Catatan Mahbub Fauzie (Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)
Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Peringatan ini bukan sekedar seremonial atau mengenang kisah heroik masa lalu, tetapi sebuah momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pejuang.
Nilai-nilai tersebut yakni: kesetiaan, pengorbanan, keberanian, dan tanggung jawab moral demi masa depan generasi. Jika dahulu para pahlawan mempertahankan tanah air dari penjajah, maka hari ini kita berjuang mempertahankan sesuatu yang tidak kalah penting: ketahanan keluarga.
Keluarga adalah benteng pertama dan utama dalam membentuk karakter manusia. Di dalam keluargalah nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesetiaan mula-mula ditanamkan. Namun, dalam dinamika kehidupan modern—terlebih di era digital dan dunia maya yang serba cepat—benteng ini tidak jarang mengalami guncangan.
Salah satu tantangan besar saat ini adalah pengkhianatan dalam rumah tangga, terutama melalui praktik perselingkuhan yang kian marak difasilitasi oleh teknologi, media sosial, dan komunikasi virtual yang tanpa batas.
Kita menyaksikan bagaimana interaksi dunia maya dapat membawa seseorang pada godaan emosional yang berlanjut pada hubungan yang tidak halal. Banyak rumah tangga hancur bukan karena masalah ekonomi, tetapi karena hilangnya kesetiaan.
Padahal, kesetiaan adalah nilai pahlawan. Pahlawan tidak pernah mengkhianati perjuangan; mereka setia kepada cita-cita, tanah air, keluarga, dan harga diri. Di sinilah relevansi Hari Pahlawan untuk kehidupan keluarga hari ini.
Menjadi pahlawan keluarga berarti mampu menjaga kesetiaan, mampu menahan diri dari godaan, mampu memilih keluarga di atas godaan sesaat, dan mampu menutup pintu pada hal-hal yang merusak kepercayaan.
Kesetiaan bukan hanya sikap, tetapi keputusan moral yang harus diperbarui setiap hari.
Kerjasama dalam keluarga bukan hanya soal berbagi tugas, tetapi menguatkan satu visi dan satu arah hidup.
Jauh dari pengkhianatan bukan hanya soal tidak berselingkuh, tetapi menjaga kesucian hati dan pikiran. Ketahanan keluarga akan kuat jika:
1. Komunikasi terbangun dengan hangat, bukan hanya sekedar bercakap, tetapi saling mendengarkan dan memahami.
2. Kepercayaan dijaga, karena sekali retak, sulit untuk kembali utuh.
3. Nilai agama ditegakkan, shalat berjamaah, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menghadirkan Allah dalam setiap keputusan.
4. Penggunaan media sosial dikendalikan, bukan sebaliknya kita dikendalikan olehnya.
5. Kesetiaan dijaga dengan kesadaran, bahwa keluarga adalah amanah dan karunia yang tidak bisa ditukar dengan kenikmatan sesaat.
Hari Pahlawan mengingatkan kita bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang berperang mengangkat senjata, tetapi juga mereka yang berjuang di garis depan kehidupan sehari-hari: menahan diri dari hal yang dilarang, menepati janji pernikahan, menjaga martabat keluarga, dan membesarkan anak dengan teladan yang baik.
Maka, marilah kita meneladani pahlawan dalam bentuk yang paling sederhana namun paling fundamental: setia kepada keluarga. Karena dari keluarga yang kuat, lahir generasi bangsa yang kuat.
Dan dari hati yang setia, lahir kedamaian dalam rumah tangga yang mendatangkan keberkahan. Ketahanan keluarga adalah medan juang kita hari ini. Dan setiap dari kita dapat menjadi pahlawan di dalamnya.
Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberi kita kekuatan menjadi pahlawan bagi keluarga kita masing-masing. Pahlawan yang menjaga kesetiaan, memelihara cinta, menegakkan nilai agama, serta mendidik anak-anak dengan akhlak dan keteladanan.
Semoga Allah meneguhkan hati kita dari godaan yang merusak keutuhan rumah tangga, melapangkan komunikasi yang penuh kasih, dan menurunkan ketenangan serta keberkahan dalam setiap langkah kehidupan keluarga kita.
Ya Allah, jadikan rumah kami baiti jannati, rumah yang menjadi taman ketenangan, tempat tumbuhnya kasih sayang, dan sumber kekuatan dalam menghadapi segala ujian zaman.
Lindungilah keluarga kami dari perpecahan, jauhkan dari perselingkuhan, penyakit hati, dan godaan dunia maya yang menyesatkan. Kokohkan tekad kami untuk selalu setia, saling percaya, dan saling menguatkan dalam menjalani amanah kehidupan bersama.
Dengan semangat Hari Pahlawan, mari kita berjuang menciptakan keluarga yang tangguh, sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Karena dari ketahanan keluarga, lahirlah ketahanan bangsa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []
Kung, 10 November 2025





