Catatan *Feri Yanto

GAJAH sudah merupakan bencana bagi masyarakat kampung Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, pasalnya Gajah yang merupakan satwa dilindungi ini telah banyak timbulkan kerusakan di Kampung Karang Ampar, diantaranya puluhan hektar tanaman masyarakat rusak, pohon pinang, padi darat (rom tajuk), pisang, dan tanaman perkebunan lainnya. Selain rusak, tanaman masyarakat juga tidak dapat dipanen karena masyarakat tidak berani ke kebun.
Selain tanaman juga beberapa rumah di Dusun Paya Lah kampung Karang Ampar juga rusak diporakporandakan oleh hewan berbadan besar tersebut yang melampiaskan kemarahanya yang kita sendiri tidak tau pasti apa penyebabnya, apakah karena habitatnya sudah terganggu oleh tangan manusia sendiri atau karena persediaan makanan di hutan semakin menipis hingga binatang ini turun ke perkebunan dan permukiman warga.
Saleh Kadri, Reje kampung tersebut menceritakan bahwasanya Gajah sudah mulai berada di Kampung Karang Ampar sejak empat tahun silam, selama itu gajah sudah sangat jarang keluar dari wilayah kampung tersebut, bahkan selama bulan Ramadhan tahun ini Gajah selalu berada di kampung tersebut.
Akibat takut dan khawatir terhadap serangan gajah yang masuk kepemukiman dan menyerang warga kampung tersebut warga terpaksa selalu jaga malam, masyarakatpun hanya memiliki alat tradisional untuk menghalau gajah yaitu dengan menggunakan mercun. Sehingga suara dentuman mercun merupakan sebuah tanda bahwa gajah sudah mendekat, selama kami disanapun saat melaksanakan Student Work Camp (SWC) yang merupakan perogram HMI cabang Takengon, kami kerapkali mendengar suara dentuman mercun tersebut.
Mungkin itu merupakan salah satu penyebab kenapa kampung ini selalu sepi, apalagi jika malam hari bahkan masjid dan menasahpun selalu sepi hanya sedikit sekali jamaah yang ikut melaksanakan shalat tarawih itupun hanya warga yang berada dekat seputaran masjid dan menasah, apabila listrik mati maka tak ada jamaah samsekali dan itu pernah hanya kami kader HMI saja shalat tarawih di masjid.
Meski gajah terus menghantui hidup tetaplah perlu makan, dengan demikian tentunya usaha harus tetap jalan bagaimanapum cara menyiasatinya agar tetap bertahan hidup, mungkin itu salah satu alasan keluarga ibu Nur Aini (Inen Nur Aini) sehingga memiliki ide membuat rumah di atas pohon.
Saat kami mendatangi kebun ibu Nur Aini yang di dalam kebunya terdapat sebuah rumah yang berada di atas pohon rambutan setinggi sekitar 10 meter (di Gayo, rumah diatas pohon disebut Kenawat, tujuannya untuk menghindari serangan satwa liar), disana terlihat duduk seorang ibu-ibu dengan seorang anak laki-lakinya yang masih sekolah SD di Kampung Karang Ampar tersebut.
Saat kami tanya kenapa ibu membuat rumah di atas pohon dirinya menceritakan akibat takut diserang gajah, sementara dirinya harus kekebun untuk merawat kebunya dan menjaga ternaknya di kebun. “kalau gak kesini mau makan apa, apa biaya adikmu sekolah dan ada yang kuliah di UGP,” katanya.
Dilanjutkanya, “Saya takut gajah, sehingga saya bilang sama bapakmu untuk membuat rumah di atas pohon, ada pohon rambutan besar disini buat aja rumah disitu, saya lihat dibergang juga ada orang buat rumah di atas pohon rambutan,” ceritanya.
Rumah ini memang rumah kebun ibu Nur Aini, yang jaraknya dari pemukiman warga dusun Arul Ropa sekitar 3 Km, saat ditanya alasan bu Nur Aini lebih memilih bermalam dan tinggal di kebun alasanya adalah karena takut jika pulang balik ke kampung berpapasan di jalan dengan gajah.
“Saya takut berpapasan (Muserempuk-Gayo Red) dengan gajah, pernah ada bekas gajah yang baru lewat di jalan ke kebun ini, dan memang sering gajah lewat sini, saya pikir lebih aman kalau tinggal disini dan tinggal di atas pohon,” begitu jawab Nur Aini.
Dari cerita ibu Nur Aini ini saya sendiri berfikir bahwa memang masyarakat kampung Karang Ampar hidup dalam bayangan ketakutan dan hidup dalam keterpaksaan tanpa ada pilihan, sehingga apapun konsekwensinya semua harus dilakukan biarpun nyawa adalah taruhan, segala sesuatunya mungkin hanya dipasrahkan kepada Allah SWT, maka tidak berlebihan apa yang dikatakan oleh salah satu anggota HMI, Sahrijan, mereka inilah pejuang sebenarnya, inilah jihad sebenarnya. Innashalati, wanusuki, wamahyaya, wamahmati lillahirabbil Alamin (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah karena Allah tuhan seru sekalian alam.[]