Ketika Cinta Belum Tepat Waktu

oleh

[Cerpen] Bagian 1

Muhammad Haqqi

rps20161006_052532_120ASSALAMUALAIKUM warahmatullahi wabarakatuh. Saya ingin sedikit bercerita tentang apa yang pernah saya alami di rantau.

Waktu itu adalah waktu terbaik
Waktu itu adalah waktu terburuk
Waktu itu adalah era kebijaksanaan
Waktu itu adalah era kebodohan

Saat itu saya dinyatakan lulus dan diterima di Sekolah Tinggi Telkom University Bandung, alhamdulillah diterima di Fakultas Tehknik Elektro jurusan Tehknik Telekomunikasi.

Tanggal 1 Agustus 2016 saya mulai menempati asrama Telkom University dan beradaptasi dengan orang yang datang dari berbagai daerah. Kami saling memperkenalkan diri dan saling bertanya apa perbedaan dan keunikan antar suku dan lain sebaginya.

Enam hari berlalu kami diproses untuk pengenalan kawasan kampus. Seluruh mahasiswa/i baru mulai mempelajari apa yang harus dilakukan, sambil menunggu waktu untuk mulai masuk mata kuliah.

Tanggal 22 Agustus kami mulai bertemu dengan dosen-dosen, kami saling memperkenalankan diri  satu per satu, dan saya merasa ada yang hambar di hari-hari yang saya lalui.

Waktu itu saya merasa butuh sesuatu dalam hidup, hingga pada hari Minggu tanggal 11 September 2016  saya melihat dan bertanya kepada teman-teman  yang ada di kampung halaman.

“Adakah seorang wanita yang berasal dari tanah kita (tanah Gayo) yang bersekolah di kota Bandung ?”

Saat itu saya hanya melihat-lihat di sebuah aplikasi handpone, dan kemudian menemukan seorang wanita yang begitu indah dipandang, namanya Aulia Agustina. Kemudian saya mengajak wanita itu untuk menyudikan diri berkenalan, walaupun hanya lewat sebuah aplikasi. Dan diterima. Saya kira tidak. Banyak orang berkata

“Masak pilih orang Gayo di Bandung kan banyak yang lain”.

Banyak juga yang  mengatakan

“Enaklah punya pacar satu kampung”.

Bagi saya cinta tidaklah memilih asalnya, tapi cinta memilih hati. Singkat cerita akhirnya kami pun berteman dua minggu lima hari lamanya,  dari awal melihat foto-fotonya saya berkata dalam hati, “saya menyukai wanita ini”. Saya  pun bertanya kepada teman-teman  tentang bagaimana dia di sana. Mereka terkejut kenapa kami bisa berteman,  dan saya mencoba untuk menyempatkan diri bagaimana caranya agar kami bisa bertemu.

Pada hari Selasa tanggal 12 September saya mengajak dia bertemu di sebuah caffee yang tidak jauh dari rumahnya. Ia ini karena kami sadar kami belum ada kendaraan, tapi di sana dia sedang bertemu dengan orang tuanya. Dan saya tidak mungkin melarang. Tapi saya belum putus asa, saya masih penasaran, pada hari Senin  tanggal 26 September 2016 sepulang dari kampus saya mengajaknya ke suatu tempat, tapi dia menolak karena hari semakin larut malam. Saya mengerti dan memaklumi itu, hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk bertamu ke rumahnya. Kami pun akhirnya bertemu, bercanda-tawa, bercerita tentang apa yang kami kerjakan selama berada di kota besar, kota rantau, kota Bandung.

Beberapa hari kemudian kami hanya berhubungan melalui sebuah aplikasi handfone, saling mengingatkan, saling betukar perntanyaan. Saya nekat meminta restu kepada bundanya (munurut saya itu hal yang benar) dan sebagai lelaki sejati harusnya berani melakukan itu.

Alhamdulillah bundanya mengizinkan saya untuk berteman dekat dengan anaknya. Kata bundanya

“Haqqi tolong jaga Aulia ya, jangan sampai dia salah pergaulan disana ya, dan Haqqi tahukan apa saja batas-batas orang yang masih berpacaran”, jelas bunda Aulia.

Lalu saya menjawab

“Ya bun, saya tau itu. Saya tidak mungkin mempermalukan orang tua Aulia dan orang tua saya bun”.

Pada hari Kamis tanggal 29 September 2016 saya menyatakan perasaan kepada seorang wanita yang saya kenal sebagai teman, yang saya anggap sebagai teman dari teman saya. Telah saya jadikan dia sebagai kekasih, saya “menembaknya” dengan menggunakan sekuntum bunga mawar dan selembar surat di dalamnya. Saya berharap hubungan ini adalah hubungan yang terakhir.

Saya meperhatikan setiap pesan untuk dia dan sebaliknya, saya juga membuat sebuah lukisan yang mungkin belum pernah membuatkannya kepada orang lain. Yang ini  khusus untuk dia. Rencana saya, juga rencananya dia. Kami akan membuat bingkai untuk lukisan itu. Pada awalnya semua berjalan dengan baik-baik saja, dan saya bangga pada diri saya karena telah mendapakan seorang gadis yang mungkin orang lain tidak bisa dapatkannya.

Tetapi dikemudian hari pada Senin tanggal 2 Oktober jam menunjukkan pukul  20:23 terasa kalau pesan-pesannya mulai kurang. Pesan-pesannya mulai singkat, ungkapan yang biasa dia ucapkan mulai memudar. Perhatiannya juga mulai hilang, saya tidak tau apa yang ada dalam pikirannya, saya merasa seperti ada yang mengganjal atau menghalangi hubungan kami.

Malam itu saya sempat menuliskan surat di selembar kertas kosong dengan sepotong dua potong cokclate di dalamnya, dan dikarenakan saya sedang berada di asrama dan akhirnya surat dan cokclate itu saya titipkan kepada seorang teman untuk mengantarkannya. Dia menerimanya.

Saya sempat melakukan perbuatan yang menurut saya itu kocak alias lucu. Tapi saat saya mendengar kata- kata itu keluar dari mulut seorang wanita yang ingin menjadi wanita sungguhan kepada saya, dan saya sempat berpikir dan merasa bahwa saya tidak dihargai sama sekali. Malam itu juga saya sempat membangunkan dia dari tidurnya pada pukul 02:07, saya hanya bertanya

“Udah tidur belum?”

Rupanya dia sudah tidur. Tapi kemudian saya terkejut pesan saya dibalas. Saya bertanya “Kok bangun ?”

“Suara handfone ni ribut kali !”.

Saya pun meminta maaf. Saat itu saya hanya ingin membuatnya senang, tapi mungkin cara saya salah. Meski demikian saya sudah berusaha untuk membuat dia tertawa, dan ternyata tidak. Saya salah.

Keesokan harinya Selasa tanggal 4 Oktober 2016, waktu menunjukan  jam 10:10 handfone berbunyi, saya mengira itu dia, rupanya abang saya yang menelfone yang menyatakan agar segera membalas pesan-pesannya di instagram.  Sebelumnya saya berharap dia yang membangunkan tidur untuk shalat subuh dan dia yang membangunkan menyambut pagi yang indah ini, tapi ternyata bukan dia. (Bersambung). [SY]

Muhammad Haqqi adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Telkom University Bandung kelahiran tanah Gayo. Cerita di atas diangkat dari kisah nyata penulis.

*Dikurasi dari naskah dan judul semula “CINTA YANG BELUM TEPAT PADA WAKTU NYA UNTUK DI SAMPAIKAN”

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.