Catatan Akhir Tahun; Antara Pejabat, Bencana, dan Isyarat Alam

oleh
oleh

Catatan Redaksi*

Tahun ini wilayah Gayo tidak sekadar ditutup dengan angka dan laporan seremonial. Ia ditutup dengan peristiwa, sikap, dan tanda-tanda alam yang seharusnya membuat siapa pun yang berkuasa menundukkan kepala sejenak.

Di satu sisi, publik menyaksikan kelakuan sebagian pejabat yang terasa makin jauh dari denyut rakyat. Saat bencana datang, yang diharapkan hadir pertama adalah empati dan kerja nyata.

Sayangnya yang sering terlihat justru rapat, unggahan, dan simbol. Ada pejabat yang cepat muncul di kamera, tetapi lambat tiba di lokasi. Ada yang rajin memberi pernyataan, tetapi minim memastikan logistik benar-benar sampai ke dapur korban. Birokrasi tampak sigap di meja, namun sering tertinggal di lumpur dan puing.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Wilayah Gayo sepanjang 2025 menjadi ujian kepemimpinan paling nyata. Banjir, longsor, rumah hanyut, kebun rusak, dan akses terputus bukan sekadar peristiwa alam.

Ia adalah alarm keras tentang tata kelola lingkungan, tata ruang, dan kesiapsiagaan daerah. Ironisnya, setiap tahun bencana datang dengan pola yang sama, dan setiap tahun pula respons kita seolah selalu “belajar dari awal”.

Yang menyelamatkan wajah daerah ini justru sering bukan negara, melainkan warga: relawan, pemuda, mahasiswa, dan komunitas lokal yang bergerak lebih cepat dari surat perintah.

Solidaritas masyarakat bekerja tanpa banyak spanduk, tanpa anggaran besar, tapi dengan hati dan tenaga. Ya, di situlah rasa kehadiran negara paling terasa justru ketika negara terlambat.

Di atas semua itu, Burni Telong berdiri diam, tetapi tidak sepenuhnya sunyi. Aktivitas gunung api ini adalah pengingat bahwa Wilayah Gayo hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang tak bisa ditawar.

Waspada Burni Telong seharusnya tidak berhenti pada rilis status, tetapi menjadi kebijakan mitigasi yang serius: edukasi warga, simulasi, jalur evakuasi, dan tata ruang yang berpihak pada keselamatan, bukan kepentingan sesaat.

Catatan akhir tahun ini mestinya menjadi cermin. Pejabat perlu bertanya: sudahkah kuasa dipakai untuk melayani, atau sekadar mengatur? Bencana harus dibaca sebagai teguran, bukan rutinitas tahunan. Dan Burni Telong mengingatkan: alam tidak pernah bernegosiasi dengan kelalaian.

Tahun baru akan datang. Tapi tanpa perubahan sikap, ia hanya akan mengulang luka yang sama dengan judul yang berbeda. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.