Oleh Mezra. E Pellondou

DIALOG Kopi kedua diawali oleh Mustafa Ismail editor Tempo juga seorang penyair handal dari Aceh dimoderator oleh Fikar W Eda dengan menceritakan proses antologi puisi kopi penyair dunia dengan melihat kopi tidak sebagai kopi saja tetapi kopi sebagai inspirasi bersastra.
Sekitar 1800 puisi masuk ke panitia dan dibaca satu persatu saat dikurasi. Syarat minimal yg harus dipenuhi penyair adalah memiliki nilai estetika dlm menyampaikan apapun tentang kopi, baik tradisi tentang kopi, cara minum kopi, pengalaman dan kenangan tentang kopi, petani kopi, pengelola kopi dan sebagainya. Mengkritisi pengalaman penyair dengan kopi juga menjadi sumber ide penyair kedepannya semoga tindakan kritis menulis seperti ini tidak hanya dilakukan oleh seniman dan sastrawan karena masyarakat, pasar dan industri juga bisa digerakan untuk mendorong mempromosikan komoditas daerah bahkan mungkin termasuk desainer dan seniman lukis.
Pemerintah diharapkan bisa peduli memberi penghargaan pada seniman, sastrawan, dan masyarakat yang bisa menghargai hal seperti ini dengan caranya masing-masing. Proses lahirnya puisi kopi ini merupakan pekerjaan besar yang dilakukan dengan sukarela oleh panitia termasuk tiga kurator, Salman Yoga, Fikar W Eda, dan Mustafa Ismail.
Mengakhiri dialog Mustafa berharap buku puisi kopi bisa menjadi oleh-oleh bagi masyarakat pembaca juga siapapun termasuk program industri kreatif.
Pak Daru dari BeKraf memberi alasan mengapa kopi Indonesia mendunia karena kopi telah menjadi produk eksport sejak dijajah Belanda abad 17. Harga sangat ditentukan negara lain dan saat itu Indonesia bersaing dengan negara lain termasuk Afrika. Di dunia modern kopi pernah anjlok tahun 2010 karena promosi kopi dalam negeri rendah sejak tahun 2005 padhal India, Cina, Vietnam sangat dipentingkan.
Kendala utama konsumsi kopi dalam negeri rendah, stabilitas mutu dan pasokan yang belum menjamkan, koordinasi antar lembaga, transportasi dan logistik serta pendanaan, perijinan, infrastruktur, inovasi dan kreativitas. Semua ini membutuhkan kerjasama yang baik antar semua pihak termasuk kopi dihargai sebagai karya seni.
Masalahnya semua lembaga atau komunitas yang berurusan dengan kopi kadang memiliki program sendiri yang kadang belum menjamin prekonomian dan industri kreatif yang berurusan dengan kualitas kopi serta kopi sebagai karya seni.[]
*Penulis adalah penyair Rote Nusa Tenggara Timur. Hadir ke Gayo dalam rangka pesta kopi penyair dunia dan karyanya termuat dalam buku kumpulan puisi Kopi 1500 MDLP. (WAn)