Catatan : Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd*
Dakwah Islamiyah di Kabupaten Aceh Tengah dalam waktu terakhir ini menunjukkan geliat yang cukup semangat dan patut disyukuri.
Aktivitas keagamaan yang tumbuh subur di tengah masyarakat bukan hanya menggambarkan kuatnya tradisi religius masyarakat Gayo, tetapi juga menjadi bukti kesungguhan berbagai pihak dalam menjaga, menguatkan, sekaligus mengembangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini tampak jelas dari maraknya kegiatan pengajian bulanan yang diinisiasi oleh Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) maupun Forum Ukhuwah dan Silaturrahmi Ibu-ibu Takengon (FUSPITA) yang tersebar di 14 kecamatan.
Kehadiran pengajian ini tidak sekadar sebagai forum rutinitas, tetapi telah menjelma menjadi ruang pembelajaran, penguatan iman, dan perbaikan akhlakul karimah.
Dari sinilah lahir energi kolektif yang memperkuat posisi masyarakat Aceh Tengah sebagai masyarakat religius yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Lebih dari itu, geliat dakwah semakin semarak dengan hadirnya program-program inovatif seperti Gerakan Subuh Berkah yang dilaksanakan setiap Rabu pagi dengan format subuh keliling.
Kegiatan ini bukan hanya menghidupkan syiar salat subuh berjamaah, tetapi juga menjadi ajang silaturrahmi antarwarga serta ruang bagi para da’i untuk menyampaikan pesan moral.
Demikian pula dengan program Safa Maghrib atau Safari Salat Maghrib Berjamaah yang dimotori oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah dibawah pimpinan H Wahdi MS MA, Dewan Masjid Indonesia (DMI) dengan ketuanya Dr H Hamdan MA, dan didukung penuh oleh civitas akademika IAIN Takengon dengan dikomandoi Pak Rektor Dr Ridwan MCL.
Program ini berhasil menghadirkan nuansa kebersamaan dalam ibadah dan memperkokoh fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Semua gerakan tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang menegaskan komitmen “memulai kerja dari masjid”.
Visi ini sangat progresif, karena pembangunan berbasis masjid sejatinya adalah pembangunan berbasis nilai.
Masjid menjadi titik awal lahirnya kebijakan, penguatan moral aparatur, hingga pembinaan masyarakat. Ketika masjid berfungsi optimal, maka arah pembangunan akan lebih kokoh karena berakar pada nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.
Namun, geliat dakwah yang indah ini jangan membuat kita lengah. Sebab, di sisi lain kita juga menyaksikan adanya gejolak sosial di kalangan remaja yang kian meresahkan.
Fenomena bullying di sekolah, maraknya balapan liar di jalanan, peredaran narkoba, hingga praktik judi online adalah fakta sosial yang tidak bisa kita tutupi. Generasi muda yang seharusnya menjadi aset bangsa justru menghadapi ancaman serius yang bisa merusak moral, mental, dan masa depan mereka.
Inilah tantangan nyata dakwah Islamiyah hari ini: bagaimana menghadirkan dakwah yang menyentuh langsung persoalan generasi muda. Dakwah tidak cukup hanya di mimbar masjid, tetapi perlu masuk ke ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan remaja: sekolah, komunitas, hingga ruang digital.
Para pemuda harus merasakan bahwa masjid adalah rumah mereka, tempat mereka bisa belajar, berkarya, dan menemukan identitas positifnya.
Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan Subuh Berkah dan Safa Maghrib menjadi sangat penting. Dengan itu, mereka tidak hanya hadir sebagai jamaah, tetapi juga sebagai penggerak kegiatan keagamaan.
Ketika remaja sibuk di masjid, terlibat dalam kajian, bahkan aktif dalam program sosial keagamaan, maka ruang bagi mereka untuk terjerumus ke dalam perilaku menyimpang akan semakin sempit.
Masjid sejatinya bukan hanya pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pendidikan, sosial, bahkan pemberdayaan ekonomi. Jika fungsi ini benar-benar digerakkan, masjid akan mampu menjadi benteng yang kokoh melawan arus negatif globalisasi.
Anak-anak muda yang haus akan eksistensi bisa diarahkan untuk menyalurkan energi mereka melalui aktivitas positif di masjid.
Dalam perspektif dakwah, masalah kenakalan remaja, narkoba, dan judi online bukan sekadar masalah moral, tetapi masalah peradaban. Karena itu, solusi yang dibutuhkan juga harus bersifat peradaban: penguatan iman, pemantapan ilmu, dan penanaman akhlak.
Semua ini hanya mungkin terwujud apabila seluruh komponen masyarakat bergerak bersama: orang tua, guru, tokoh agama, pemerintah, dan tentu saja lembaga pendidikan.
Dakwah Islamiyah di Aceh Tengah harus dipahami sebagai gerakan sosial yang melampaui sekadar tabligh. Ia adalah ikhtiar kolektif membangun masyarakat berperadaban.
Ketika pengajian bulanan, gerakan salat berjamaah, dan safari dakwah digelorakan secara konsisten, kita sebenarnya sedang memperkokoh benteng masyarakat dari dekadensi moral.
Akhirnya, geliat dakwah Islamiyah di Aceh Tengah adalah modal besar untuk melahirkan masyarakat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sekaligus berdaya saing.
Namun modal ini harus dibarengi dengan kewaspadaan terhadap ancaman kenakalan remaja dan penyakit sosial yang kini mulai menyusup ke tengah masyarakat kita.
Jika obsesi “memulai kerja dari masjid” benar-benar dijalankan secara konsisten, kita optimis Aceh Tengah tidak hanya dikenal dengan keindahan Danau Lut Tawar atau budaya Gayo yang kaya, tetapi juga sebagai kabupaten yang berhasil membuktikan bahwa masjid adalah benteng moral dan pusat peradaban yang mampu membentengi generasi dari gelombang tantangan zaman.
*Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah