Oleh : Fauzan Azima*
Akhir tahun selalu datang tanpa banyak bicara. Ia hadir seperti kabut pagi di dataran tinggi Gayo: pelan, dingin, dan memaksa kita menepi sejenak untuk melihat ke belakang.
Tahun 2025 pun pamit dengan cara yang sama. Bukan dengan kembang api berlebihan, melainkan dengan ingatan yang masih hangat tentang luka, peluh, doa, dan keteguhan orang-orang di tanah yang kita cintai ini.
Bagi masyarakat Gayo, 2025 bukan tahun yang sepenuhnya ramah. Bencana hidrometeorologi meninggalkan jejak panjang: rumah-rumah yang roboh, sawah yang terendam, jalan yang terputus, dan hati yang sempat rapuh.
Namun dari situ pula kita belajar satu hal penting, Gayo tidak pernah benar-benar sendirian. Di tengah keterbatasan negara dan tersendatnya birokrasi, solidaritas warga, relawan, pemuda, dan masyarakat adat justru menjadi penopang utama kehidupan.
Tahun ini juga mengajarkan kita bahwa pembangunan tidak selalu soal bangunan megah dan baliho berwarna. Pembangunan sejati adalah kehadiran negara saat rakyatnya paling membutuhkan.
Ketika itu absen, rakyat Gayo memilih bertahan dengan cara mereka sendiri: saling membantu, memasak di dapur umum, membuka posko darurat, dan berbagi apa pun yang tersisa. Ada kearifan lama yang hidup kembali, yakni alang tolong berat bebantu.
Menutup 2025, harapan kita sesungguhnya sederhana. Kita ingin pemimpin yang lebih mendengar daripada berbicara, lebih hadir daripada sekadar mengunggah laporan. Kita berharap kebijakan lahir dari tanah yang diinjak, bukan dari meja rapat berpendingin udara.
Gayo butuh perencanaan yang menghormati alamnya, bukan mengeksploitasinya; pembangunan yang melibatkan rakyat, bukan menyingkirkan mereka.
Harapan di tahun 2026 adalah Gayo yang lebih adil bagi petani kopi, nelayan danau, buruh kebun, dan generasi mudanya. Gayo yang aman dari bencana karena serius menjaga hutan dan lingkungannya. Gayo yang tidak kehilangan jati diri di tengah arus investasi dan kekuasaan.
Di penghujung tahun ini, mari kita simpan sejenak kegaduhan. Dengarkan kembali suara angin dari Danau Lut Tawar, desir pinus di perbukitan, dan doa lirih di surau-surau kampung. Dari sanalah harapan itu berangkat. Tanah Gayo telah terlalu lama bertahan. Kini saatnya ia dirawat, didengar, dan dimuliakan.
(Mendale, Desember 31, 2025)






