Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*
“Kalau ingin mengenal dunia, membacalah. Kalau ingin dikenal dunia, menulislah,” ungkapan sangat populer di kalangan dunia penulis, jurnalistik maupun sastra. Entah siapa yang pertama kali melontarkan ungkapan tersebut, agak sulit menelusurinya, namun kemudian dari berbagai referensi, kita jadi tau bahwa penulis terkenal dunia seperti RL Stine, Enyd Byton dan beberapa penulis besar lainnya, pernah mengungkapkan kalimat itu di media. Begitu juga penulis, novelis dan sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dan Jurnalis kawakan, pemilik jaringan media besar Jawa Post Group dan Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, juga pernah melontarkan ungkapan ini, beitu referensi yang saya dapat dari beberapa media Terlepas dari siapapun yang pertama kali mempopulerkan ungkapan tersebut, tapi yang jelas saya mulai mulai merasakan kebenaran dari ungkapan tersebut.
Berawal dari hobi membaca
Seingat saya, hobi membaca sudah mulai melekat dalam diri saya sejak saya mulai mengenal huruf dan rangkaian kata-kata, yaitu ketika saya memasuki bangku sekolah dasar. Sebuah kebetulan, di rumah orang tua saya banyak buku, karena ayah saya memang seorang guru dan sering membawa berbagai jenis buku ke rumah, beliau juga sering membawa majalah dan koran, setiap pulang dari bepergian ke kota. Waktu itu saya paling tertarik membaca buku-buku cerita, tapi buku-buku lain juga tidak luput dari perhatian saya, begitu juga dengan majalah dan koran, sering saya bolak balik membacanya, meskipun terkadang saya tidak paham sepenuhnya apa yang saya baca dari koran atau majalah tersebut.
Seiring dengan bertambahnya usia, kegemaran membaca saya semakin melekat, apalagi setelah saya bisa mengelompokkan bacaan sesuai dengan pemahaman saya waktu itu, mulai dari dongeng, cerita anak, komik, cerpen, artikel politik, budaya dan sebagainya, bahkan terkadang saya juga membaca novel koleksi dari kakak sepupu saya, ketika saya “menyusup” ke kamarnya sewaktu saya pergi ke rumah pak de saya. Dari kegemaran membaca itu, akhirnya banyak tau sesuatu yang sebelumnya tidak saya ketahui, namun semakin sering membaca, semakin besar rasa keingintahuan saya tentang berbagai hal dari semua bahan bacaan. Di sekolah, terkadang saya menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan sekolah setelah usainya jam pelajaran.
Memasuki usia sekolah menegah pertama, mulia timbul keinginan saya untuk menulis setelah membaca berbagai tulisan di majalah anak. Saya pun mencoba untuk menulis cerita anak dan mencari tau bagaimana mengirimkan tulisan ke majalah anak. Mungkin karena rasa ingin tau saya yang begitu besar, mesin ketik manual yang sering dibawa ayah saya dari sekolah tempat dia mengajar, sering menjadi sasaran keusilan saya untuk mencoba menggunakan alat tulis tersebut, sehingga saat memasuki kelas satu SMP, saya sudah lancar menggunakan mesin ketik, dan itulah yang mendorong keinginan saya untuk mulai menulis. Alhamdulillah beberapa tulisan saya bisa lolos ke majalah anak yang cukup populer waktu itu meski hanya berskala dearah, dan tulisan saya memang masih bisa di hitung dengan jari. Memasuki kelas 3 SMP saya mulai tertarik untuk menulis cerpen, terinspirasi dari cerpen atau novel yang pernah saya baca, padahal waktu itu boleh dibilang saya belum punya pengalaman tentang masa remaja dengan berbagai pernak perniknya, tapi saya mencoba menggali imajinasi saya untuk menuliskan sebuah “dunia” yang sebetulnya belum pernah saya masuki. Dan lagi-lagi beberpa cerpen saya bisa lolos di majalah remaja.
Masa SMA merupakan masa transisi yang cukup sulit dari kehidupan saya, sehingga saya nyaris melupakan keinginan saya untuk menulis, namun demikian aktifitas membaca saya terus berlanjut, apalagi saya bersekolah di sebuah sekolah negeri favorit yang punya koleksi perpustakaan yang lumayan lengkap. Saya juga mulai berkenalan dengan perputakaan daerah dimana berbagai koleksi buku tersedia disana. Kondisi ekonomi orang tua saya yang belum stabil akibat baru berpindah domisili dari Jawa Tengah ke Aceh, membuat saya belum mampu untuk menyewa buku perpustakaan untuk dibawa pulang. Nongkrong seharian di perpustakaan, akhirnya menjadi pilhan saya untuk menyimak buku-buku karya penulis besar seperti HAMKA, Sutan Takdir Alisyahbana, Nur Sutan Sati, NH Dini, Mira W, Marga T, Agatha Cristie dan penulis-penulis lainnya. Namun karena waktu itu saya harus sekolah sambil bekerja, saya jadi nyaris tidak punya kesempatan untuk menulis, padahal setelah membaca referensi dari para penulis terkenal itu, sudah mulai timbul “mimpi” saya menjadi seorang penulis, namun semua keinginan itu terpaksa saya pendam dalam-dalam.
Lulus dari SMA, sebenarnya saya juga punya keinginan seperti teman-teman lainnya untuk bisa melanjutkan kuliah, apalagi prestasi saya mulai dari SD sampai SMA lumayan bagus, peringkat 5 besar nyaris tidak pernah lepas dari tangan saya, bahkan di tingkat SD dan SMP, Alhamdulillah saya “langganan” rangking pertama. Seiring dengan bertambahanya kedewasaan saya, sayapun mulai bisa berfikir realistis, tidak mungkin saya memaksakan diri untuk kuliah sementara kemampuan ekonomi orang tua saya belum memungkinkan, apalagi saya adalah anak pertama, masih ada empat adik saya yang juga butuh biaya sekolah. Relaita seperti itu kemudian memaksa saya untuk masuk ke “dunia” yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dengan niat membantu meringankan beban orang ua, akhirnya saya mulai bekerja serabutan mulai jadi buruh penggilingan padi, mencangkul di kebun orang, menjadi tukang batu sampai jadi penebang kayu di hutan, sementara saya harus mengesampingkan ijazah SMA yang saya peroleh dengan kerja keras dan perjuangan berat itu.
Tapi yang namanya perjalanan hidup memang tidak bisa ditebak, karena itu memang menjadi rahasia Tuhan. Setelah hampir tiga tahun bekerja dari satu tempat ke tempat lain dengan penghasilan tidak menentu, “Titik terang” kehidupan saya mulai terlihat. Di daerah tempat tinggal saya kebetulan membuka kesempatan tes menjadi pegawai negeri dan salah satu kriteria pegawai yang diterima adalah lulusan SMA. Berbekal ijazah SMA yang kebetulan nilainya lumayan tinggi, saya mencoba “mangadu nasib” bersama delapan ratusan pelamar lainnya yang punya ijazah sederajat dengan saya, sementara lowongan yang tersedia hanya untuk lulusan SMA hanya 4 orang saja.
Seperti lolos dari lubang jarum, hanya sekali itu saja saya ikut tes pegawai dan dengan pertolongan Tuhan, saya dinyatakan lulus. Terbayang di benak saya untuk memulai pekerjaan baru yang tidak lagi membutuhkan kekuatan otot seperti pekerjaan yang saya jalani sebelumnya. Entah dengan pertimbangan apa, ketika SK pegawai sya keluar, saya langsung ditempatkan pada Dinas Pertanian setempat, padahal saya tidak punya basic pendidikan pertanian, agak ragu juga awalnya saya memasuki bidang yang sama sekali saya tidak punya pengalaman tentang itu. Namun hidup adalah proses, tidak sesuatu yang tidak mungkin, jika ada tekat dan kemauan untuk terus elajar, begitu yang terpikir dalam benak saya ketika memasuki hari-hari pertama bekerja pada instansi yang mengurus bidang pertanian itu.
Mulai berkenalan dengan media
Dunia pertanian yang merupakan dunia baru bagi saya, benar-benar saya manfaatkan untuk belajar supaya saya bisa “larut” di dalamnya, dan puji syukur kepada Tuhan, karena saya bisa menjalani proses itu secara wajar, apalagi banyak pegawai senior disitu yang dengan sabar dan ikhlas membimbing saya. Bekerja di lingkup pertanian, saya jadi tau banyak media pertanian yang masuk dan menjadi bacaan “wajib” bagi para pegawai disana, terutama para penyuluh pertanian yang pada waktu itu masih bergabung dalam instansi tempat saya bekerja. Sering membaca media pertanian, membuat minat saya untuk kembali menulis mulai muncul, dan kali ini saya mulai belajar menulis sesuatu yang riil dan serius. Tahun 1990an, hampir di semua kantor belum mengenal yang namanya komputer, yang ada hanya mesin ketik manual. Dengan memanfaatkan fasilitas mesin ketik milik kantor, saya mencoba kembali untuk menulis, kali ini bukan fiksi lagi tapi sudah menjurus kepada yang rada-rada “ilmiah” khususnya yang menyangkut dengan masalah pertanian.
Untuk menghasilkan satu tulisan saja, terkadang sampai menghabiskan puluhan lembar kertas, karena setiap kali selesai mengetik kemudian memeriksanya kembali, ada saja kekurangannya, entah itu salah ketik huruf, kelebihan huruf atau kekurangan huruf dalam kata atau kalimat yang saya tuls. Karena sistimnya masih manual, ya mau tidak mau, harus mengulang ketikan sampai beberapa kali sampai saya yakin untuk mengirmkan tulisan saya melalui jasa pos. Mungkin karena sudah terbiasa merangkai kata-kata menjadi kalimat, nyaris tidak ada kesultan ketika saya menulis, sehingga beberapa kali tulisan saya lolos di beberapa media pertanian, ada juga sih yang tidak lolos, tapi cuma sebagian kecil saja Ada yang membuat saya merasa terbantu dengan aktifitas menulis saya, yaitu ketika saya menerima kiriman wesel honor dari tylisan saya, maklum gaji saya sebagai pegawai yang baru di angkat waktu itu, masih jauh dari kata mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan masih jauh dibandingkan ketika saya bekerja serabutan dulu.
Namun semakin lama beban tugas saya di kantor semakin bertambah, seiring dengan bertambahnya masa kerja. Bertumpuknya beban tugas yang terkadang mesti diselesaikan secara lembur, menjadikan aktifitas menulis saya terhenti total sampai bertahun-tahun. Apalagi waktu itu saya sudah cukup menguasai perangkat komputer dan masih jarang pegawai yang punya skill seperti itu, otomatis saya jadi sering diminta membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan menjadi tugas saya, itu semakin membuat peluang dan waktu saya untuk melanjutkan hobi menulis semakin tipis.
Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa sudah 20 tahun saya bertugas pada Dinas Pertanian dan hampir semua ilmu tentang pertanian bisa saya kuasai meski hanya belajar secara otodidak. Era otonomi yang kemudian diterapkan di semua daerah, kemudian memunculkan instansi-instansi baru yang sebelumnya tidak ada. Para penyuluh pertanian yang semua menginduk pada Dinas Pertanian, kemudian diuatkan “rumah” baru berupa Badan Penyuluhan Kabupaten, dan semua penyuluh pertanian yang selama ini menjadi teman kerja saya, berpindah “home base”. Alhamdulillah, Tuhan mengaruniai saya intelegensia yang lumayan diatas rata-rata, itulah sebabnya selain punya skill di bidang teknis pertanian, saya juga punya kemampuan mengelola administrasi, apalagi saya memang pernah mendapatkan pelatihan beberapa kali di bidang administrasi.
Karunia Tuhan itu pulalah yang akhirnya membuat saya akhirnya “terdampar” pada Badan Penyuluhan kabupaten, meninggalkan Dinas Pertanian yang sudah lebih 20 tahun “membesarkan” saya. Tak butuh waktu banyak untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja baru, karena hampir semua teman kerja di tempat tugas baru adalah teman-teman lama saya di Dinas Pertanian. Hanya saja focus pekerjaan menjadi bergeser, dari masalah teknis menjadi maasalah sumber daya manusia. Sama seperti di tempata tugas lama, di instansi yang masih erat kaitannya dengan bidang pertanian ini, juga banyak media yang secara rutin dikirim ke instansi ini. Meski beban tugas saya tidak berkurang, tapi di tempat tugas baru saya jadi punya kesempatan lebih banyak untuk membaca. Ini yang kembali “mengusik” keinginan saya untyk kembali menulis, kebetulan ada beberapa media terbitan Kementerian Pertanian yang memberi peluang kepada public untuk mengirimkan tulisan-tulisan yang terkait dengan pertanian, penyuluhan dan ketahanan pangan. Namun keinginan untuk kembali menulis itu, agak tertahan, entah kenapa saya seperti kurang percaya diri untuk mengirimkan tulisan-tulisan saya, padahal dalam file saya, sudah banyak “tabungan” tulisan yang tersimpan disana.
Kembali eksis menulis
Mungkin sudah menjadi kebiasaan di negeri kita ini, kreatifitas terkadang muncul akibat keterpaksaan atau kondisi yang memaksa, begitu juga dengan “kebangkitan” saya untuk kembali menulis, juga erawal dari keterpakasaan atau lebih tepatnya tantangan yang diberikan kepada saya. Tahun 2013, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh yang merupakan instansi yang terkait hubungan vertikla dengan instansi tempat sya bekerja, menerbitkan sebuah media khusus bernama “Warta Pangan” yang khusus mengangkat masalah pertanian dan ketahanan pangan yang sejah beberapa tahun terkahir menjadi isu nasional. Entah dari mana redaksi media itu mendapat informasi tentang saya, tiba-tiba saja saya dihubungi oleh sekretaris redaksi yang meminta saya untyk menulis di media tersebut. Meski agak terkejut, saya akhirnya menjawab “tantangan” itu dengan menyatakan kesediaan saya untuk bergabung. Segera saya pilih file tulisan saya yang saya anggap relevan dengan misi media itu kemudian saya kirimkan via email. Sebenarnya saya tidak begitu berharap tulisan saya bisa dimuat, karena saya menganggap tulisan saya masih butuh banyak koreksi sebelum layak untuk ditayangkan.
Tapi diluar dugaan saya, hanya dalam tempo seminggu, naskah yang saya kirimkan langsung dimuat di media itu, saya malah baru tau kalau tulisan saya dimuat ketika saya ketemu seorang teman penyuluh dari kabupaten lain di Banda Aceh dalam sebuah pertemuan tingkat provinsi. Kembali ke daerah asal, saya segera mencari media berbentuk tabloid itu, nggak perlu susah-susah, karena satu eksemplar media itu sudah ergeletak di meha saya. Dimuatnya tulisan perdana saya, membuat semangat saya untuk menulis, kembali bangkit, saya kembali mencoba memperbaiki cara menulis saya, memperbanyak referensi dan investigasi lapangan supaya tulaisan yang saya buat agak berkualitas. Selanjutnya tulisan saya mulai “mengalir” ke media itu, namun itu tidak berlangsung lama, pergantian pimpinan di instansi provinsi itu juga berdampak pada “mati”nya media tempat saya menyalurkan tulisan-tulisan saya itu, sedih memang, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Sementara “Libido” menulis yang terlanjur bangkit, sepertinya sulit untuk dibendung lagi, dan itu butuh penyaluran. Saya jadi teringat pada media terbitan Kementerian Pertanian dimana pada tahun 1990an saya juga pernah menulis disana. Kalau dulu media itu berbentuk koran mingguan, kini sudah menjelma menjadi tabloid mingguan dengan tamilan yang lebih keren. Saya berfikir, ini bisa jadi media untuk menyalurkan hasrat menulis saya. Berbekal pengalaman menulis di media sebelumnya, akhirnya tulisan-tulisan saya kembali “mengalir” di media tersebut, dan saya tidak perlu sangsi, karena media yang sudah berusia 46 tahun itu memilki basic yang kuat sehingga kemugkinan untuk “dibekukan” sangat kecil, saya jadi merasa aman dan nyaman menuls disana.
Seringnya muncul tulisan saya di media pertanian itu, tanpa sadari akhirnya “dilirik” juga oleh beberapa media online di daerah, pengelola media itu kemudian mengajak saya bergabung untuk menulis di media tersebut. Meski secara financial boleh dibilang tidak memberikan keuntungan bagi saya, tapi saya menganggap media ini bisa jadi media untuk mengasah kemampuan menulis saya, dan akhirnya saya memutuskan untuk bergabung. Bukan hanya satu media online saja yang kemudian menjadi wahana penyaliuran tulisan-tulisan saya, ada beberapa media online yang kini menjadi tepat “mangkal” saya, termasuk media online milik pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi.
Perjalanan hidup saya, meski cukup berliku, tapi nyaris mengalir seperti air, semuanya terjadi seperti sebuah kebetulan, padahal kalai dikaji lebih dalam, semua itu sudah di ataur oleh Tuhan yang Maha Kuasa, kita tinggal menjalaninya. Begitu juga perkenalan saya dengan seorang pejabat daerah yang ternyata juga aktif menulis di media, kesamaan hobi itu mungkin yang membuat kami cepat akrab, padahal “strata” kami jauh berbeda. Beliaulah yang kemudian mengaak saya bergabung dengan media warga (Citizen Media) berskala nasional. Menulis di citizen media, ternyata jauh lebih mudah, sama persis dengan menulis di blog sendiri, tapi karena media ini berskala nasional, pembacanyanpun juga berasal dari bebagai kalangan dari seluruh pelosok negeri, itu kelebihannya. Menulis di citizen media ini, membuat penulis lebih cepat dikenal oleh banyak pembaca.
Mulai merasakan mafaat dan nikmatnya menulis
Saya jadi teringat ungkapan di awal tulisan, dan saya semakin meyakini kebenaran ungkapan itu. Berawal dari hobi membaca yang sudah terbina sejak kecil, akhirnya saya bisa tau tentang “dunia”, dan ketika hobi membaca itu saya manfaatkan untuk mendukung aktifitas menulis, ternyata kini nama saya mulai dikenal oleh banyak orang sebagai penulis. Sebagai pembanding, saya sudah bekerja sebagai pegawai negeri hampir 27 tahun dan saya hanya mengenal dan dikenal olehe lingkungan tempat kerja saya saja atau paling-paling “melebar” pada instansi yang ada kaitannya dengan tugas saya. Berbeda jau dengan aktifitas menulis, meski saya baru aktif kembali menulis sekitar 3 tahun, namun mungkin sudah ribuan orang mengenal saya dari tulisan-tulisan saya di berbagai media, itu yang saya rasakan. Karena saya sering menerima telepon dari unindentificati number dan setelah menyambung ternyata merke ingin kontak langsung setelah mengenal nama saya dari tulisan yang mereka baca di media.
Kalau awal-awal saya kembali “terjun” ke dunia menulis, saya tidak pernah punya “mimpi” untuk bisa dikenal banyak orang, karena pada waktu itu yang penting bagi saya tulisan saya bisa dimuat di media dan dibaca orang, tak lebih dari itu. Namun tanpa saya sadari, ternyata nama yang selalu melekat dalam setiap tulisan saya yang dimuat di media, telah membuka wahana baru bagi saya untuk terlibat, mengenal dan dikenal oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Itulah sebabnya saya masing sering terkejut ketika ada seseorang mengundang saya untuk mengikuti workshop, seminar atau menjadi nara sumber pelatihan yang ada kaitannya dengan kegiatan menulis.
Meskipun mengajar atau menyampaikan materi dalam pelatihan itu bukan hal baru bagi saya, karena saya sudah sering mengajar dalam pelatihan-pelatihan peani sesuai bidang tugas saya, namun menjadi pembicara atau nara sumber dalam sebuah diklat, tentu masih terlalu awam bagi saya. Terkadang saya merasa “minder” dengan tingkat pendidikan saya yang cuma tamatan SMA, namun ketika saya kembali kepada hakikat bahwa ketika kita punya ilmu atau pengalaman meski hanya secuil, kita wajib berbagi, maka rasa percaya diri saya kembali muncul sedikit demi sedikit, apalagi pihak-pihak yang mengajak saya tidak pernah mempermasalahkan ijazah yang saya miliki, tapi ilmu dan pengalaman saya itulah yang merka butuhkan. Disitulah saya mulai menyadari, inilah mugkin hikmah adari aktifitas saya menulis selama ini.
Seperti yang terjadi beberpa hari yang lalu, saya dihubungi oleh Kepala Balai Diklat Pertanian Aceh yang meminta saya untuk menjadi nara sumber untuk menyampaikan materi tentang teknis menulis di media bagi penyuluh pertanian. Awalnya saya merasa ragu apakan saya mampu, tapi karena saya menganggap itu sebagai sebuah tantangan yang harus saya “taklukkan”, akhirnya saya terima tawaran itu. Mengajar di Bali Diklat sebenarnya butuh criteria tertentu, tapi ternyata hanya berbekal pengalaman menulis di media, saya bisa dapat “wild card” untuk bisa mengajar ditempat yang memang khusus sebagai tempat penyenlenggaraan berbagai diklat itu. Meskipun harus berhadapan dengan penyuluh-penyuluh pertanian senior dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari saya, tapi Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan semua peserta cukup antusias menerima materi dari saya. Bahkan beberapa peserta yang sepertinya sudah “terpancing” minatnya untuk menulis, sampai “mengejar” saya ke mess tempat saya menginap minta diajari praktek langsung bagaimana menulis atau mengirim tulisan di media, Tentu ini menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan saya, karena selain saya bisa berbagi sedikit ilmu dan pengalaman, merke juga menghargai apa yang sudah saya lakukan tanpa melihat latar elakang pendidikan saya yang tidak seberapa itu.
Menulis sekitar tiga tahun dengan menerbitkan sebuah buku serta lebih seratus artikel di media cetak dan delapan ratusan artikel di berbagai media online tentu bukan sebuah prestasi luar biasa, karena masih banyak orang lain yang bisa melakukan lebih dari itu. Bahkan sejauh ini saya belum berani “memproklamirkan” diri sebagai penulis, saya lebih sering menyebut diri saya sebagai seorang “contributor”. Tapi apapun, saya tetap bersyukur dengan apa yang sudah saya jalani selama ini, bahkan saya mulai bisa menikmati aktifitas menulis saya, dan selama saya masih mampu menulis, mungkin saya tidak akan berhenti menulis. Selain sekarang saya bisa merasakan kalau saya mulai banyak dikenal orang, banyak manfaat dan hikmah dari menulis ini. Secara finasial jelas, ada perasaan senang ketika menerima kiriman honor dari media yang bisa buat “meyambung” gaji saya sebagai pegawai dengan pangkat dan golongan “rendah”, tapi bukan itu satu-satunya tujuan saya menulis.
Ada sebuah kepuasan batin yang tidak ternilai dengan apapun, ketika tulisan saya kemudaian dibaca banyak orang dan bermanfaat bagi orang lain, apalgi jika dampak tulisa saya itu juga langsung memberi manfaat bagi orang lain. Contoh kecil, ketika saya mengangkat seorang petani penangkar benih cabe dalam tulisan yang dimunat di sebuah media nasional, kemudian banyak pihak yang mencari tau keberadaan petani tersebut untuk menjalin kerjasama pengadaan benih, itu artinya ada manfaat bagi orang lain sebagai efek dari tulisan saya, hal seperti inilah yang melahirkan keuasan batin bagi saya dan itu tidak bisa dinilai dengan apapun. Begitu juga ketika saya menulis tentang kiprah seorang penyuluh pertanian yang punya inovasi memnafaatkan limbah buah-buahan menjadi pupuk cair yang akhirnya dilirik oleh sebuah stasiun televise swasta untuk diangkat dalam sebuah tayangan, ada kepuasan dalam hati saya, ketika penyuluh, petani dan potensi pertanian di daerah saya terngakat ke ancah nasional, dan tentunya bakal berdampak pada perekonomian daerah. Meski dalam sistim birokrasi, saya bukanlah siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya, tapi setidaknya saya pernah punya andill kecil untuk daerah saya, dan semua berawal dari aktifitas menulis saya.
Diundang menjadi nara sumber atau pemateri dalam sebuah Diklat, tentu sebuah kehormatan agi saya, karena kalau melihat status kepegawaian saya yang cuma selevel “pesuruh”, rasanya tidak mungkin ada pihak yang mau mengundang saya sebagai nara sumber, tapi berkat aktifitas menulis yang saya geluti salama ini, akhirnya sesuatu yang sepertinya mustahil itupun bisa menjadi mungkin. Honor dan uang jalan tentu sudah didepan mata dan nominalnya pun lumayan besar setiap kali saya diundang untuk mengajar, tapi telalu naïf jika saya tertarik memenrima tawaran mengajar hanya karena honor dan uang jalan semata, ada hikmah dan manfaat lebih besar yang bisa saya petik dari situ yang tidak bisa dinilai dengan materi. Seperti ketika saya “mengajar” di Balai Diklat kemarin, tanpa sengaja saya ketemu seorang pejabat dari Kementerian Pertanian yang juga diundang ebagai nara sumber. Dari bincang-bincang dengan beliau, akhirnya beliau tau kalau saya sering menulis di media milik Kementerian Pertanian, beliau begitu mengapresiasi apa yang sudah saya lakukan. Begitu juga ketika saya memberikan sebuah buku saya kepada beliau, hanya sekilas beliau membuka-buka buku saya, beliau langsung memberikan respon positif, bahkan beliau langsung menawarkan diri sebagai donator kalau saya ingin menerbitkan buku saya berikutnya. Hal seperti itu tentu diluar dugaan saya, dan itulah yang saya maksud seagai hikmah dan manfaat yang tidak bisa dinilai dengan materi. Kepedulian seorang pejabat tinggi terhadap seorang pegawai rendahan seperti saya, tentu sebuah anugrah yang tidak ternilai.
Begitupun dengan Kepala Balai Diklat, setelah melihat saya menyampaikan materi kepada peserta, beliau juga langsung merespun dengan meminta kesediaan saya untuk kembali menjadi pemateri dalam diklat-diklat yang akan datang, tentunya yang terkait dengan pengalaman saya menulis di media, itu juga merupakan berkah yang tidak ternilai, dan disitulah saya mulai menyadari bahwa kreatifitas dan karya sekecil apapun, pasti suatu saat aka nada yang menghargainya.
Mengawali aktifitas menulis dengan perjuangan dan pengorbanan, menjalaninya dengan ikhlas dan sabar, termasuk ketika mengahadapi tatap sinis dari pihak-pihak yang tidak menghargai arti sebuah karya, akhirnya kini saya mulai merasakan nikmatnya menulis. Sebuah kenikmatan abstrak yang tidak ternilai, yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh oarng-orang yang punya kreativitas dan mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain, karena kepuasan batin itu letaknya dalam hati bukan pada materi. []






