Oleh : Hammaddin Aman Fatih*
Pacuan Kuda tahun ini dilaksanakan dari tgl 25 s/d 31 Agutus 2025 di kota Wisata Takengon merupakan tradisi tahunan warisan budaya Gayo yang terus mengikat masyarakat dengan sejarah dan identitasnya atau merupakan bagian integral dari sejarah dan tradisi lokal (Tanah Gayo ; Aceh Tengah, Gayo Lues dan Bener Meriah).
Seorang musisi tanah Gayo Kandar S.A mengabadikan dalam sebuah lagu dengan judul Pacu Kude, yang menggambarkan bagaiman kuatnya tradisi tahunan budaya masyarakat di tanah Gayo dengan kegiatan pacuan kuda.
Setiap tahun, pacu kuda dilaksanakan hadir bukan sekadar seremonial, melainkan sebagai pengingat akan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal yang sering kali terlupakan dalam arus modernisasi. ( Lihat https://lintasgayo.co/2019/02/20/hut-kota-takengon-dan-pacuan-kuda/).
Namun, dalam perkembangan zaman, pacuan kuda tradisi tahunan sering mengalami dilema. Di satu sisi, ia menjadi daya tarik budaya bahkan potensi pariwisata. Di sisi lain, ada risiko tradisi berubah hanya menjadi tontonan komersial tanpa ruh makna yang mendalam. Padahal, esensi tradisi adalah menjaga keberlanjutan nilai, bukan sekadar hiburan semata.
Oleh karena itu, menjaga tradisi tahunan perlu keseimbangan, tetap mempertahankan keaslian dan maknanya, sembari menyesuaikan bentuk pelaksanaan agar relevan dengan generasi sekarang atau dengan istilah yang elegen “berangkat dari yang asli tapi diberi baju sesuai arus digital yang mendunia”. Partisipasi generasi muda menjadi kunci, agar tradisi tidak hanya dikenang, tetapi terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi tahunan pada akhirnya adalah cermin : ia memperlihatkan siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana akar budaya akan menuntun langkah kita ke depan.
Melihat potensi event pelaksanaan pacuan kuda di kota Takengon sudah seharusnya mempunyai daya tarik global, bergema keluar apa lagi dengan fasilitas yang sudah berstandar nasional warisan peninggalan pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional XXI Aceh Sumut 08 s/d 20 September 2024 yl (Lihat https://lintasgayo.co/2024/10/06/takengon-dan-venue-pon-xxi/).
Tapi sayang, kalau kita tidak jujur pun, sebenarnya pelaksanaan pacuan kuda punya nilai tinggi (Berbau Emosi 3 kabupaten- Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues), tapi tidak banyak dipublikasikan/diliput, sehingga dampaknya tidak sebesar yang seharusnya? Dalam tataran lingkungan wilayah provinsi Aceh juga tidak ada dampak geregetnya.
Tapi sejarah mencatat pelaksanaan PON XXI Aceh-Sumut untuk cabang Pacuan Kuda sangat sukses menyedot perhatian banyak kalangan. Ratusan ribu penonoton, konon mencapai 120 ribu orang memadati venue pacuan kuda HM Hasan Gayo Bebangka-Takengon itu, telah membuat kontingen dari luar terkesima dengan kehadiran penonton yang begitu membludaknya.
Salah seorang kontingen mengatakan : “saya penggemar kuda, bahwa sejak saya kecil sampai sekarang belum pernah melihat penonton begitu banyaknya. Bisanya paling banyak hanya dibawah lima ribuan, itupun dan sangat wah sekali. Ini ribuan, merinding saya melihatnya, begitu semaraknya, antusiasnya orang disini melihat pacuan kuda”. (https://gayo.tribunnews.com/2024/10/01/pacuan-kuda-ikon-baru-kota-wisata-takengon?page=all).
Apakah ada yang salah dengan pelaksanaan event pacuan kuda saat ini. Di mata penulis seorang antropolog, yang semoga argument ini sebuah kesalahan hanya berbasis sentiment semata. Point penting bagi penulis, ada tiga kemungkinan terabaikan dalam proses pelaksanaannya, yakni sebagai berikut ;
Pertama, kurangnya strategi komunikasi. Acara besar sering fokus ke pelaksanaan teknis, tapi melupakan perencanaan publikasi/media. Kita lihat sepanjang jalan masuk ke wilayah kabupaten Aceh Tengah. Gayo Lues masuk kearah atau Bener Meriah masuk kearah kabupaten Aceh Tengah. Atau seputaran kota Takengon. Adakah terlihat spanduk publikasi pelaksanaan. Tidak nampak ada kesemarakan. Belum lagi sepinya publikasi di media sosial (WhatsApp, Facebook, Tiktok, Twitter. Instagram, dll).
Kedua, terbatasnya jaringan media. Mungkin pihak (semoga ini pendapat yang salah) penyelenggara tidak punya akses kuat ke media massa atau influencer. Atau mungkin bisa jadi disebabkan minimnya anggaran promosi. Ingat, publikasi sering dikorbankan karena dianggap biaya tambahan, padahal justru vital.
Ada coment, event besar, mentradisi dalam budaya masyarakat kita dilaksanakan sudah dalam fasilitas standar nasional. Dalam acara pembukaan tidak bisa menghadirikan pejabatan selevel provinsi (Kadis) untuk membukanya.
Hal diatas merupakan salah satu indikator bahwa pelaksaan pacuan kuda hanya kegiatan lokal, konsumsi lokal. Hakikatnya pacuan kuda itu sudah merupakan sebuah event penting “levelnya sudah global tapi aksinya local”. Sangat disayangkan………
Ketiga, tidak ada narasi yang menarik, yakni event besar kadang gagal dikemas dengan cerita yang bisa memancing atensi publik dan diperparah dengan timing publikasi yang salah, ini juga mungkin karena promosi dilakukan terlalu mepet atau justru terlalu jauh dari hari H.
Dampaknya : event bisa saja berjalan sukses secara internal, tapi gaungnya di masyarakat kecil, sehingga tujuan branding, awareness, atau partisipasi tidak maksimal.
Pelaksanaan pacuan kuda itu seharusnya menjadi momen penting karena bisa membawa dampak positif, baik dari sisi kebersamaan, promosi budaya/produk, hingga memberikan pengalaman baru bagi para peserta maupun masyarakat. Dengan adanya pacuan kuda ini, kita bisa melihat antusiasme yang tinggi dan juga peluang untuk memperkenalkan potensi lokal ke khalayak lebih luas.
Kegiatan tersebut bukan hanya sekadar pesta hiburan, melainkan juga sarana strategis untuk memajukan pariwisata. Melalui pelaksanaan pacuan kuda, daerah dapat menunjukkan identitas budaya, potensi alam, hingga keramahtamahan masyarakatnya. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati acara, tetapi juga akan tertarik menjelajahi destinasi lokal di sekitarnya.
Selain itu, event besar menjadi “etalase” yang efektif untuk memperkenalkan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kuliner khas, serta kearifan lokal kepada dunia. Jika dikelola dengan baik, event dapat menciptakan multiplier effect yang luas, mulai dari peningkatan ekonomi masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan citra daerah sebagai tujuan wisata.
Semoga pelaksanaan pacuan kuda ini dapat berjalan lancar, tertib, dan sesuai rencana. Harapannya juga acara ini bisa memberikan manfaat jangka panjang, seperti memperkuat kerja sama antar pihak, meningkatkan perekonomian, serta menjadi inspirasi agar ke depannya lebih banyak kegiatan positif yang serupa dapat diselenggarakan.
Ke depan, bisa dirancang lebih profesional dan berkelanjutan. Bukan hanya ramai saat acara, tetapi juga meninggalkan jejak positif bagi sektor pariwisata. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat, pelaksanaan pacuan kuda besar dapat menjadi motor penggerak untuk menjadikan pariwisata lokal semakin maju dan mendunia.
Khusus untuk parkir, mohonlah pemda Aceh Tengah, terkhusus untuk panitia untuk mengatur secara jelas teknis pelaksanaannya dilapangan. Penulis sendiri datang dengan keluarga sambil menemani keluarkan yang datang dari luar daerah. Merasa sangat malu dengan mereka.
Sistem perpakiran yang terkesan agak aneh-aneh tidak seperti biasa. Ketika masuk dimintai uang masuk perkereta Rp.10.000,- diserahkan dengan tiket resmi. Anehnya ketika masuk mencari tempat parkir diminta lagi uang parkir Rp.10.000,- perkereta baru bisa parkir. Kami pengunjung bingung, daripada ribut malu ya dengan hati berat bayar juga.
Akhirnya yang sangat penting mari kita mengajak warga untuk mengambil bagian dalam kepedulian terhadap pelaksaaan event tersebut, Merawat sejarah dan tradisi kita tidak hanya membantu melestarikan warisan kita tetapi juga menumbuhkan rasa identitas yang kuat dalam komunitas kita.
*Penulis adalah antropolog dan penulis buku People of the Coffee serta buku Opini Cekgu yang berdomisili diseputaran kota Takengon.