Oleh: Mahbub Fauzie (Relawan dan warga Jagong Jeget)
Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera, termasuk yang menghunjam Kecanatan Linge pada akhir November 2025 bukan hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga membuka kembali satu pertanyaan klasik: siapa yang pertama hadir saat warga terisolasi dan menderita?
Dalam banyak kasus, jawabannya bukan negara, melainkan masyarakat itu sendiri.
Jagong Jeget memberi pelajaran penting tentang bagaimana solidaritas sosial bekerja secara alami. Tanpa instruksi formal, tanpa struktur organisasi yang rapi, bahkan tanpa nama besar lembaga, warga bergerak.
Ketika listrik menyala dan sinyal internet kembali ada, informasi bencana menyebar. Bersamaan dengan itu, empati pun beresonansi.
Inisiatif penggalangan bantuan lahir dari ruang-ruang kecil: grup WhatsApp, akun Facebook, komunitas pengajian, rumah tahfidz, pemuda desa, hingga percakapan dari mulut ke mulut.
Dari sinilah kemudian terbentuk gerakan solidaritas warga masyarakat, termasuk Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli—sebuah gerakan yang justru kuat karena kesederhanaannya.
Solidaritas yang Tidak Menunggu Komando
Yang menarik dari gerakan ini adalah sifatnya yang spontan dan kolektif. Tidak ada ketua, tidak ada sekretaris, tidak ada struktur hierarkis. Semua bergerak karena panggilan nurani.
Donasi yang terkumpul—sekitar lima ton logistik dan puluhan juta rupiah—adalah bukti bahwa masyarakat sebenarnya memiliki daya jika difasilitasi oleh kepercayaan.
Relawan tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga menembus keterisolasian. Ratusan pengendara roda dua menembus jalan longsor san jakan amblas menuju Dusun Jamat dan wilayah lain di Linge.
Ketika jembatan putus dan akses nyaris mustahil, relawan tidak berhenti pada keluhan. Mereka membangun jembatan apung dengan peralatan seadanya—drum plastik, ban bekas, tali sling—sebuah solusi darurat yang lahir dari kreativitas rakyat.
Ini adalah bentuk civil courage: keberanian warga untuk bertindak ketika prosedur belum berjalan sempurna.
Negara dan Jarak Kehadiran
Opini ini bukan untuk meniadakan peran pemerintah. Alat berat akhirnya datang, jalan mulai ditangani, dan akses perlahan terbuka. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pada fase paling kritis, yang pertama hadir adalah warga terdekat.
Ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Dalam konteks kebencanaan, kecepatan sering kali lebih menentukan daripada kelengkapan administrasi. Relawan bekerja tanpa menunggu surat tugas, tanpa anggaran resmi, bahkan dengan menanggung risiko pribadi—BBM mahal, logistik terbatas, dan medan berbahaya.
Di sinilah negara perlu belajar dari warganya sendiri: bahwa sistem penanggulangan bencana harus memberi ruang dan dukungan pada inisiatif lokal, bukan sekadar mengatur dari atas.
Linge dan Etika Berbakti
Bagi masyarakat Jagong Jeget dan Atu Lintang, kepedulian terhadap Linge bukan semata soal kemanusiaan, tetapi juga soal etika kultural. Linge dipandang sebagai orang tua—wilayah asal, sumber sejarah, dan akar identitas. Dalam pandangan ini, membantu Linge adalah bentuk bakti, bukan sekadar aksi sosial.
Nilai ini penting dicatat. Ia menunjukkan bahwa solidaritas paling kuat sering lahir dari kedekatan sosial dan sejarah, bukan dari proyek-proyek seremonial.
Meluruskan Klaim, Menjaga Keikhlasan
Di tengah maraknya dokumentasi dan klaim peran, penting untuk menegaskan bahwa jembatan apung dan sebagian besar aksi lapangan merupakan murni inisiatif Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli.
Ada pihak lain yang hadir dan membantu—dan itu patut diapresiasi. Namun klaim sepihak justru berpotensi merusak semangat kolektif yang telah dibangun dengan susah payah. Relawan sejati bekerja bukan untuk kamera, melainkan untuk keberlanjutan hidup sesama.
Penutup
Jagong Jeget telah membuktikan bahwa masyarakat tidak pernah benar-benar lemah. Ketika ruang formal lambat bergerak, nurani warga bisa menjadi jembatan—secara harfiah dan simbolik.
Kini tantangannya adalah bagaimana pengalaman ini tidak berhenti sebagai kisah heroik sesaat, tetapi menjadi pelajaran kebijakan: bahwa dalam kebencanaan, negara perlu hadir lebih cepat, lebih dekat, dan lebih percaya pada kekuatan warganya sendiri.
Karena pada akhirnya, kemanusiaan tidak menunggu regulasi. Ia bergerak ketika hati terpanggil. []








