Redelong-LintasGayo.co : Konflik manusia dan gajah yang terjadi di Bener Meriah khususnya di Kecamatan Pintu Rime Gayo pada tiga tahun terakhir yang telah menimbulkan korban jiwa sebanyak tiga orang, telah menjadi perhatian khusus berbagai pihak. Baik dari pihak pemerintah kabupaten Bener Meriah sebagai penanggung jawab wilayah yang meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia, maupun elemen lain sebagai agen kontrol sosial dan masyarakat sebagai pihak yang secara langsung berhadapan dengan gajah.
Banyak upaya teknis dan strategis yang telah diupayakan oleh pemerintah kabupaten Bener Meriah dalam meminimalisir konflik antara manusia dan gajah, khususnya, serta konflik manusia dengan satwa liar lain pada umumnya.
Upaya teknis yang telah dilakukan, bekerja sama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam, adalah mendirikan Concervation Response Unit (CRU) di Kampung Negeri Antara, khususnya wilayah Sayeng, untuk bisa menanggulangi datangnya gajah liar baik yang datang secara kelompok maupun secara menyendiri (solitaire).
Upaya strategis yang sedang diinisiasi oleh pemerintah kabupaten adalah menyediakan lahan 100 hektare di daerah Blang Rakal, khususnya di wilayah Jalung hingga Sayeng di Negeri antara.
Penyediaan lahan ini menjadi sebuah langkah strategis untuk membuat koridor gajah sehingga upaya mitigasi konflik masyarakat dan gajah dapat dilakukan. Langkah strategis ini sudah diusulkan langsung oleh Pemkab Bener Meriah kepada pemerintah pusat, khususnya kepada Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Direktur Bina Program Ekosistem Esensial (BPEE) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Antung Deddy Radiansyah dalam kesempatan Sosialisasi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang dilaksanakan di Op-Room Pemkab Bener Meriah, Selasa 18 Muharram mengapresiasi langkah yang dijalankan oleh Pemkab Bener Meriah.
“Langkah Pemkab Bener Meriah merupakan satu-satunya yang pernah dilakukan di Indonesia, di mana Pemkab langsung menawarkan lahan untuk dijadikan kawasan konservasi,” cetus Antung.
Ungkapan Direktur BPEE Kementrian LHK ini disambut applause para peserta.
Ir. Antung Deddy Radiansyah, MP juga berharap semoga Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang khusus mengenai koridor gajah dapat segera ditindaklanjuti oleh semua elemen sehingga dicapai kesepahaman dan kesepakatan.
“Kita harapkan upaya mitigasi konflik masyarakat dan gajah dapat dijalankan di wilayah Kabupaten Bener Meriah serta dua kabupaten lain yang menjadi home range gajah, yaitu Aceh Tengah dan Bireuen,” tandas Antung.
Acara ini dibuka oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Drs Mukhlis mewakili Plt Bupati Bener Meriah yang sedang dalam tugas lain.
Dihadiri oleh berbagai stakeholder di bidang lingkungan hidup dan konservasi. Juga dihadiri oleh tokoh masyarakat dari Kecamatan Pintu Rime Gayo dan pihak LSM di wilayah kerja Bener Meriah. (IA |Kh)





