Perang Tanpa Darah (Nasehat Terbuka untuk Haili Yoga)

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Dalam catatan akhir naskah Sumeria Enuma Elish, terdapat satu baris yang terasa seperti nubuat zaman ini: “Mereka akan berperang dengan kata, dan dunia akan menjadi sunyi.”

Sunyi yang dimaksud bukanlah kedamaian, melainkan kelelahan batin, ketika manusia kehilangan makna di tengah kebisingan. Kerja yang bukan dari hati akan terasa hambar dan bumi akan menolak.

Hari ini, bumi dipenuhi jutaan kata setiap detik. Komentar, debat, opini, klarifikasi, konten pencitraan, dan narasi yang saling menindih. Namun di balik hiruk-pikuk itu, yang tumbuh justru keheningan spiritual.

Manusia tak lagi mendengar bumi, apalagi jeritan sesama. Ia sibuk berbicara ke layar, lupa menunduk pada kenyataan. Pongah dan mencari keuntungan di saat rakyat berjibaku berusaha selamat di tengah bencana.

Inilah perang tanpa darah. Bukan perang senjata, bukan pula sekadar perang teknologi. Ia adalah perang perhatian, perang melawan kesadaran itu sendiri. Bahwa setiap manusia punya beban amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam perang ini, yang menang bukan mereka yang bekerja, melainkan mereka yang paling sering bicara. Bumi, sang saksi tua, tidak ikut bertempur. Ia hanya mencatat, menunggu manusia kehabisan suara agar kebenaran dapat terdengar kembali.

Nubuat itu kini terasa relevan ketika menatap sosok Haili Yoga. Ruang publik Aceh Tengah dipenuhi kata-kata: unggahan, pernyataan, simbol religius, dan konten seremonial.

Pada saat yang sama, kepercayaan publik justru menipis. Sebagian masyarakat, bahkan aparatur sipil negara, mulai muak, bukan karena kurangnya narasi, tetapi karena miskinnya dampak nyata.

Batas antara kerja normatif dan konten semakin kabur. Kebijakan seolah hadir lebih dulu sebagai narasi, baru belakangan dicari substansinya. Mobilisasi menyukai postingan bagi aparatur sikap tak elok dan menjadi perbincangan bisik-bisik di antara orang yang berseragam.

Dalam situasi krisis, rakyat tidak membutuhkan pidato panjang atau citra saleh yang terus diulang. Mereka membutuhkan kehadiran, keputusan, dan tanggung jawab. Pemimpin yang terjebak dalam perang kata akan kalah oleh sunyi. Sebab ketika suara terlalu banyak, makna mati.

Jika Haili Yoga ingin keluar dari perang tanpa darah ini, jalannya sederhana namun berat: kurangi bicara, perbanyak kerja. Dengarkan tanah yang basah oleh bencana, dengarkan rakyat yang lelah oleh janji.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling lantang berbicara, melainkan siapa yang paling nyata bekerja.

(Mendale, Desember 5, 2021)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.