Catatan Mahbub Fauzie*
Senin pagi, tanggal 25 Agustus 2025 menjelang Subuh, saya tiba di Dayah Raudhatul Qur’an, Tungkob, Darussalam, Aceh Besar. Perjalanan darat dengan Angkutan Umum L300 dari Takengon selepas Isya malam sebelumnya tidak terasa melelahkan. Selain untuk menjenguk anak kedua dan ketiga yang sedang mondok di Dayah Darul Ihsan, kunjungan ini sekaligus untuk mengantar anak pertama setelah selama masa liburannya. Ia mondok di Raudhatul Qur’an, selain mondok, ia juga kuliah.
Saya tidak menyangka bahwa perjalanan ini menjadi lebih dari sekadar urusan keluarga. Menikmati izin cuti sehari, perjalanan kali ini menjadi panggilan hati, bahkan tak ubahnya sebuah undangan dari langit untuk menyelami kembali hakikat hidup: cinta. Atau dalam bahasa para sufi, mahabbah.
Setelah berjamaah Subuh di meunasah dayah, kami yang hadir disambut oleh atmosfer ilmu. Terdapat beberapa kelas pengajian yang berlangsung serempak. Saya memilih duduk di kelas utama, di mana Abu Dayah memimpin pengajian kitab kuning dengan sistem sorogan. Ada lima santri senior yang mengaji, dan kami—lima orang tua, empat di antaranya lansia—menyimak dengan khidmat. Tema yang dibahas Abu adalah tentang mahabbah, dari kitab monumental Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Saya pun diingatkan kembali ke literasi kitab Ihya, koleksi ayahnda semasa hidupnya. Yang sering saya baca terjemahannya.
Penjelasan Abu merujuk langsung pada pemikiran Imam Al-Ghazali: bahwa cinta kepada Allah adalah puncak keimanan, dan tidak mungkin tumbuh tanpa ma’rifah—pengenalan akan siapa yang dicinta. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Orang-orang yang beriman itu sangat besar cintanya kepada Allah” (QS Al-Baqarah: 165), dan dalam hadits, “Iman itu adalah jika Allah dan Rasul-Nya lebih kau cintai dari segala sesuatu.” (HR. Ahmad).
Imam Al-Ghazali membagi cinta dalam Ihya’ menjadi lima jenis:
1. Cinta kepada diri sendiri dan kesempurnaannya.
2. Cinta kepada orang yang berbuat baik kepadanya.
3. Cinta kepada orang yang berbuat baik kepada orang lain.
4. Cinta terhadap keindahan fisik dan etika.
5. Cinta karena adanya kesamaan dan keterhubungan batin.
Namun, semua bentuk cinta ini menurut beliau hanyalah bayangan dari satu cinta sejati: cinta kepada Allah Ta’ala. Sebab hanya Allah yang sempurna dalam kelima aspek itu. Al-Ghazali menegaskan: “Jika seseorang mencintai selain Allah, itu karena ia belum cukup mengenal Allah.”
Pernyataan ini mengetuk batin saya. Betapa sering kita larut dalam cinta kepada makhluk—anak, pasangan, harta, pujian—tanpa sadar bahwa cinta itu bisa menjauhkan kita dari Sang Kekasih Sejati. Sementara cinta kepada Allah justru menata ulang semua cinta lainnya. Mencintai Allah tidak berarti meninggalkan cinta kepada makhluk, tapi menempatkannya dalam urutan yang benar.
Menyimak ulasan Abu saat mensyarah tentang mahabbah dari kitab Ihya, saya tak bisa menahan haru. Duduk di sana sebagai seorang ayah, di usia yang mulai senja, menyimak ilmu bersama para santri dan lansia lainnya, saya merasa sangat kecil sekaligus terberkahi. Cinta kepada anak yang mendorong saya datang ke dayah ini, justru membawa saya pada pemahaman cinta yang lebih besar dan agung. Cinta yang bukan sekadar perasaan, tetapi energi ruhani yang menuntun kita kembali kepada Allah.
Al-Ghazali menyatakan bahwa cinta kepada kebaikan adalah fitrah, dan tak bisa ditolak. Maka, barang siapa mengenal Allah sebagai sumber segala kebaikan, ia pasti akan mencintai-Nya secara alami. “Sungguh cinta kepada kebaikan adalah naluri yang tak bisa diubah,” tulis beliau. (Ihya’, hlm. 298)
Cinta ilahiyah bukan sekadar rasa, tapi jalan. Ia menumbuhkan ibadah yang ikhlas, akhlak yang lembut, dan kesabaran dalam ujian. Ia pula yang membuat para wali tidak menyesali dunia, karena hati mereka telah dipenuhi oleh cinta yang tak lekang oleh waktu: cinta kepada Allah.
Pengajian subuh itu bukan hanya pelajaran bagi para santri, tapi juga bagi saya. Saya merasa seperti telah diberi hadiah tak terduga—sebuah pengingat dari Allah melalui ilmu dan para pewaris Nabi: bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang menuju. Menuju Allah, Sang Pemberi Cinta, yang menjadi asal segala cinta.
Semoga kita semua bisa menjadi bagian dari para pecinta Allah—yang kelak dipanggil dengan mesra di akhirat: “Wahai para kekasih Allah, kemarilah menghadap Tuhanmu.” Aamiin.
Darussalam, 25 Agustus 2025
*Seorang ayah, putra-putrinya yang sedang nyantri di dayah.