedang memuji Tuhan dengan caranya sendiri.
Teger mengajarkan bahwa bumi merespons doa dengan cara yang tidak merusak. Ketika manusia selaras, bumi pun tenang. Getaran itu adalah bahasa keintiman antara makhluk dan semesta, isyarat bahwa keseimbangan masih terjaga.
Manusia sendiri adalah miniatur dari seluruh planet. Tubuh menyimpan peta kosmos. Tulang belakang adalah gunung-gunung yang menopang tegaknya kesadaran; bila ia rapuh, pikiran pun mudah runtuh.
Samudera hadir sebagai emosi, kadang pasang, kadang surut, yang terus mencari keseimbangan. Udara di paru-paru adalah napas dunia; setiap tarikan dan hembusan adalah perjanjian antara manusia dan bumi. Seluruh ekologi adalah fisiologi bathin.
Api di dalam diri; cinta, gairah, ambisi, bahkan amarah adalah magma. Ia sumber energi kehidupan, namun tanpa kesadaran, ia berubah menjadi letusan yang meluluhlantakkan. Seperti gunung api, api batin memerlukan pengelolaan agar menjadi cahaya, bukan kehancuran.
Karena manusia adalah representasi alam, setiap kerusakan yang ia lakukan pada bumi sejatinya adalah luka pada dirinya sendiri. Menebang hutan sembarangan berarti menipiskan paru-paru sendiri. Mencemari laut berarti mengeruhkan darah sendiri. Meracuni tanah berarti mensterilkan batin dari kesuburan makna.
“Teger” mengajak manusia kembali mendengar. Kembali berdoa, bukan hanya dengan kata, tetapi dengan sikap hidup. Sebab ketika manusia selaras, bumi tidak berteriak. Ia hanya bergetar lembut sebagai jawaban yang penuh kasih dari semesta.
(Mendale, Januari 10, 2025)







